Ustaz Abdullah Said. Sejak belia, pendiri ormas Hidayatullah ini sudah menekuni syiar Islam. | DOK lpp hidayatullah
19 Sep 2021, 07:45 WIB

Ustaz Abdullah Said, Sang Pejuang Dakwah

Sejak Ustaz Abdullah Said belia, pendiri ormas Hidayatullah ini sudah menekuni syiar Islam.

OLEH HASANUL RIZQA

 

 

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang. Peribahasa itu menunjukkan, untuk seseorang yang gemar berbuat baik, ketika meninggal dunia, kebaikannya akan selalu dikenang. Ungkapan itu kiranya tepat untuk mendeskripsikan Ustaz Abdullah Said.

Terkait

Pendiri organisasi masyarakat (ormas) Islam Hidayatullah itu mencurahkan nyaris seluruh usianya di jalan dakwah. Sejak masih muda, dirinya telah menghayati makna amalan ikhlas lillahi ta’ala. Karena itu, tidak ada kata lelah dan menyerah dalam visi hidupnya untuk menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

Ia lahir dengan nama Muhsin Kahar. Tanggal lahirnya bertepatan dengan hari kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Desa Lamatti Rilau, Kecamatan Sinjai Utara, Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, menjadi tempat pertamanya menghirup udara dunia.

Seperti umumnya para pejuang dakwah, ia berasal dari keluarga ulama. Ayahnya, Abdul Kahar Syuaib, merupakan dai sekaligus imam kampung setempat. Masyarakat lokal memanggilnya dengan gelar Puang Imang. Adapun ibundanya, Aisyah, kerap disapa Puang Ica.

Saat berusia 10 tahun, Muhsin Kahar alias Abdullah Said hijrah ke Makassar, mengikuti bapaknya. Anak ketiga dari empat bersaudara itu menjalani kehidupan yang penuh tantangan di tanah rantau. Sebab, Puang Imang saat itu belum memiliki sumber penghasilan tetap.

Sebelum hijrah ke Makassar, Abdullah Said hanya sempat menyelesaikan pendidikan sekolah dasar hingga kelas tiga. Selanjutnya, level pendidikan itu dilanjutkannya di kota tersebut, tepatnya pada Sekolah Rakyat Nomor 30. Tidak hanya selalu naik kelas, anak dari Desa Lamatti Rilau itu juga kerap menduduki peringkat teratas. Dibandingkan para murid lainnya, ia memang memiliki tingkat kecerdasan dan kerajinan di atas rata-rata.

Lulus dengan predikat terbaik, Abdullah pun lebih leluasa dalam memilih sekolah favorit. Pilihannya jatuh pada sekolah agama, yakni Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN). Tiap pelajar di sini mendapatkan ikatan dinas sekira enam tahun.

Selesai dengan jenjang pendidikan itu, ia pun meneruskan ke Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Alaudin Makassar. Menjadi mahasiswa di sana, dirinya tidak mengeluarkan biaya sedikitpun karena memperoleh beasiswa. Namun, Abdullah hanya “tahan” dua semester di kampus tersebut. Sebab, ia merasa tidak memperoleh ilmu baru di bangku kuliah. Antara energi dan waktu yang dikeluarkan dan hasil yang didapat dianggapnya tidak sebanding.

 
Begitu keluar dari IAIN, dirinya menempuh studi otodidak. Ia makin lahap membaca banyak buku, terutama yang bertema agama Islam.
 
 

Begitu keluar dari IAIN, dirinya menempuh studi otodidak. Ia makin lahap membaca banyak buku, terutama yang bertema agama Islam. Di antara para penulis favoritnya ialah Buya Hamka, A Hassan, M Isa Anshari, dan M Natsir. Banyak majelis kajian didatanginya dalam masa rihlah keilmuan nonformal ini. Begitu pula dengan masjid-masjid, tempatnya menimba ilmu dan hikmah dari sejumlah alim.

Ada banyak ulama yang menjadi gurunya. Salah satunya ialah KH Abdul Djabbar Asyiri, seorang pendiri Pondok Pesantren Darul Arqam Gombara Makassar dan juga pengurus Muhammadiyah. Darinya, ia menekuni dunia ilmu hadis. Guru lainnya adalah Abdul Malik Ibrahim, mantan Direktur PGAN Makassar, yang mengajarinya ilmu penguasaan bahasa Arab. Adapun KH Ahmad Marzuki Hasan, sang pendiri Ponpes Darul Istiqamah Maccopa Maros, menjadi mentornya dalam bidang ’Ulumul Qur’an.

Semangatnya dalam menuntut ilmu membuatnya senang merantau dari satu daerah ke daerah lain. Salah satu daerah tujuannya ialah Ponorogo, Jawa Timur. Di sana, ia menyambangi Pondok Modern Gontor walaupun hanya sepekan. Selanjutnya, Abdullah menuju ke Pondok Pesantren Persis Bangil, tempatnya bertukar pikiran dengan Ustaz Mansyur Hassan. Berkat persahabatannya dengan putra ulama Persatuan Islam (Persis) A Hassan itu, ia kerap diundang untuk menjadi khatib di masjid-masjid Persis.

Tiga bulan berikutnya, ia menyempatkan diri ke Jakarta untuk menimba ilmu dari sejumlah tokoh Muslim setempat. Barulah kemudian, dirinya kembali ke Sulawesi Selatan. Kepulangannya didasari kesadaran bahwa kini telah siap untuk mulai berdakwah.

Dirikan Hidayatullah

Kedatangan Ustaz Abdullah Said dari Jakarta bukanlah titik nol baginya dalam dunia dakwah. Sebab, sejak remaja dirinya sudah terjun dalam menyiarkan Islam di tengah masyarakat. Saat masih berusia 13 tahun, putra Puang Imang Abdul Kahar Syuaib itu sudah berkali-kali mengisi khutbah jumat di berbagai masjid Kota Makassar.

Ia pun berpengalaman aktif di berbagai ormas Islam. Saat masih berstatus murid PGAN Makassar, dirinya tercatat sebagai anggota Pelajar Islam Indonesia (PII). Mulai saat itu, namanya kian dikenal sebagai tokoh muda Muslim yang anti-komunis.

Memang, pada era 1960-an Indonesia dilanda situasi sosial-politik yang cukup panas, di mana kaum religius-nasionalis kerap “diserang” para pengibar panji komunisme. Tak mengherankan bila hingga masa dewasanya, sang ustaz sangat dekat dengan tokoh-tokoh Masyumi.

Sejak 1966, Ustaz Abdullah berkiprah di Muhammadiyah, pertama-tama melalui Pemuda Muhammadiyah cabang Sulsel dan Sultra. Dari persyarikatan tersebut, dirinya mulai mempelajari bagaimana sistem kaderisasi dai berjalan efektif. Inilah bekal yang sangat berharga untuknya kelak merintis pesantren dan ormas Hidayatullah.

 
Dirinya mulai mempelajari bagaimana sistem kaderisasi dai berjalan efektif. Inilah bekal yang sangat berharga untuknya kelak merintis pesantren dan ormas Hidayatullah.
 
 

Sebagai aktivis Pemuda Muhammadiyah, ia pernah menggemparkan seluruh Makassar. Cerita bermula pada 27 Agustus 1969. Bersama para pemuda Muhammadiyah Makassar, ia melakukan penyerbuan terhadap tempat perjudian lotto.  Banyak tokoh muda Muslim setempat yang diamankan di ruang tahanan Kodim 1408 Makassar saat itu. Atas saran sejumlah kawannya, ia pun meninggalkan kota tersebut. Dalam kondisi dikejar-kejar aparat kepolisian, ia pun memutuskan untuk mengganti namanya, dari Muhsin Kahar menjadi Abdullah Said.

Balikpapan, Kalimantan Timur, menjadi lokasi hijrahnya pada Maret 1970. Masyarakat Muslim setempat menerimanya dengan tangan terbuka. Kira-kira setahun kemudian, ia berhasil mengumpulkan sejumlah anak muda. Mereka lalu diarahkan untuk mengikuti kaderisasi dai. Proses yang disebut Training Center (TC) Darul Arqam itu berlangsung dua kali, yakni tahun 1970 dan 1972, di kota tersebut.

Selama di Balikpapan, Ustaz Abdullah Said selalu mengamati kondisi kehidupan umat Islam. Menurutnya, kaum Muslimin sudah mulai terseret arus gaya hidup hedonisme. Anak-anak muda cenderung tertarik pada kesenangan duniawi, alih-alih menekuni ilmu-ilmu agama.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Baitul Maal Hidayatullah (official.bmh)

Di daerah berjulukan Kota Minyak itu, sang ustaz ingin menggalakkan TC Darul Arqam. Bahkan, visinya ialah mewujudkan sebuah kampung kaderisasi mubaligh. Dengan begitu, penempaan generasi muda di dalamnya dapat berlangsung dengan lebih intens.

Ia mulai mengomunikasikan gagasannya itu kepada sejumlah dai, baik yang sebaya maupun senior. Jaringan Muhammadiyah Kalimantan didayagunakannya untuk itu. Begitu pula dengan ormas-ormas lain.

Awalnya, mereka mengira Ustaz Abdullah semata-mata hendak menyebarluaskan TC Darul Arqam, agar seperti kaderisasi dai di lingkungan Pemuda Muhammadiyah. Namun, pada akhirnya disadari bahwa ulama dari Sulawesi Selatan itu ingin “bergerak” lebih maju. Yakni, merealisasikan sebuah tempat yang memang khusus dibuat sebagai kawah candradimuka para pemuda Muslim.

Saat itu, tak butuh waktu lama bagi Ustaz Abdullah untuk dikenal luas reputasinya sebagai seorang orator ulung. Banyak masjid di Balikpapan yang mengundangnya berceramah. Dalam tiap kesempatan tausiyah, dirinya tak lupa menyelipkan pesan tentang pentingnya membangun kawasan kaderisasi dai.

Ternyata, Allah SWT memudahkan jalannya. Sejumlah tokoh mendukung gagasannya. Sebut saja, Hasan Ibrahim, seorang alumnus Pesantren Krapyak yang pernah juga menimba ilmu di Akademi Tarjih Muhammadiyah. Kemudian, Muhammad Hasyim HS, yang pernah nyantri di Pondok Modern Gontor. Ada pula, Muhammad Nazir Hasan seorang dai lokal yang saat itu sedang belajar di Akademi Tarjih Muhammadiyah.

 
Mereka semua bersedia membantu Ustaz Abdullah untuk mewujudkan impiannya, membangun kampung perkaderan di Balikpapan.
 
 

Mereka semua bersedia membantu Ustaz Abdullah untuk mewujudkan impiannya, membangun kampung perkaderan di Balikpapan. Impian itu mengejawantah pada 1 Muharram 1393 Hijriyah atau 5 Februari 1973. Pihaknya diberi sebuah lahan di Karang Bugis, Kalimantan Timur. Di atasnya, berdirilah kemudian kompleks pondok pesantren yang dinamakannya Hidayatullah.

Beberapa tahun kemudian, perkembangan yang signifikan terjadi. Pada 1976, Ustaz Abdullah menerima wakaf berupa tanah seluas 5,4 ha dari seorang dermawan. Lokasi area itu di Gunung Tembak, sekira 33 km dari Kota Balikpapan. Dengan sokongan dari wali kota Balikpapan saat itu, H Asnawie Arbain, maka berdirilah pusat pembinaan Hidayatullah di sana.

photo
Gedung Pusat Dakwah Hidayatullah di Jakarta. Ormas Islam itu didirikan Ustaz Abdullah Said saat berkiprah di Kalimantan. - (DOK PERSIS)

Pesan untuk Para Dai

Sejak 1970-an, Ustaz Abdullah Said alias Muhsin Kahar telah cukup sukses dalam menghadirkan kaderisasi dai. Terlebih lagi, dirinya pada masa itu mulai mendirikan Pesantren Hidayatullah—yang di kemudian hari bertransformasi menjadi sebuah organisasi masyarakat (ormas) Islam.

Kawasan Gunung Tembak, Kalimantan Timur, yang semula hanya tanah semak belukar, diubahnya menjadi cahaya peradaban. Dari sanalah, para pemuda Muslim dididik dan ditempa agar menjadi mubaligh yang andal. Keandalan itu tidak hanya pada aspek ilmu dan kognitif, tetapi juga mental dan akhlak.

Salah satu target Ustaz Abdullah ialah menyebarkan syiar Islam seluas-luasnya, termasuk ke daerah-daerah perdalaman di Tanah Air. Hal itu mulai terwujud sejak tahun 1975. Para pemuda yang lulus kaderisasi di Gunung Tembak, lalu dikirim ke banyak kawasan yang kini diistilahkan sebagai 3T (terdepan, terpencil, dan tertinggal). Banyak di antara para dai perintis itu yang masih terbilang muda. Usianya belum menginjak kepala dua.

Dalam setiap momen pelepasan dai ke daerah 3T, Ustaz Abdullah Said selalu memberikan nasihat. Misalnya, para mubaligh itu hendaknya selalu menautkan hati dan pikiran kepada Allah SWT. Dengan begitu, lelahnya mereka insya Allah menjadi ibadah.

Dalam menyampaikan dakwah, mereka juga disarankan untuk menggunakan tutur kata yang santun dan komunikatif. Dengan begitu, umat akan lebih simpatik. Hindari permusuhan di antara sesama Muslimin. Salah satu kiat yang disampaikannya ialah kebiasaan tahajud. Kalau bisa, jangan lewatkan satu malam pun tanpa melakukan shalat lail.

Kini, Hidayatullah telah menapaki usia 50 tahun. Sejak pertama kali dibentuk sebagai yayasan, hingga akhirnya diresmikan sebagai sebuah ormas, Hidayatullah terus berkiprah di Indonesia. Spirit Ustaz Abdullah Said selalu menjadi inspirasi sehingga seluruh aktivisnya memantapkan hati dengan gigih di jalan dakwah.

Hingga dekade kedua abad ke-21, Hidayatullah telah memiliki 33 dewan perwakilan wilayah, 260 perwakilan daerah, dan 70 cabang. Banyak lembaga pendidikan didirikan di bawah naungan ormas tersebut.

Di antaranya ialah 200 Pusat Pendidikan Anak Saleh (PPAS), yang di dalamnya seratusan anak yatim diurus dan dididik. Ada pula lembaga pendidikan tinggi, Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Hidayatullah di Depok, Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim (STAIL) di Surabaya, dan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Hidayatullah (STIS Hidayatullah) di Balikpapan. Bahkan, pada 2013 berdirilah STT STIKMA Internasional Malang.

Tentunya, program kaderisasi dai terus berlangsung. Setidaknya, tiap tahun sekira 150 dai muda dikirim ke daerah-daerah. Hampir selalu 50 persen di antaranya merupakan alumni pendidikan tinggi.


×