ILUSTRASI Pada zaman Nabi Musa AS, ada kisah tentang seorang perampok dan ahli zikir. | DOK WIKIPEDIA
19 Sep 2021, 09:07 WIB

Jawaban Nabi Musa yang Mengejutkan

Betapa mengejutkannya jawaban Nabi Musa AS itu. Allah SWT melihat pada keikhlasan hamba.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Nabi Musa AS merupakan salah seorang utusan Allah SWT. Rasul yang mengajarkan syariat kepada Bani Israil itu termasuk kalangan Ulul Azmi. Ketabahan dan kesabarannya menjadi inspirasi bagi kaum beriman, hingga saat ini.

Riwayat hidupnya diwarnai perjuangan untuk menegakkan kalimat tauhid. Dakwahnya kepada Firaun tidak kenal henti. Hingga kemudian, penguasa Mesir itu memburu Nabi Musa AS dan Bani Israil. Allah Maha Berkehendak. Penguasa yang mengaku-aku sebagai tuhan itu akhirnya mati ditelan Laut Merah.

Terkait

Lepas dari bayang-bayang kekejaman Firaun, perjalanan Nabi Musa AS masih berlanjut. Ia terus membimbing kaumnya agar teguh beriman. Sementara itu, pelbagai pelajaran juga diserap beliau melalui berbagai pengalaman atau juga pengetahuan-pengetahuan yang disingkapkan Allah Ta’ala untuknya.

Satu kisah berikut ini memberikan hikmah tentang makna ketakwaan. Jauh dekatnya seorang hamba tidak bisa dinilai hanya dari penampilan. Prasangka manusia masih terlalu dini untuk menilai hati.

Pada suatu hari, terdapat seorang musafir muda. Remaja ini sedang dalam perjalanan menuju Nabi Musa AS untuk menerima ajaran tauhid. Tak disangkanya, ia berjumpa dengan seorang tua yang buta. Tidak hanya tanpa penglihatan, orang lanjut usia (lansia) ini juga tidak memiliki tangan dan kaki.

Bagaimanapun, pemuda itu tetap menatapnya kagum. Sebab, lisan orang tua ini tidak henti-hentinya menggumamkan zikir. Dari mulutnya, keluar lafazh puja-puji ke hadirat Ilahi.

Saat mendekatinya, musafir remaja ini mendapati sesuatu yang menakjubkan. Banyak semut hilir-mudik membawa butir-butir makanan dari tanah. Hewan kecil ini merembet ke sekujur tubuh orang tua ini. Ke dalam mulut sang ahli zikir, mereka menaruh makanan itu.

 
Saat mendekatinya, musafir remaja ini mendapati sesuatu yang menakjubkan. Banyak semut hilir-mudik membawa butir-butir makanan dari tanah.
 
 

“Ternyata begitu caranya mendapatkan rezeki,” katanya dalam hati.

“Wahai anak muda,” ujar lansia ini, “engkau tadi bercerita hendak bertemu dengan Nabi Musa. Aku titip pertanyaan untuknya. Tanyakanlah kepadanya, seperti apa bagus dan indahnya surga yang Allah siapkan untukku? Sebab, aku setiap hari beribadah, berzikir, dan menyebut nama-Nya.”

“Baiklah, akan kusampaikan kepada Nabi Musa,” sahut pemuda itu.

Sesudah pamit, ia pun meneruskan rihlahnya. Di tengah jalan, ia diadang seorang perampok. Sempat ketakutan, remaja ini kemudian memberitahukannya; bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju Nabi Musa.

Dan lagi, ada amanah dari seorang kakek tua dan lumpuh yang harus disampaikannya kepada sang nabi. Mendengar penuturannya, si perampok menjadi iba. “Wahai anak muda, tanyakan juga kepada Nabi Musa, aku pantas masuk surga? Sementara, dosa-dosaku sangat banyak. Aku telah membunuh banyak jiwa, merampok begitu banyak orang. Apakah aku akan diampuni-Nya?” pinta lelaki ini.

“Baiklah, aku anggap ini sebagai amanah darimu,” katanya.

Maka bertemulah remaja ini dengan Nabi Musa AS. Saudara Nabi Harun AS itu kemudian bersabda, “Orang tua yang buta itu akan masuk neraka, sedangkan perampok jahat yang insaf itu akan masuk surga, insya Allah.”

Betapa mengejutkannya jawaban Nabi Musa AS itu. Mengertilah pemuda ini bahwa Allah SWT melihat pada keikhlasan seorang hamba. Bukan pada anggapan manusia, seberapa banyak ibadahnya, “sebusuk” apa perbuatannya di masa lalu.

Kisah ini termuat dalam Nashaihul Ibad karya Syekh Syihabuddin Ibnu Hajar al-Asyqalani.


×