Petugas membatu mengisi daya mobil listrik di SPBU Green Energy Station Fatmawati, Jakarta, Rabu (1/9/2021). | Prayogi/Republika.
16 Sep 2021, 03:45 WIB

Nyala Industri Baterai

Indonesia mesti beralih menjadi negara yang sukses dalam melakukan hilirisasi industri.

Untuk kali pertama, Indonesia bakal memiliki pabrik penghasil baterai listrik. Pabrik yang bisa digunakan untuk memproduksi baterai bagi kendaraan listrik ini, disebut-sebut yang pertama di Indonesia dan Asia Tenggara.

Peletakan batu pertama pembangunan pabrik ini dilakukan Presiden Joko Widodo di Karawang New Industrial City, Jawa Barat, Rabu (15/9). Nilai investasi pabrik memakan biaya 1,1 miliar dolar AS atau setara Rp 15,9 triliun.

Pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari keseluruhan rencana proyek baterai kendaraan listrik terintegrasi senilai 9,8 miliar dolar AS atau sekitar Rp 142 triliun yang telah diteken dengan Korea Selatan.

Sejumlah menteri tampak menghadiri seremoni peletakan batu pertama pembangunan pabrik industri baterai kendaraan listrik PT HKML Battery Indonesia itu.

Terkait

Ada Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Ada pula Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, Bupati Karawang Cellica Nurrachadiana, Dubes Korea untuk Indonesia Park Tae-sung, President Hyundai Motor Asia Pasific Headquarters, dan CEO PT HKML Battery Indonesia.

 

 
Indonesia mesti beralih menjadi negara yang sukses dalam melakukan hilirisasi industri guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang semakin tinggi. 
 
 

Pembangunan pabrik ini menjadi bukti keseriusan pemerintah mengakhiri cap sebagai negara pengekspor bahan mentah. Indonesia mesti keluar dari jebakan tersebut. Struktur ekonomi yang selama ini mengandalkan kejayaan komoditas bahan mentah harus diubah.

Indonesia mesti beralih menjadi negara yang sukses dalam melakukan hilirisasi industri guna menciptakan nilai tambah ekonomi yang semakin tinggi. Melepaskan ketergantungan pada produk impor merupakan keniscayaan.

Hal ini mengingat produk impor bahan mentahnya berasal dari Indonesia. Sungguh ironis jika produk yang kita impor sejatinya bahan mentah produk tersebut dihasilkan dari bumi nusantara. Untuk itu, revitalisasi industri pengolahan harus segera diwujudkan agar segera mentas dari jebakan negara pengekspor bahan mentah.

Dengan demikian, struktur industri nasional tak lagi mengandalkan ekspor bahan mentah, tetapi industri berbasis pengembangan inovasi teknologi. Bahan mentah sebagai kekayaan sumber daya alam Indonesia mesti memiliki nilai tambah sebelum diekspor.

Dalam konteks pabrik baterai kendaraan listrik, peningkatan nilai tambah dengan melakukan hilirisasi industri nikel. Bijih nikel jika diolah menjadi sel baterai, nilainya bisa naik enam hingga tujuh kali lipat. Bila diolah hingga menjadi mobil listrik, nilai tambahnya naik 11 kali lipat.

Bayangkan yang kita dapat jika hanya mengekspor bahan mentahnya. Tak ada nilai tambah bagi perekonomian nasional.

 

 
Bayangkan yang kita dapat jika hanya mengekspor bahan mentahnya. Tak ada nilai tambah bagi perekonomian nasional.
 
 

 

Dengan jumlah penduduk terbanyak keempat sedunia, pengembangan industri baterai akan menaikkan Indonesia sebagai negara tujuan investasi karena industri turunan dari pabrik baterai tersebut, misal pengembangan mobil listrik, motor listrik, sepeda listrik, dan bus listrik. Ekosistem industri baterai listrik ini akan terbentuk dengan sendirinya.

Pengembangan industri kendaraan listrik terintegrasi ini tentu akan melibatkan BUMN. BUMN yang mengelola penambangan bahan baku baterai. Bagian dari ekosistem ini termasuk bisnis sistem baterai, kendaraan listrik, dan infrastruktur pengisian daya.

Pembangunan ekosistem kendaraan listrik ini diharapkan, menjadikan Indonesia berperan penting sebagai pusat pasar kendaraan listrik ASEAN pada masa mendatang.

Namun, upaya ini mesti diseriusi dengan konsisten agar menciptakan iklim ramah investasi, seperti kepastian hukum dan kemudahan perizinan bagi pebisnis serta investor dalam mengembangkan usaha di Indonesia.

Tak hanya di level birokrasi di pusat, prasyarat tersebut harus menurun hingga aparat di daerah.

Terbuka pada inovasi teknologi adalah bab berikutnya. Olah sumber daya mentah dan sumber daya manusia merupakan keniscayaan. Industri pengolahan bahan baku baterai bisa menjadi nyala baru industri nasional. 


×