Menteri BUMN RI Erick Thohir memberikan sambutan saat acara Launching Nasional Kerjasama Pemberdayaan dan Pendampingan Umum UMKM antara PT Pos Indonesia, BNI dan GP Ansor di Kantor PP GP ANSOR, Jakarta, Rabu (30/6). Kerjasama ini diharapkan akan menjadi s | Prayogi/Republika.
17 Sep 2021, 10:40 WIB

MUI Dorong Umat Berwakaf Uang

Keberhasilan gerakan wakaf butuh kontribusi dan dukungan masyarakat.

JAKARTA -- Majelis Ulama Indonesia (MUI) baru saja meluncurkan gerakan wakaf uang. Melalui gerakan ini, MUI berharap dapat membantu dan memulihkan ekonomi umat yang meredup karena terdampak pandemi Covid-19.

"Wakaf uang yang kita luncurkan kemarin sebagai gerakan nasional ini tujuannya untuk dakwah dan pemulihan ekonomi umat," kata Direktur Lembaga Wakaf MUI), Ustaz Rofiq Thoyyib Lubis, kepada Republika, Kamis (16/9).

Dalam gerakan wakaf uang ini ada sejumlah program yang akan dijalankan. "Di antaranya go green, membentuk UMKM (usaha mikro kecil menengah) serta menyalurkan uangnya ke investasi yang lebih halal," katanya.

Terkait program untuk membantu UMKM, ia menyebut ada beberapa skema yang sudah disiapkan. Salah satunya, sosialisasi dan edukasi tentang produk halal dan pembuatan kemasan atau packaging.

Terkait

UMKM, menurut dia, merupakan salah satu sektor yang sangat terdampak pandemi Covid-19. Maka, gerakan wakaf uang ini diharapkan dapat membantu mereka, utamanya dalam hal permodalan atau keuangan.

Ustaz Rofiq menyebut, gerakan yang diluncurkan MUI ini merupakan tindak lanjut dari Gerakan Nasional Wakaf Uang yang dicanangkan pemerintah, beberapa waktu lalu. Ia pun merasa bersyukur dan menyambut baik program dari pemerintah tersebut.

Dari sisi fikih, lanjut dia, muncul banyak diskusi dan perdebatan terkait wakaf uang. "Wakaf itu tidak boleh habis, sementara uang ada inflasi. Namun, untuk situasi hari ini dibutuhkan ada wakaf produktif yang bergerak, salah satunya uang," kata dia.

Peluncuran Gerakan Wakaf Uang MUI berlangsung di Gedung MUI, Jakarta, Selasa (14/9). Hadir di lokasi peluncuran dan menandatangani pernyataan dukungan terhadap gerakan tersebut sejumlah pemangku kepentingan terkait, yakni  Badan Wakaf Indonesia (BWI), Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Yayasan Dompet Dhuafa Republika, Kadin DKI Jakarta, LinkAja, dan CMNP Group. 

Pada kesempatan itu, Ketua Umum MUI, KH Miftachul Akhyar, mengatakan, kesadaran akan wakaf di Indonesia masih agak tertinggal. Padahal, amaliah wakaf sudah banyak dicontohkan oleh para sahabat di masa Rasulullah SAW.

Kiai Miftach menuturkan, keberhasilan gerakan wakaf membutuhkan kontribusi serta dukungan penuh dari masyarakat. “(Jadi) tidak hanya bertumpu pada kuasa pemerintah, karena wakaf merupakan gerakan untuk mencapai kesejahteraan bersama,” ujar dia seperti dilansir laman resmi MUI.

 Kiai Miftach memberikan contoh aset wakaf yang cukup penting, seperti masjid, pesantren, dan madrasah. Menurut dia, wakaf memiliki potensi besar untuk memajukan kesejahteraan sosial di Indonesia.

“Pada dasarnya, fisik uang akan sirna, tetapi manfaat dari uang yang diwakafkan tersebut akan abadi dirasakan oleh umat,” ujar dia.

Sementara itu, Ketua Umum BWI, Prof Mohammad Nuh, memberikan apresiasi dan penghargaan setinggi-tingginya kepada MUI atas ikhtiarnya mengajak umat untuk berwakaf. Nuh mengatakan, Islam memiliki ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf). Namun, literasi masyarakat masih sangat rendah mengenai hal itu, sehingga perlu diingatkan.

Terkait wakaf, dia mengingatkan, hal itu merupakan investasi yang semestinya dilakukan dari sekarang. Selain itu, persoalan potensi wakaf tidak lagi menjadi bahan perbincangan, karena hal itu telah diketahui bersama memiliki potensi yang sangat besar.

Nggak usah bicara lagi soal potensi, karena itu memang sangat besar. Wakaf untuk kesejahteraan, meningkatkan kualitas dakwah, dan untuk kemartabatan. Menjaga muruah dan martabat umat ini,’’ ujar Nuh.


×