Priyantono Oemar | Daan Yahya | Republika

Kisah Dalam Negeri

05 Sep 2021, 10:12 WIB

Jepang Masuk, Belanda Angkat Menteri dari Indonesia

Soedjono satu-satunya orang dari negeri jajahan Belanda yang menduduki jabatan menteri di negeri penjajahnya.

OLEH PRIYANTONO OEMAR

KRAA Soejono mendapat sambutan khusus saat ia tiba di Pelabuhan Tanjung Priok pada 28 Februari 1940. Keesokan harinya, ia akan dilantik sebagai anggota Raad van Indie, menggantikan Hussein Djajadiningrat.

Dari Belanda, Soejono naik Kapal Dempo bersama kurator museum GW Locher (Batavia); petenis Kho Sin Kie (Batavia); A Regnault, direktur pabrik cat Regnault (Batavia); dan van Houts, manajer pabrik rokok NV Faroka (Malang). Penumpang yang turun di Belawan pada 25 Februari ada pengacara Mr Sandberg.

Kedatangan Soejono disambut oleh Gubernur Jawa Barat van der Hoek, Mangkunegoro VII yang sedang berada di Batavia menunggui anaknya yang sakit, Hussein Djajadiningrat, dan beberapa anggota Volksraad dan Raad van Indie, serta para pejabat dan kalangan usaha. Selama di Belanda, Soejono menjadi anggota delegasi Belanda pada Komite Regulasi Karet Internasional. Ia juga diperbantukan di Kementerian Koloni mengurusi Indonesia.

Sambutan yang didapatkan Soejono ini sepertinya tidak dialami oleh orang-orang semacam Moh Hatta, Tjipto Mangoenkoesoemo, Soewardi Soerjaningrat, juga M Tabrani --mantan pemred Hindia Baroe dan ketua Kongres Pemuda Indonesia I (1926).

Pencetus bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan itu bahkan harus menggunakan identitas orang lain untuk bisa pulang ke Indonesia setelah belajar di Belanda, Inggris, dan Jerman. Itu ia lakukan karena mendapat catatan khusus dari pemerintah kolonial. Bukunya yang ia terbitkan di Belanda, Ons Wapen, dilarang beredar oleh pemerintah kolonial.

Ketika Ratu Belanda harus mengungsi ke London karena Jerman sudah memasuki wilayah Belanda, Soejono berangkat ke Belanda lagi untuk diangkat sebagai menteri negara dengan tugas khusus. Dialah satu-satunya orang dari negeri jajahan Belanda yang menduduki jabatan menteri di negeri penjajahnya. Dari dua negeri koloni lainnya, Suriname dan Curacao, tidak ada yang diangkat menjadi menteri.

photo
Pangeran Adipati Ario Soejono, menteri di era pemerintahan kolonial Belanda yang warga pribumi. - (DOK Wikipedia)

Saat Ratu Belanda mengungsi, Tabrani yang telah menjadi pemred Pemandangan juga harus berususan dengan pihak berwajib hingga korannya diberedel selama sepekan. Penyebabnya, Pemandangan menegaskan perlunya memberi Indonesia kemandirian pemerintahan di saat Belanda memerlukan “pertolongan”.

Ini menjadi tahun-tahun sulit bagi Belanda. Pemerintahannya harus mengungsi ke negara lain, tapi tidak membawa serta parlemennya. Kekuasaannya di Hindia Belanda juga terancam oleh rencana serangan Jepang. Dan serangan Jepang pun berhasil menguasai Hindia Belanda.

Ini yang kemudian mendorong Belanda mengangkat Soejono sebagai menteri–sebagai penghubung Belanda dengan Indonesia untuk perjuangan membebaskan Hindia Belanda dari cengkeraman Jepang.

Koran-koran memberitakan pelantikan Soejono yang dilakukan pada 9 Juni 1942 (Harry A Poeze mencatatnya 6 Juni). Usai pengambilan sumpah, Soejono menyatakan, dia bisa bekerja untuk mendukung persatuan Belanda dan Indonesia agar bisa berjalan bersama di masa depan di bawah naungan Kerajaan Belanda.

 
Soejono mengaku bisa bekerja untuk mendukung persatuan Belanda dan Indonesia agar bisa berjalan bersama di masa depan di bawah naungan Kerajaan Belanda.
 
 

“Ini merupakan indikasi bahwa pemerintah ingin dan akan memberikan suara penuh kepada rakyat Indonesia dalam pemerintahan Hindia Belanda,” ujar Soejono.

Penunjukan Soejono sebagai menteri dipuji pers Belanda sebagai langkah besar. Langkah yang meninggalkan pemerintahan kolonial berada jauh di belakang. Tapi, benarkah demikian?

Menurut Harry A Poeze, pengangkatan Soejono dimaksudkan untuk “memberi tahu” Amerika bahwa Belanda bukan negara kolonial yang reaksioner. Soejono langsung dilibatkan membahas posisi ketatanegaraan Indonesia setelah perang untuk meyakinan Amerika dan sekutunya agar tak ragu berperang melawan Jepang.

Pada pertemuan Masyarakat Muslim Inggris, Soejono menjadi tamu kehormatan. Ketua Masyarakat Muslim Inggris memuji Soejono yang melakukan perjalanan ribuan mil untuk mengikuti contoh ratu agungnya: Bekerja di luar negeri untuk membebaskan Hindia Belanda dari belenggu Jepang.

Sang ketua pun lantas menyatakan, Muslim Inggris mendukung perjuangan Soejono. Soejono lalu menjelaskan, Muslim sebagai penduduk terbesar di Indonesia siap memainkan peran penting dalam perbaikan dunia dan kemanusiaan, seperti halnya Muslim di negara lain.

Dalam kesempatan itu, cendekiawan Sirdar Ikbal Ali-Shah menegaskan kewajiban Muslim bekerja sama dalam mencapai kemenangan Sekutu. “Kami menantikan saat-saat di mana Jepang diusir dari Hindia Belanda agar kemakmuran dan kebahagiaan umat Islam dapat berlanjut di bawah kepemimpinan Belanda,” ujar Sirdar, seperti dikutip koran Amigoe di Curacao yang terbit di negeri jajahan Belanda, Curacao, Juni 1942.

Namun, kenyataan berkata lain. Setelah Jepang kalah, Indonesia memerdekakan diri, meski ada daerah-daerah yang masih kosong kekuasaan pemerintahan Indonesia yang oleh Jepang diserahkan kepada Inggris sebagai wakil Sekutu. Inggris lalu menyerahkannya kepada Belanda.

 
Pada Oktober 1942, Soejono sempat menyampaikan dua nota tentang keinginan sebagian besar orang Indonesia memutuskan sama sekali hubungan dengan Belanda.
 
 

Pada Oktober 1942, Soejono sempat menyampaikan dua nota tentang keinginan sebagian besar orang Indonesia memutuskan sama sekali hubungan dengan Belanda. Karenanya, seperti dicatat Poeze, ia meminta agar Belanda memberi jaminan “lahirnya kebersamaan sukarela dalam ikatan ketatanegaraan”. Tapi, nota Soejono ditolak Belanda.

Soejono adalah anak Mangkunegoro VI, tapi tak bisa menjadi pangeran lantaran ia lahir sebelum kedua orang tuanya memiliki ikatan resmi. Pada 1915, ia dilantik menjadi bupati Pasuruan, pada 1920-an menjadi anggota Volksraad, dan pada 1930 diberi cuti setahun untuk belajar pertanian, peternakan, perikanan, dan koperasi di Belanda.

Tak lama setelah pelantikan sebagai menteri, Soejono mendapat penghargaan dari Ratu. Ia diberi songsong emas (payung kebesaran berlapis emas) dalam bentuk yang lebih kecil daripada songsong emas di Keraton Solo dan Yogyakarta. Ratu memberinya gelar pangeran.

Lahir di Tulungagung 31 Maret 1886, Soejono meninggal pada Januari 1943—sebelum berhasil merebut Hindia Belanda dari Jepang—karena serangan jantung. Ia dimakamkan di London pada 8 Januari 1943. Kabinet Belanda pun mengadakan rapat luar biasa karenanya.

Perdana Menteri Belanda Pieter Sjoerd Gerbrandy menyatakan, Soejono merupakan pemimpin yang mencintai rakyatnya, tetapi juga memahami jalinan ikatan Belanda, Eropa, dan Asia. “Sejarah akan menghormati Soejono sebagai salah satu yang terbaik dari rakyat. Ratu dan pemerintah sama-sama menderita kerugian yang tidak dapat diperbaiki,” ujar Gerbrandy, seperti dikutip Amigoe di Curacao.

Entahlah. Jika di Curacao ada pengibaran bendera setengah tiang untuk menghormati kepergian Soejono, entah saat itu Indonesia melakukan hal yang sama atau tidak.

Dua tahun kemudian, anaknya yang belum genap usia 23 tahun, juga meninggal dunia. Irawan Soejono yang selama di Belanda aktif melawan Jerman, meninggal setelah ditembak tentara Nazi pada 13 Januari 1945.


×