Ustaz Dr Amir Faishol Fath | Republika
17 Sep 2021, 18:32 WIB

Mukjizat Susunan Alquran

Ada dimensi lain dari mukjizat Alquran yang juga penting diungkap, yaitu dari segi susunannya.

DIASUH OLEH USTAZ DR AMIR FAISHOL FATH; Pakar Tafsir Alquran, Dai Nasional, CEO Fath Institute

Para ulama telah menulis banyak buku tentang mukjizat Alquran. Di antaranya mukjizat dari segi keindahan bahasanya. Bahwa setiap kata dalam setiap ayat adalah pilihan yang tepat.

Tidak bisa diganti dengan kata selainnya sekalipun mengandung makna sinonim. Contoh kata “la raiba” (tidak ada keraguan), tidak bisa diganti dengan kata “la syakka” sekalipun maknanya sama. Itu, jika diganti, tidak saja merusak keindahan struktur ayat, melainkan juga merusak keindahan rasa pada saat membacanya.

Allah berfirman tentang keindahan Alquran: “Laa ya’tiihil baathilu min baini yadaihiwa laa min khalfihii tanziilun min hakiimin hamiid (tidak ada kebathilan yang datang kepadanya Alquran, dari depan dan dari belakang, diturunkan dari Allah yang Maha Bijak lagi Maha Terpuji)." (QS Fusshilat: 42).

Terkait

Ada dimensi lain dari mukjizat Alquran yang juga penting diungkap, yaitu dari segi susunannya. Bahwa susunan ayat dalam satu surah dan susunan surah dalam semua Alquran adalah saling berkait, antara tema ke tema tidak terputus, dukung-mendukung seperti satu struktur bangunan yang utuh.

Tidak cukup seseorang dalam memahami pesan Alquran hanya bersandar kepada satu ayat tertentu lalu meninggalkan ayat-ayat yang lain. Melainkan ia harus melihat Alquran sebagai satu kesatuan secara komprehensif.

Itulah mengapa kita membaca manaqib (sejarah hidup) para ulama fikih seperti Imam Abu Hanifah dan Imam asy Syafii, hampir setiap hari khatam Alquran. Boleh jadi itu untuk menjawab berbagai persoalan fikih, mereka harus me-review semua Alquran dari awal sampai akhir.

 
Tampak bahwa di mata para ulama, indahnya susunan Alquran bagaikan rangkaian mutiara dalam satu kalung yang kokoh.
 
 

Dalam “Ulumul Quran” (pembahasan ilmu-ilmu Alquran) mukjizat susunan tersebut dibahas secara khusus dalam “ilmul munasabat”. Para ulama tafsir menggunakan istilah “nazhmud durar” (rangkaian mutiara) untuk menggambarkan keindahan susunan Alquran.

Imam al Biqaa’i menulis kitab dengan judul “Nazhmud durar fii tanasubil ayaati was suwar”. Imam as Suyuthi, menulis buku “Tanasuqud durar fii nasubus suwar”. Tampak bahwa di mata para ulama, indahnya susunan Alquran bagaikan rangkaian mutiara dalam satu kalung yang kokoh.

Bila kita renungkan (tadabbur) hubungan antara surah al-Ma’un dan surah al-Kautsar, pasti akan ditemukan pedoman hidup yang indah. Bahwa kedua surah tersebut sama-sama menampilkan profil yang berbeda.

Al-Ma’un menampilkan pribadi ahli neraka dengan karakter, bakhil “yadu’ul yatim”, tidak menegakkan shalat dengan benar “fawailul lil mushalliin”, riya’ (tidak ikhlas), ”alldziina hum yuraa’uun” dan tidak mau membantu saudaranya “wa yamna’uunal ma’uun”.

Sementara itu, surah al-Kautsar menampilkan profil pribadi ahli surga dengan karakter sebaliknya, yaitu: suka berbagi yang banyak “al-kautsar”, menegakkan shalat “fashalli”, ikhlas dalam beramal “lirabbika’’, dan suka berkurban “wanhar”. Ini baru satu contoh sebagai bukti betapa susunan Alquran adalah sebuah mukjizat.


×