Takmir mengangkut beras zakat fitrah untuk disalurkan ke rumah warga di Desa Ilie Ulee Kareng, Banda Aceh, Aceh, Selasa (11/5/2021) malam. Penghimpunan zakat dan sedekah dari saluran digital terus meningkat. | IRWANSYAH PUTRA/ANTARA FOTO
14 Sep 2021, 13:04 WIB

Kinerja Zakat Stabil di Tengah Pandemi

Penghimpunan zakat dan sedekah dari saluran digital terus meningkat.

JAKARTA — Kendati dihantam badai pandemi Covid-19, kinerja gerakan zakat Indonesia masih stabil. Pada saat yang sama, adaptasi terhadap sistem digital menjadi keharusan, bahkan perlu terus diperkuat.

Ketua Forum Zakat (Foz) sekaligus Direktur Komunikasi dan Aliansi Strategi Dompet Dhuafa (DD) Bambang Suherman menegaskan hal itu dalam acara focus group discussion (FGD) bertajuk “Optimalisasi Digital Fundraising di Masa Pandemi” yang disiarkan melalui akun Youtube Republika Official, Senin (13/9).

Dijelaskan, pandemi Covid-19 telah berpengaruh pada tingkat kekayaan sejumlah orang. Akibat pandemi, yang salah satunya menimbulkan dampak di bidang ekonomi, taraf kehidupan seseorang bisa berubah. Dari semula muzaki, bisa berubah menjadi mustahik. Atau bisa jadi, bukan lagi tergolong muzaki, tapi juga belum termasuk mustahik.

Pandemi, Bambang melanjutkan, juga membuat sebagian orang makin dermawan. “Makin dekatnya kemiskinan, makin besar keinginan untuk berbagi,” katanya.

Terkait

Lebih lanjut, Bambang mengatakan, berdasarkan data Foz, ada pertumbuhan pengumpulan dana dari konvensional ke digital selama 2019 ke 2020. Sementara di Dompet Dhuafa, sebanyak 74 persen pembayaran donatur ke lembaga telah bergeser ke kanal digital.

Di tengah pandemi ini, menurut Bambang, lembaga-lembaga zakat juga terus bekerja sampai ke tingkat bawah, seperti di tingkat RW ataupun kelurahan. Hal ini karena ada muzaki yang ingin agar tetangga terdekat mereka yang ekonominya terdampak pandemi dapat merasakan manfaat dari penyaluran dana ZIS lembaga zakat.

"Kolaborasi seluasnya, lembaga zakat kecil menempel dengan lembaga zakat sedang, yang besar memberikan fasilitas," kata dia.

Pada forum yang sama, Chief Operating Officer (COO) LinkAja Widjayanto mengatakan, pandemi Covid-19 berdampak pada turunnya status klasifikasi kelas Bank Dunia berdasarkan penghasilan, yakni dari pendapatan menengah atas menjadi menengah bawah. Selain itu, angka pengangguran juga meningkat.

"Indonesia memiliki potensi perekonomian digital yang besar, diproyeksi Rp 1,826 triliun pada 2025. Pandemi Covid-19 turut mempercepat adaptasi teknologi atau penggunaan platform digital," kata dia.

Widjayanto mengatakan, Indonesia dikenal sebagai negara paling dermawan di dunia berdasarkan World Giving Index 2021. Sejalan dengan hal itu, tren penghimpunan zakat dan sedekah dari saluran digital, berdasarkan data Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun.

Menurut dia, pandemi Covid-19 telah mendorong adaptasi digital di berbagai bidang. Hal ini dilakukan untuk mengurangi kontak fisik. Hal itu pun tampak dari transaksi ziswaf (zakat, infak, sedekah, dan wakaf) pada layanan syariah LinkAja yang juga mengalami peningkatan.


×