Ada satu hal yang harus dimiliki ayah dalam membesarkan anak-anaknya. Bekal itu adalah akidah. | Pixabay
19 Sep 2021, 04:14 WIB

Akidah untuk Ananda

Akidah harus menjadi bekal ayah dalam membesarkan anak-anaknya.

OLEH A SYALABY ICHSAN

Bagi lelaki yang baru menikah, status sebagai ayah merupakan pengalaman baru dengan sejuta tantangan. Sejak dokter mengumumkan adanya janin di dalam kandungan istri, di situlah dimulai proses panjang untuk mengemban amanah baru.

Perhatian dan cinta kasih bukan lagi hanya tertuju pada pasangan tetapi bertambah kepada si buah hati. Amanah dan tanggung jawab seorang pria sebagai kepala rumah tangga pun sudah mulai dijalankan.

Dalam perspektif Islam, dari sekian banyak bekal untuk bisa menjadi ayah yang baik, ada satu hal yang harus dimiliki ayah dalam membesarkan anak-anaknya. Bekal itu adalah akidah.

Terkait

Sebagai orang pertama yang bersentuhan dengan anak, orang tua mesti menjadi media untuk mengenalkan putra atau putrinya dengan Tuhannya. Merekalah yang akan mengantarkan ananda kepada agama yang benar.

Alquran menjelaskan jika setiap manusia dilahirkan sebagai hamba. Saat masih menjadi ruh, kita pun diminta bersaksi bahwa kita adalah makhluk dan membuat pengakuan jika Allah adalah Rabb.

Dan (ingatlah), ketika Rabbmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Rabbmu.” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Rabb kami). Kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)." (QS al-A'raf: 172).

 
Saat masih menjadi ruh, kita pun diminta bersaksi bahwa kita adalah makhluk dan membuat pengakuan jika Allah adalah Rabb.
 
 

Sementara itu, Rasulullah SAW pernah menjelaskan jika setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Artinya, mereka memiliki pembawaan sejak lahir akan nilai-nilai Islam. Meski saat dibesarkan, orang tua mereka yang menjadikannya pemeluk agama tertentu.

“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?” (HR Bukhari). 

Mari kita renungkan saat Luqman, seorang lelaki ahli hikmah dari Habasya memberi pelajaran kepada anaknya. Pelajaran tersebut tertuang abadi dalam Alquran.

Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah. Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS Luqman: 13).

Menukil ayat tersebut, Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar menjelaskan jika ayat ini bermakna jika inti hikmah yang telah dikaruniakan Allah kepada Luqman telah diajarkan kepada anaknya. Pelajaran itu disampaikan sebagai petunjuk utama dalam kehidupan.

Luqman mendidik anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah karena tidak ada Tuhan selain Allah. Selain Dia tak lebih merupakan alam belaka yang juga ciptaan-Nya. Jika terjebak dalam perbuatan tersebut, maka kita tak lebih sudah menganiaya dan membodohi diri sendiri.

 
Luqman mendidik anaknya untuk tidak mempersekutukan Allah karena tidak ada Tuhan selain Allah.
 
 

Untuk menegaskan pernyataannya jika ananda jangan mempersekutukan Allah, maka sang ahli hikmah bercerita mengenai kebesaran sifat-sifat Allah: "Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS Luqman: 17). 

Dalam tafsirnya, Hamka menjelaskan mengenai perumpamaan ini bahwasanya biji sawi adalah zat yang sangat halus. Jika tersembunyi di bawah batu, tidak akan ada orang yang bisa melihatnya.

Apalagi biji sawi itu ada di atas langit yang bertingkat-tingkat atau di terkubur di dalam bumi dengan lima benua dan samudera yang luas maka tak ada seorang pun yang bisa melihatnya. Terbatasnya kemampuan seorang makhluk sudah tentu berbeda dengan kebesaran Allah SWT. Dia Yang Maha Mengetahui akan mendeteksi perbuatan ibarat biji sawi itu.

Karena itu,  pesan dalam ayat ini menurut Buya Hamka adalah segenap perbuatan baik janganlah ditujukan semata untuk menyenangkan manusia.  Kebanyakan manusia akan luput menyaksikan amal perbuatan mini yang kita lakukan. Berbeda halnya jika amal itu diniatkan untuk meraih keridhaan Allah Ta’ala karena pasti akan dibalas oleh-Nya.

Perasaan ini amat penting untuk menjaga hubungan anak dengan Rabbnya dan meningkatkan optimisme anak itu sendiri. Pada saat terpuruk hingga dunia melupakan kita, maka kita tahu ada Allah yang tak akan pernah lupa.

Wallahu a’lam.


×