BRI berharap para investor dapat memanfaatkan peluang menyerap sahamnya. | Youtube
10 Sep 2021, 14:29 WIB

BRI: Rights Issue Dorong Valuasi Saham

BRI berharap para investor dapat memanfaatkan peluang menyerap sahamnya.

JAKARTA  — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk optimistis aksi penambahan modal perseroan melalui hak memesan efek terlebih dahulu (HMETD) atau rights issue akan mampu menaikkan valuasi saham emiten berkode saham BBRI itu ke depan. BRI berharap para investor dapat memanfaatkan peluang menyerap sahamnya.

BRI menawarkan 28,213 miliar saham baru Seri B atas nama senilai Rp 50 per saham atau sebanyak-banyaknya 18,62 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh perseroan setelah penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) I.

Direktur Keuangan BRI Viviana Dyah Ayu Retno mengharapkan, para investor dapat memanfaatkan peluang tersebut sekaligus berperan dalam pembentukan ekosistem ultramikro melalui partisipasi dalam rights issue BRI ini.

"Dengan potensi pertumbuhan ekosistem ultramikro yang masih besar, tentu akan menjadi pendorong positif bagi pertumbuhan bisnis BRI dan diharapkan akan berdampak pada kenaikan valuasi saham BRI ke depan,” kata Viviana saat Public Expose BRI secara virtual di Jakarta, Kamis (9/9).

Terkait

Viviana mengatakan, Kamis (kemarin - red) merupakan recording date atau tanggal terakhir dari pendaftaran atas pemilikan saham dalam daftar pemegang saham perusahaan yang berhak atas penjatahan HMETD. Ia menyampaikan, exercise period akan dilaksanakan mulai pekan depan, tepatnya pada 13-22 September 2021.

"Periode ini merupakan periode pemegang saham yang memiliki HMETD yang tercatat pada record date tadi, dapat mengeksekusi HMETD. Dengan timeline ini, kami berharap proses ini dapat berakhir pada 29 September 2021,” ujar Viviana.

Adapun harga pelaksanaan rights issue saham BBRI sebesar Rp 3.400 per lembar saham. Pemerintah akan melaksanakan seluruh haknya sesuai dengan porsi kepemilikan sahamnya dalam BRI dengan cara penyetoran saham dalam bentuk lain selain uang (inbreng) sesuai PP No. 73/2021.

Seluruh saham Seri B milik pemerintah dalam PT Pegadaian (Persero) dan PT Permodalan Nasional Madani (Persero) akan dialihkan kepada BRI melalui mekanisme inbreng. Adapun nilai total PMHMETD I yang telah memperhitungkan inbreng serta eksekusi hak pemegang saham publik adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 95,92 triliun.

Diperinci dari total dana tersebut, nilai inbreng sebesar Rp 54,77 triliun dan sisanya Rp 41,15 triliun apabila seluruh pemegang saham publik mengeksekusi haknya sesuai porsi masing-masing.

"Dana hasil penawaran umum terbatas yang akan kami terima akan kami gunakan dua hal, pertama untuk pembentukan holding ultramikro itu melalui penyertaan saham dalam Pegadaian dan PNM sebagai konsekuensi dari inbreng yang dilakukan oleh pemerintah. Selebihnya, dalam bentuk uang tunai akan kita gunakan sebagai modal kerja dalam pengembangan ekosistem ultramikro serta bisnis mikro dan bisnis kecil,” kata Viviana.

Selain berencana menggelar rights issue, BRI juga menyiapkan dua strategi utama penopang kinerja perseroan di tengah pandemi Covid-19. Direktur Utama BRI Sunarso mengatakan, perseroan aktif melakukan review terhadap infrastruktur dari protokol kesehatan, kebijakan penyaluran dan restrukturisasi kredit, serta mengembangkan produk dan layanan yang adaptif terhadap perubahan perilaku masyarakat.

“Kedua strategi terbukti berhasil, tecermin dari kinerja perseroan yang mampu mencatatkan kinerja positif hingga akhir kuartal II 2021, baik dari sisi balance sheet maupun profitabilitas,” kata Sunarso.

 
Kedua strategi terbukti berhasil, tecermin dari kinerja perseroan yang mampu mencatatkan kinerja positif hingga akhir kuartal II 2021
SUNARSO, Direktur Utama BRI
 

Tercatat pada kuartal II 2021 aset BRI sebesar Rp 1.411,6 triliun atau tumbuh 7,8 persen secara tahunan dan penyaluran kredit sebesar Rp 912,1 triliun atau meningkat lima persen secara tahunan atau lebih baik dibandingkan pertumbuhan industri perbankan nasional sebesar 0,6 persen.

Pertumbuhan kredit didorong segmen mikro tumbuh 17,0 persen yoy, disumbang oleh penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) Mikro sebesar Rp 87 triliun sepanjang 2021.

Kemudian, pada kuartal II 2021 profitabilitas BRI tumbuh positif, laba bersih tumbuh  22 persen yoy menjadi Rp 12,45 triliun dan net interest income (NII) sebesar Rp 46,35 triliun atau tumbuh 34,2 persen secara tahunan.

“Di tengah kondisi pandemi yang menantang ini, BRI optimistis mampu menjaga pertumbuhan yang kuat dan sustainable masa yang akan datang sebagai strategi securing strong and sustainable future growth,” ujar Sunarso.

Sumber : Antara


×