Masjid Selat Melaka, Pesona yang Terapung | DOK Wikipedia
19 Sep 2021, 08:00 WIB

Masjid Selat Melaka, Pesona yang Terapung

Saat air laut pasang, bangunan Masjid Selat Melaka seakan-akan sebuah bahtera.

OLEH HASANUL RIZQA

 

Selat Malaka membentang sepanjang 500 mil di antara bagian barat Semenanjung Malaya dan Pulau Sumatra. Posisi yang strategis itu menjadikannya sebagai salah satu kawasan perairan tersibuk di dunia. Kini, selat tersebut merupakan salah satu jalur perdagangan yang penting, khususnya bagi tiga negara, yakni Indonesia, Malaysia, dan Singapura.

Tidak hanya nuansa ekonomi, hiruk-pikuk kesibukan di Selat Malaka juga diwarnai pesona keindahan yang menarik hati wisatawan. Salah satu daya tarik itu ialah Masjid Selat Melaka atau Malacca-Strait Mosque. Bangunan itu berdiri dengan anggunnya di pesisir selat tersebut. Tepatnya pada sebuah pulau buatan yang termasuk kawasan Pantai Bandar Hilir, Negara Bagian Melaka, Kerajaan Malaysia.

Terkait

Masjid berkubah warna emas dan biru itu dibuka untuk umum sejak 24 November 2006. Peresmiannya dilakukan oleh raja Malaysia saat itu, Yang Dipertuan Agong Tuanku Syed Sirajuddin Syed Putra Jamalullail. Pembangunan tempat ibadah ini menelan dana hingga 10 juta ringgit Malaysia dari kas Pemerintah Negara Bagian Melaka.

Berdiri di atas tiang-tiang pancang fondasi yang kokoh, Masjid Selat Melaka menawarkan keelokan yang cukup unik. Saat air laut pasang, masjid itu akan tampak seolah-olah terapung. Konon, inspirasi pendirian tempat ibadah itu berasal dari masjid terapung yang ada di Jeddah, Arab Saudi.

Pengunjung dapat menyaksikan keanggunan Masjid Selat Melaka bahkan dari kejauhan. Bangunan itu berbalut warna putih yang mendominasi terutama bagian dindingnya. Sementara, kubahnya yang keemasan berpadu dengan warna biru laut. Bila dibayangkan tanpa kubah, keseluruhan kompleks tersebut lebih menyerupai sebuah benteng, alih-alih masjid.

photo
Masjid Selat Melaka. Ini merupakan salah satu masjid apung yang paling populer di dunia. - (DOK FLICKR)

Pada ujung keempat sisinya, terdapat konstruksi yang mirip menara benteng Portugis. Kesan itu tidaklah janggal. Sebab, Melaka pada abad silam pernah dijajah bangsa Eropa tersebut. Banyak pula peninggalan orang-orang Portugis di negara bagian itu.

Rona akulturasi yang terlihat di Masjid Selat Melaka tidak hanya dari budaya Melayu dan Eropa. Ada pula elemen-elemen kultural Tiongkok di sana. Itu tampak dari, umpamanya, bagian atap pada masing-masing pojok masjid tersebut yang seakan-akan “benteng” Portugis. Warna budaya Turki Utsmaniyah juga hadir, khususnya pada bagian menara.

photo
Masjid Selat Melaka, Pesona yang Terapung - (DOK Wikipedia)

Yang cukup menarik adalah, menara tersebut berada agak jauh dari bangunan utama masjid ini. Antara keduanya dipisahkan oleh sebuah jembatan. Artinya, menara itu berdiri di atas daratan. Sementara, nyaris keseluruhan masjid seluas 1,8 hektare itu berada di atas air laut.

Menara dibuat menjulang tinggi menyerupai bentuk pensil raksasa. Itulah ciri khas menara dengan gaya arsitektur Utsmaniyah. Seperti bagian pintu pada bangunan utama, di sana terdapat ornamen melengkung pada sisi-sisinya. Ornamen serupa juga terdapat di bagian teras bawah menara. Menjulang setinggi 30 meter, menara ini tidak hanya berfungsi untuk mengumandangkan azan, tetapi juga mercusuar. Pada pucuknya, terpancar cahaya yang bisa memandu kapal-kapal di Selat Malaka.

Pada bagian depan masjid, ada sebuah taman kecil yang denahnya melingkar. Untuk memasuki Masjid Selat Melaka, jamaah atau pengunjung harus terlebih dahulu melewati jembatan di dekat menara. Begitu sampai di ujungnya, mereka bisa langsung terhubung dengan beranda masjid.

photo
Tampak depan bangunan utama Masjid Selat Melaka. - (DOK WIKIPEDIA)

Pada dinding luar masjid, terdapat hiasan atap persegi panjang. Bentuknya agak menjorok ke dalam. Atapnya dibuat berlapis dua, yakni pada sisi atas dan bawah. Antara atap atas dan bawah tertutupi dinding kaca patri berwarna-warni. Selain berfungsi dekoratif, kaca tersebut juga berperan sebagai jalan masuknya cahaya pada siang hari. Karena masjid berada di atas laut, pantulan dari kaca hias itu bisa memancarkan kilauan permukaan air laut.

Jamaah seolah-olah berada di dalam bahtera saat di dalam bangunan Masjid Selat Melaka. Hampir seluruh bagian dinding dilengkapi dengan jendela. Pengunjung pun bisa melayangkan pandangan ke luar, pada hamparan laut nan biru.

Tak hanya siang. Cantiknya masjid ini juga bisa dinikmati ketika malam turun. Saat hari beranjak gelap, cahaya lampu dari dalam masjid akan memancar keluar melalui kaca patri. Mengikuti warna kaca patri, cahaya yang menembus ke luar pun berwarna-warni.

photo
Masjid Selat Melaka, Pesona yang Terapung - (DOK Wikipedia)

Masjid Selat Melaka dilengkapi dengan alat untuk memantau ketinggian air. Pos pemantauan pasang surut air laut didirikan di dekatnya. Secara fisik, tempat ibadah ini memang mempesona. Namun, ada sebersit kekhawatiran terhadap terus naiknya permukaan air laut di Selat Malaka. Salah satu penyebabnya ialah perubahan iklim global.

Masjid Selat Melaka memiliki denah sederhana berbentuk bujur sangkar dengan susunan simetris. Mengelilingi ruang internal adalah dek perimeter sebagai akses bagi pengunjung untuk mengelilingi bangunan utama. Di sana pula, mereka dapat menikmati pemandangan dan semilir angin laut.

photo
Tampak pemandangan Selat Melaka dari masjid. - (DOK Wikipedia)

Gambar arsitektur unik Masjid Selat Malaka dicapai dengan penggabungan desain lengkungan ganda sama sisi. Gerbang lengkung sama memiliki fitur keberlanjutan arsitektur, seperti extrados yang runcing serta menonjol. Selain ornamen, fungsinya juga melindungi bagian interior bagunan dari terpaan sinar matahari.

Tidak hanya tempat mendirikan shalat, Masjid Selat Melaka juga menjadi destinasi wisata yang terkenal di seantero Malaysia dan Asia Tenggara umumnya. Banyak turis yang menyambangi masjid dengan daya tampung hingga dua ribu orang jamaah ini. Tentunya, masjid terapung itu menjadi semacam oase di tengah hiruk-pikuk kota pelabuhan. Dan, inilah ikon Islam di tengah kemajemukan Melaka.


×