Dibentuk pada masa pendudukan Jepang, Laskar Hizbullah menjadi wadah perjuangan kaum santri dalam membela Tanah Air. | Antara
14 Sep 2021, 13:14 WIB

Kemenparekraf Latih Santri Menjadi Kreator Animasi

Santri merupakan kader pembangun bangsa.

JAKARTA -- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menjaring 550 santri dari pondok pesantren di seluruh Indonesia untuk dilatih menjadi kreator animasi. Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mengatakan, program itu dibuat untuk mendorong para santri memiliki kemampuan di bidang ekonomi kreatif digital.

"Ini tidak hanya untuk meningkatkan kapasitas dan kemampuan santri, tapi menciptakan sumber daya manusia di bidang konten kreatif digital dan bisa bersaing di industri kreatif," kata Sandiaga dalam konferensi pers, Senin (13/9).

Menurutnya, program pemberdayaan santri itu sudah dinantikan oleh lebih dari 31 ribu pondok pesantren di Indonesia yang memiliki sekitar 4,3 juta santri. Target santri yang akan dilatih berusia 15-21 tahun baik yang masih menempuh pendidikan di Madrasah Aliyah (MA) ataupun alumni MA.

"Pelatihan ini fokus untuk content creator atau animator 3D dan 2D serta creative audio production. Kita tahu banyak santri-santri yang punya bakat menjadi kreator animasi," katanya.

Terkait

Lebih jauh, Sandiaga mengharapkan, lewat program pemerintah yang menyentuh pondok pesantren, para santri yang punya minat dan bakat di bidang konten digital ikut menjadi produsen informasi dan literasi. Selain itu, santri juga bisa menjadi penggerak konten-konten bermutu dengan tetap bernilai keagamaan.

Sementara itu, Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif, Neil El Himam, menyampaikan, pelatihan-pelatihan yang menjangkau para santri secara langsung bisa menjadi contoh bagi santri di Indonesia bahwa mereka punya peran untuk menggerakkan ekonomi di daerah masing-masing. Fokus ke bidang animasi dipilih berdasarkan permintaan industri yang relatif cukup tinggi. Terlebih, industri animasi saat ini terus berkembang didukung oleh perkembangan produsen gim yang membutuhkan kreator digital.

"Saya yakin kebutuhan kreator animasi masih banyak dan para santri bisa digerakkan untuk mengisi ini," ujarnya.

 
 
 
Lihat postingan ini di Instagram
 
 
 

Sebuah kiriman dibagikan oleh Santri Putri | #santriputri (storysantriputri)

Santri dilatih mengolah kelor menjadi cokelat

Dosen dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (Unair) melatih santri di Pondok Pesantren Addimyati Nurul Iman, Desa Sukolilo Barat, Bangkalan, Madura, untuk mengolah tanaman kelor menjadi cokelat. Siti Rahayu Nadhiroh, salah satu dosen yang turut memberi pelatohan mengatakan, pelatihan diberikan untuk memaksimalkan pesantren menghasilkan produk UMKM unggulan.

“Kami melihat potensi pesantren untuk menjadi UMKM unggulan dengan memanfaatkan lokasi yang sangat dekat dengan Jembatan Suramadu,” kata Nadhiroh, Senin (14/9).

Nadhiroh mengatakan, di Madura banyak sekali tumbuhan kelor. Selama ini warga sekitar hany mengolahny menjadi sayur, atau terkadang dijadilan obat.  Artinya  kata dia, tumbuhan kelor yang ada belum fimanfaatkan secara maksimal. Padahal, lanjutnya, jika dikreasikan sedemikian rupa, kelor bisa diolah menjadi suatu produk yang bisa memberikan tambahan penghasilan masyarakat.

Ia menyatakan, kelor diolah menjadi cokelat karena merupakan jajanan yang disukai semua kalangan dan tahan lama. “Paling-paling Kelor di sini diolah jadi sayur. Nah sekarang kita inovasikan jadi cokelat. Kami harap Chokelor (cokelat dari kelor) bisa menjadi produk unggulan sekaligus oleh-oleh khas Madura,” ujar Nadhiroh.

Dosen Departemen Gizi FKM Unair tersebut menyatakan, Kabupaten Bangkalan letaknya sangat dekat dengan Jembatan Suramadu menjadi modal tersendiri untuk mengembangkan ekonomi di pesantren itu. Belum lagi, Koperasi pondok pesantren yang sejauh ini telah berjalan dengan menjual produk makanan menurutnya juga menjadi kelebihan untuk pengembangan usaha.

"Namun pengemasannya masih sederhana. Pemasarannya pun masih dari mulut ke mulut dengan konsumen terbatas. Padahal peluangnya sangat besar karena lokasinya sangat strategis dekat Jembatan Suramadu,” kata dia. Nadhiroh berharap, kegiatan yang digelar bisa berdampak tidak saja pada perekonomian pesantren tetapi jug masyarakat sekitar.


×