Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika
18 Sep 2021, 03:45 WIB

Visi dan Misi Hidup Kaum Muslimin

Visi dan misi hidup seorang Muslim, apapun posisi dan jabatannya, terdiri dari empat unsur utama

OLEH PROF DIDIN HAFIDHUDDIN 

Telah sama-sama diketahui bahwa aktivitas seseorang/sekelompok orang atau bahkan suatu bangsa dalam hidup dan kehidupannya sangat ditentukan oleh visi dan misinya.

Ketika visi dan misinya jelas, terukur, terencana, dan terstruktur, akan jelas pula langkah-langkah yang dilakukannya. Tetapi apabila tidak jelas visi dan misinya, tidak jelas pula langkah-langkah yang dilakukannya.

Visi dan misi hidup seorang Muslim, apapun posisi dan jabatannya, terdiri dari empat unsur utama sebagaimana diungkapkan dalam Alquran surah al-Qashash [28] ayat 77: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.”

Terkait

Pertama, menjadikan akhirat sebagai tujuan akhir dari kehidupan. Akhirat itulah negeri yang abadi, yang akan menentukan keselamatan yang abadi atau kecelakaan yang juga relatif abadi. Akhirat adalah tempat yang sesungguhnya untuk mendapatkan balasan yang adil terhadap perbuatan yang dilakukan di dunia.

Perbuatan baik akan mendapatkan balasan yang baik, sebaliknya perbuatan yang buruk akan mendapatkan balasan yang setimpal. Firman Allah dalam QS az-Zalzalah [99] ayat 6-8: “Pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam keadaan yang bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka (8) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya (7) Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula (8).”

 
Kesadaran akan keberadaan akhirat yang abadi sebagai tempat balasan amal perbuatan di dunia, seorang muslim hidupnya akan bertanggungjawab, berusaha semaksimal mungkin disiplin pada aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT. 
 
 

Hanya saja dengan rahmat dan kasih sayang Allah SWT perbuatan baik di dunia akan mendapatkan balasan minimal sepuluh kali lipat di akhirat nanti, tetapi perbuatan buruk akan mendapatkan balasan setimpal.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-An’am [6] ayat 160: “Barangsiapa membawa amal yang baik maka baginya (pahala) sepuluh kali lipat amalnya; dan barangsiapa yang membawa perbuatan yang jahat maka dia tidak diberi pembalasan melainkan seimbang dengan kejahatannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).”

Kesadaran akan keberadaan akhirat yang abadi sebagai tempat balasan amal perbuatan di dunia, seorang muslim hidupnya akan bertanggung jawab, berusaha semaksimal mungkin disiplin pada aturan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Tidak mungkin seorang Muslim akan menghalalkan segala macam cara dalam mencapai tujuannya, termasuk ketika mendapatkan amanah untuk mengurus urusan publik. Ia akan berlaku jujur, berlaku adil, mempersembahkan yang terbaik dalam tugasnya, serta berusaha untuk tidak melakukan pengkhianatan dalam bentuk apapun yang merugikan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Allah SWT berfirman dalam QS al-Anfal [8] ayat 27-28: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui (27) Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar (28).”

Kedua, tidak melupakan kehidupan dunia sebagai sarana mendapatkan kebahagiaan di akhirat. Kaum muslimin harus berprestasi dalam kehidupan dunia, seperti dalam kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial, politik, maupun yang lainnya. Karena kehidupan dunia ini merupakan sarana untuk mengejawantahkan fungsi manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi.

Allah SWT berfirman dalam QS al-An’am [6] ayat 165: “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa (khalifah) di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Dalam menata kehidupan dunia ini, kaum Muslimin harus memadukan kekuatan ibadah dengan kekuatan muamalah dalam semua bidang kehidupan. Ibadah yang baik dan muamalah yang unggul merupakan modal utama dalam mensejahterakan kehidupan.

Ibadah dengan tekanan utamanya penguatan hubungan dengan Allah SWT (hablumminallah), sedangkan muamalah tekanan utamanya adalah hubungan dengan sesama manusia (hablumminannas).

 
Dalam menata kehidupan dunia ini, kaum Muslimin harus memadukan kekuatan ibadah dengan kekuatan muamalah dalam semua bidang kehidupan. 
 
 

Allah SWT sangat memuji generasi sahabat yang unggul dalam ibadah kepada Allah SWT dan unggul dalam kegiatan mu’amalah seperti kegiatan ekonomi. Firman-Nya dalam QS an-Nur [24] ayat 37: “Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingati Allah, dan (dari) mendirikan sembahyang, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi goncang.”

Ayat tersebut (QS an-Nur [24] ayat 37) menjelaskan bahwa generasi sahabat adalah generasi yang sibuk di pasar melakukan kegiatan ekonomi secara makimal, tetapi ketika terdengar adzan mereka segera bergegas-gegas pergi ke masjid untuk melakukan shalat berjamaah, berzikir, bertasbih, dan juga mengeluarkan zakat dan infak untuk pembangunan umat dan menolong mereka yang membutuhkan.

Tercatat dalam sejarah, sebagian besar generasi sahabat ini adalah generasi pedagang (ekonom yang unggul) sekaligus yang bertaqwa yang sangat semangat dalam berinfak, berzakat, dan berwakaf. Kegiatan ekonomi yang mereka lakukan di pasar adalah kegiatan ekonomi yang berdasarkan akhlak mulia seperti jujur, tidak mau mempermainkan takaran dan timbangan, dan tidak mau merugikan orang lain terutama konsumen.

Mereka sadar betul akan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam at-Tirmidzi bahwa pedagang yang jujur akan bersama orang-orang yang mati syahid di surga nanti. Kaum Muslimin sekarang pun harus meniru dan mencontoh perilaku para sahabat Nabi yang memiliki etos kerja, etos berdagang, dan etos ibadah yang tinggi.

Ketiga, berbuat baik dalam semua bidang kehidupan secara maksimal, dan menjadi Muslim yang bermanfaat dan berguna bagi orang lain dan lingkungannya. Rasulullah menyatakan bahwa sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain.

Kesadaran yang semacam ini akan menjadikan kaum Muslimin unggul dalam berbagai bidang kehidupan. Karena tanpa keunggulan tidak mungkin kita bisa memberikan kebaikan pada orang lain secara maksimal.

Di samping itu kesadaran sosial kaum Muslimin semakin tinggi dan semakin tajam. Saling memberi, saling berbagi, saling menguatkan satu dengan yang lain. Ibarat sebuah bangunan yang saling merekat dan mengokohkan bagian satu dengan bagian yang lainnya.

Keempat, dalam melakukan ketiga perilaku di atas, kaum Muslimin dilarang membuat kerusakan, baik kerusakan yang bersifat fisik, material, maupun yang bersifat sosial dan spiritual. Perbuatan merusak apapun bentuknya sangat dibenci dan dimurkai oleh Allah SWT.

Sebagaimana firman-Nya dalam QS al-A’raf [7] ayat 85: “…Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan dan janganlah kamu kurangkan bagi manusia barang-barang takaran dan timbangannya, dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi sesudah Tuhan memperbaikinya. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika betul-betul kamu orang-orang yang beriman."

Wallahu A’lam bi ash-Shawab. 


×