Kehadiran Taliban mengundang harapan sekaligus kekhawatiran banyak pihak terutama dari dunia Islam. | Republika/Dialog Jumat
19 Sep 2021, 04:33 WIB

Taliban, Antara Kekhawatiran dan Harapan

Kehadiran Taliban mengundang harapan sekaligus kekhawatiran banyak pihak terutama dari dunia Islam.

OLEH ZAHROTUL OKTAVIANI

Afghanistan memulai era baru setelah Taliban mengambil alih tampuk kepemimpinan. Kehadiran Taliban mengundang harapan sekaligus kekhawatiran banyak pihak terutama dari dunia Islam. Taliban yang mengusung penerapan hukum syariah dengan perspektif yang ketat membuat eksistensi dunia kreatif, olahraga hingga perempuan menjadi marginal. Peran Indonesia dan dunia Islam lainnya pun ditunggu agar bisa memasukkan unsur moderasi bagi Taliban.

Moderasi Tinggal Janji

 

Terkait

 

Kembalinya Taliban sebagai pemegang tampuk kekuasaan Afganistan meniupkan janji tentang wajah baru kelompok milisi itu. Juru bicara Taliban, Suhail Shaheen, menyebut pihaknya memang menginginkan transfer kekuasaan secara damai. Kepada warga Afghanistan, ia berjanji akan berlaku moderat dan tidak kembali seperti Taliban 20 tahun  lalu.

"Kami menginginkan pemerintahan Islam yang inklusif. Itu berarti semua warga Afghanistan akan menjadi bagian dari pemerintahan. Hal ini akan terlihat di masa depan, saat transfer damai berlangsung," tulis Shaheen dalam akun Twitter pribadinya, 15 Agustus lalu.

Dalam beberapa kesempatan, Taliban juga berupaya menghapus kekhawatiran negara tersebut akan kembali ke masa kelam dan hukum konservatif yang ada. Kalompok ini diklaim akan mencari babak baru dalam hal toleransi.

Setelah hampir satu bulan sejak pengumuman pengambil alihan kekuasaan dan upaya menduduki pemerintahan, kini satu persatu kebijakan yang diambil Taliban mulai terungkap. Terbaru, mereka menetapkan aturan akses pendidikan bagi generasi muda wanita Afghanistan.

Taliban mengumumkan wanita di Afghanistan diizinkan melanjutkan studi mereka di universitas. Namun, ruangan belajar mereka akan dipisah berdasarkan gender.

Pengumuman ini disampaikan Menteri Pendidikan Tinggi baru Taliban, Abdul Baqi Haqqani, Sabtu (11/9). Hal ini dilakukan bersamaan dengan pembentukan jajaran kabinet mereka, dimana semua jabatan di kementerian dipegang oleh laki-laki dan Kementerian Urusan Perempuan dibubarkan, serta pengibaran bendera Taliban di atas Istana Kepresidenan.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Haqqani mengatakan, wanita akan terus diizinkan mengenyam pendidikan di universitas di bawah rezim baru Taliban, termasuk di tingkat pasca sarjana. Tetapi, penggunaan pakaian Islami akan menjadi hal yang wajib.

Mahasiswa perempuan akan diharuskan mengenakan jilbab. Meski demikian, dia tidak merinci apakah ini berarti hanya jilbab atau lengkap dengan penutup wajah."Taliban akan menegakkan aturan tentang pemisahan gender. Kami tidak akan mengizinkan anak laki-laki dan perempuan belajar bersama. Kami tidak akan mengizinkan pendidikan bersama," ujar dia. 

Kekerasan dan ketimpangan di negara tersebut pun tetap terjadi. Selain melarang mereka berolahraga, Taliban melakukan tindakan kekerasan digunakan terhadap perempuan yang memprotes persamaan hak.Perempuan Afghanistan sempat berbaris dan berjalan menuju Kabul untuk menuntut kebebasan mereka dijamin di bawah rezim  baru.

Demonstrasi dimulai dengan damai. Sejumlah wanita meletakkan karangan bunga di luar kementerian pertahanan, untuk menghormati tentara Afghanistan yang tewas memerangi Taliban.

Ketika teriakan mereka semakin keras, para pejuang Taliban masuk ke kerumunan dan menanyakan apa yang diinginkan oleh mereka. Rekaman video yang beredar di media sosial kemudian menunjukkan anggota pasukan khusus menembakkan senjata ke udara, untuk membubarkan kerumunan.

photo
Pasukan Taliban menjaga jalanan di pusat Kota Kabul, Afghanistan, Sabtu (4/2021). - (AP/Wali Sabawoon)

Seorang saksi mengatakan kelompok tersebut juga menggunakan gas air mata dan laser untuk membuat para demonstran melarikan diri. Seorang demonstran, yang menyebut namanya sebagai Soraya, mengklaim mereka memukul kepala wanita dengan magasin senjata hingga mengeluarkan darah.

Atlet Taekwondo, Marzia Hamidi, termasuk di antara perempuan yang diserang oleh Taliban dan disebut "agen Barat" dalam salah protes tersebut. Dia mengatakan tidak terkejut dengan penarikan AS. Sebagai tandingan atas protes yang ada, Taliban mengatur demo perempuan sendiri.

Pawai itu melibatkan perempuan dengan pakaian tertutup dan berkumpul di sebuah auditorium di pusat pendidikan Kabul University. Mereka merayakan kemenangan Taliban atas Barat yang dituduh anti-Islam.

Di sisi lain, seorang perempuan Afghanistan, aktivis masyarakat sipil di provinsi Kandahar selatan, mengatakan Taliban memasuki rumahnya. Mereka juga menyerang dan menculik lima orang dari rumahnya. Insiden itu terjadi di batas Distrik Polisi 15.

Wanita bernama Dr Fahima Rahmati ini membagikan pengalamannya sembari menangis tersedu dalam siaran video langsung di Facebook-nya. Ia yang juga menjabat sebagai Ketua Yayasan Harapan, mengatakan lusinan anggota Taliban bersenjata memasuki rumah mereka tanpa izin dan mulai memukuli wanita, pria, bahkan melepaskan tembakan ke udara.

Tak berhenti di situ, Taliban juga menculik lima pria, termasuk dua saudara laki-lakinya, seorang saudara ipar dan seorang tetangga. Menurut dia, kakak laki-lakinya mendapatkan luka tembakan oleh Taliban.

photo
ILUSTRASI Seorang gadis berjalan kaki menuju sekolah di Kabul, Afghanistan (12/9). Masa depan Afghanistan pasca-naiknya lagi Taliban mengundang perhatian internasional. - (DOK AP Felipe Dana)

"Mengapa Anda menyebarkan teror? Apakah pemerintahan dilakukan dengan cara ini, mengapa Anda memaksa saya meninggalkan negara ini? Apakah Islam mengizinkan tindakan seperti itu? Saya menerima undangan dari tiga negara, tetapi saya menolaknya dan mengatakan negara membutuhkan saya," ujar Dr Rahmati dikutip di Pajhwok, Selasa (14/9).

Taliban dilaporkan terus berupaya memperbaiki citra ekstrem yang melekat saat mereka berkuasa pada 1996-2001. Namun, para aktivis dan jurnalis menyebut kenyataan di lapangan dan pernyataan Taliban dalam setiap konferensi pers sangat berbeda. Aktivis perempuan dan mantan pemimpin politik perempuan mengaku diperlakukan sebagai warga negara kelas dua.

Terkait kabinet baru Taliban, Amerika Serikat (AS) menyatakan rasa prihatin dengan postur kabinet Taliban dan pengangkatan Mohammad Hasan Akhund sebagai Perdana Menteri Afghanistan. Nama-nama yang diumumkan lebih dulu ketika kabinet belum rampung ini terdiri dari individu yang menjadi anggota Taliban atau rekan dekat mereka, dan tidak ada wanita.

Terkait hal ini, Taliban mengungkapkan perempuan Afghanistan tidak perlu terlibat di kabinet pemerintahan. Perempuan di negara tersebut tidak boleh menduduki sebuah jabatan sebagai menteri. Juru bicara Taliban, Syed Zekrullah Hashmi, mengatakan tugas utama perempuan adalah melahirkan dan mengurus anak.

"Perempuan tidak bisa bekerja memimpin kementerian. Itu seperti menaruh sesuatu yang tidak sanggup mereka pikul di pundak mereka," kata Syed Zekrullah.


×