Ilustrasi Hikmah Hari ini | Republika
17 Sep 2021, 03:30 WIB

Petaka Keimanan

Rasulullah SAW mengajarkan doa agar kita terhindar dari petaka keimanan.

OLEH HASAN BASRI TANJUNG

Dua pekan lalu, tersiar kabar dari Gowa, Sulewesi Selatan tentang seorang gadis kecil yang dianiaya oleh kedua orang tuanya. Kedua orang tua itu tega mencongkel bola mata anaknya yang baru berumur enam tahun.

Mereka mengaku mendengar bisikan gaib bahwa di mata putrinya ada sesuatu yang harus dikeluarkan. Untunglah, sang anak masih sempat diselamatkan, sehingga tidak sampai mengalami kebutaan. Dugaan sementara, perbuatan tersebut berkaitan dengan ilmu hitam atau pesugihan untuk mendapat kekayaan.

Bukan pertama kali orang melakukan tindakan sadis semacam ini. Lalu, apa yang mendorong dan dari mana bisikan gaib tersebut ?

Terkait

Dalam diri manusia terdapat dua potensi yang saling tarik-menarik, yakni keburukan (fujur) dan kebaikan (taqwa). Potensi keburukan (durhaka) akan semakin tumbuh ketika mendapat asupan gizi dari bisikan setan, sedangkan potensi kebaikan (taat) akan semakin subur manakala mendapat siraman dari malaikat.

Sejatinya, potensi kebaikan lebih kuat dalam diri manusia, hanya saja daya tarik keburukan lebih kuat dari daya tarik kebaikan. Karena itu, manusia dituntut agar memelihara kesucian diri dan tidak mengotorinya (QS asy-Syams [91]: 91-92). Demikian Prof Quraish Shihab dalam Wawasan Al-Quran, hal. 286).

Dorongan nafsu keburukan yang ditumpangi godaan setan yang memesona, membuat iman semakin lemah. Pada saat yang sama, setan pun berkolaborasi dengan para dukun (paranormal) untuk menjerumuskan manusia.

“(Setan) memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong mereka. Padahal, setan tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka" (QS an-Nisa [4]: 120). Bahkan, tipu daya setan semakin intensif terhadap orang yang dikuasai nafsu serakah dan impitan kemiskinan (QS al-Baqarah [2]: 268).

Pikiran, ucapan, dan tindakan manusia selalu bermula dari keyakinan. Keyakinan itu bagaikan akar pada sebuah pohon yang membuatnya bisa tumbuh, tegak, dan kuat (QS Ibrahim [14]: 24). Akar itulah yang disebut iman hanya kepada Allah SWT (akidah tauhid).

Kemurnian tauhid tersebut akan terjaga, manakala kita menyakini bahwa tidak ada yang patut disembah selain Allah (laa ma’buuda illa Allah). Tidak ada yang memberi rezeki selain Allah (laa marzuqa illa Allah). Tidak ada yang menjadi tujuan hidup selain Allah (laa maqshuuda illa Allah). Tidak ada yang patut dicintai selain Allah (laa mahbuuba illa Allah).  

Namun sebaliknya, jika akidah tauhid rusak, seseorang akan mudah tumbang ketika diterpa derita atau iming-iming kesenangan semu. Seperti pohon yang buruk akan mudah terjungkal dari tanah, batangnya berduri atau buahnya beracun yang bisa mencelakai orang di sekitarnya (QS Ibrahim [14]: 26). Demikian Prof Buya Hamka dalam “Tafsir Al-Azhar”.

Nabi SAW mengajarkan doa agar kita terhindar dari petaka keimanan. “Aku berlindung kepada Allah yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui dari setan yang terkutuk, godaan, rayuan, dan tiupannya.” (HR Ahmad).

Allahu a’lam bish-shawab.


×