Khataman Alquran dan pembacaan shalawat kerap dilakukan jamaah saat berada di masjid. Pembacaan Shalawat Badar menjadi peneduh saat gelisah. | Antara

Laporan Utama

11 Sep 2021, 03:49 WIB

Shalawat dan Penyiram Kedamaian Saat Bangsa Gelisah

Khofifah mengungkapkan, Shalawat Badar menjadi menjadi peneduh saat bangsa dalam keadaan sulit.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur akan mengusulkan Shalawat Badar sebagai Warisan Budaya tak Benda (WBTB) kepada Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Gebernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengungkapkan, shalawat ciptaan KH Ali Manshur Siddiq ini menjadi menjadi peneduh saat bangsa dalam keadaan sulit.

“Kita akan segera mengusulkan ini,” ujar dia di Surabaya, Ahad (5/9). 

Gubernur Khofifah pun baru-baru ini mengganjar KH Ali Manshur Siddiq dengan piagam dan lencana tanda kehormatan Jer Basuki Mawa Beya Emas. Piagam ini diberikan bertepatan dengan haul ke-51 KH Ali Manshur.

Ketua Bidang Seni Budaya dan Peradaban Islam MUI KH Jeje Zaenuddin mengaku sependapat jika Shalawat Badar diusulkan menjadi warisan budaya tak benda. Menurut dia, sudah sepantasnya pihak-pihak terkait mendukung karya budaya yang lahir dari semangat keagamaan menjadi warisan budaya.

"Saya berpendapat karya budaya yang lahir dari inspirasi religi yang telah memberi spirit perjuangan membela kemuliaan agama dan keutuhan negara,” kata dia.

Terlebih, ujar dia, warisan budaya sangat erat kaitannya dengan spiritualitas Islam yang notabene pemilik kontribusi terbesar bagi bangunan negara kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Maka dari itu, ujar dia, hal-hal yang mendukungnya perlu diabadikan sebagai peringatan. 

Guru Besar Sosiologi Agama UIN Sunan Ampel Prof Dr Muhammad Baharun, mengatakan, boleh saja jika tradisi shalawatan, termasuk Shalawat Badar khas NU diusulkan jadi warisan budaya. Meski demikian, dia berpesan setelah resmi jadi warisan tak benda, tidak menghilangkan maksud dan tujuannya yaitu memuji. "Asalkan saja shalawatan ini tidak dilepaskan dari akar, maksud, dan tujuannya," kata Prof Muhammad Baharun saat dihubungi Republika, Rabu (8/9).

Menurut dia, tren melokalkan Islam  kian marak. Pertama, semenjak post-kolonial terhadap negeri-negeri  mayoritas Muslim yang dijajah, kini ada upaya dengan metode melepaskan umat  dari sumber asal agamanya.

Kedua, superioritas umat yang rahmatan lil 'alamin dikalahkan dengan superioritas lokal-tradisional sehingga nilai-nilai universal Islam kehilangan maknanya. "Saya berharap apresiasi budaya tak menghilangkan akar agama yang kokoh itu," tutur dia. 

Direktur Pelindungan Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Irini Dewi Wanti mempersilakan masyarakat mengusulkan Shalawat Badar menjadi warisan budaya tak benda. "Silakan diusulkan saja sesuai prosedur pengusulan WBTB, nanti usulan tersebut dikaji oleh tim ahli WBTB," katanya.

Irini mengatakan, jika sudah diusulkan, maka nanti tim ahli yang akan bekerja untuk memproses dalam sidang tim ahli, sekaligus akan menetapkannya. Menurut dia, warisan budaya baik diciptakan atau komunal milik rakyat Indonesia wajib kita lindungi melalui penetapan.

"Dan penetapan dilakukan oleh tim ahli, untuk selanjutnya dikembangkan dan dimanfaatkan baik untuk kepentingan sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan dan agama," kata dia. 

photo
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa memberikan sambutan dalam acara Anugerah Syariah Republika 2020 yang diselenggarakan secara daring di Jakarta, Senin (21/12/2020). Foto : Tangkapan Layar/Edwin Putranto/Republika - (Edwin Dwi Putranto/Republika)

Shalawat yang populer di tataran akar rumput kaum Muslimin Nusantara — bukan hanya warga Nahdliyin — ini dinilai bisa menjadi peneduh bagi bangsa yang saat ini mengalami kegelisahan. Khofifah dalam sambutannya di Surabaya, Jawa Timur menyampaikan kontribusi Shalawat Badar terhadap bangsa. Wartawan Republika Dadang Kurnia pun merangkai kutipannya.

Soal rencana pengajuan Shalawat Badar jadi warisan budaya tak benda?

Saya tugaskan Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata Jatim untuk melanjutkan ke Kemendikbud karena ada penghargaan yang disebut warisan budaya tak benda. Kita akan segera mengusulkan ini (Shalawat Badar).

Kenapa Pemprov Jatim yang mengusulkan?

Karena KH Ali Manshur Shiddiq tinggal di beberapa daerah, sehingga kalau Tuban yang mengusulkan atau Banyuwangi yang mengusulkan, beliau pernah di Mojokerto, pernah di Surabaya. Jadi lebih baik kami dari Pemprov Jatim yang mengajukan.

Kontribusi Shalawat Badar bagi negara?

Ini warisan budaya tak benda negeri ini. Saya rasa menyampaikan terima kasihnya itu tidak terhingga. Sesuatu yang bisa menjadi peneduh dan penyiram kedamaian di saat bangsa ini mengalami kegelisahan.

Bisa Anda beri contoh?

Sangat banyak di antara warga bangsa yang sudah mengenal Shalawat Badar. Tahun 1998 barangkali tidak ada televisi yang tidak mengumandangkan Shalawat Badar. Mereka-mereka yang kerja di perkantoran itu sudah secara refleks mengumandangkan Shalawat badar.

Radio-radio mengumandangkan Shalawat Badar. Pada saat negara ini mengalami krisis moneter yang sangat dalam di tahun 1998-1999 rasanya peneduh penenang dari suasana yang secara ekonomi kita mengalami krisis yang sangat dalam adalah lantunan dari Shalawat Badar.

Pasti kita semua ngiri berapa tumpukan jariyah dari KH Ali Manshur Shiddiq. Dan tentu kita berharap bahwa karomah beliau akan turun netes kepada kita semua terutama yang biasa melantunkan Shalawat Badar.

Banyak yang tidak mengetahui pencipta Shalawat Badar adalah KH Ali Manshur Siddiq?

Sangat sedikit yang mengetahui siapa sebetulnya yang menyiapkan format sehingga bisa menjadi penduh dan penenang ini. Ulama besar dari NU yang kemudian mendedikasikan karyanya yang kemudian tidak hanya dikenal di negeri ini tapi juga dikenal di sangat banyak negara di dunia. Bahkan umat beragama lain pun menikmati.

Saya menyebut menikmati karena ini sudah refleks. Saat itu televisi mengumandangkan, radio juga, sehingga orang hafal dan sama-sama mendapatkan keteduhan dan ketenangan.

Kemungkinan (orang berpikir) oh ini dulu yang menciptakan apakah habib dari Yaman, habib dari Mesir, dari Timur Tengah mungkin begitu. Ternyata adalah tokoh NU yang memang melakukan tugas dakwah keliling di sangat banyak daerah di Indonesia.

 


×