ILUSTRASI Salah satu tanda keimanan dalam diri seorang Muslim ialah adanya rasa cinta kepada Rasulullah SAW. | DOK ANTARA Saptono
05 Sep 2021, 08:07 WIB

Jalan Cinta Ilahi

Untuk menjadi orang yang dicintai Allah, seseorang harus mengikuti kekasih-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW.

OLEH MUHYIDDIN

 

 

Bagi umat Islam, tidak ada tujuan yang lebih luhur selain ridha Allah SWT. Khususnya menurut kaum sufi, keridhaan Allah Ta’ala haruslah dicapai dengan perantaraan cinta-Nya. Karena itu, harapan tertinggi mereka ialah mencintai sekaligus dicintai oleh Rab semesta alam.

Terkait

Salah satu istilah dalam keilmuan tasawuf adalah mahabah. Terminologi itu berasal dari bahasa Arab, ahabba, yuhibbu, mahabbatan. Artinya, ‘mencintai secara mendalam'. Maksudnya, cinta yang sangat tulus diarahkan hanya kepada Allah SWT. Cinta yang murni itu menjadi jalan bagi seorang insan untuk kemudian dimuliakan oleh-Nya.

Allah SWT merupakan tujuan tertinggi dan paling hakiki dalam kehidupan umat Islam di dunia ini. Karena itu, apa pun yang dilakukan haruslah berujung kepada harapan menggapai ridha-Nya. Salah satu caranya dengan memahami mahabbah.

Konsep ini juga dapat dimaknai sebagai perasaan yang terpusat kepada Tuhan. Dengan bermahabah, seseorang akan lupa pada kepentingan diri sendiri karena mendahulukan cintanya kepada Allah. Kalau sudah begitu cinta kepada-Nya, ia akan menjadi seorang insan yang paling terdepan dalam melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya.

Konsep mahabbah ini telah banyak dijabarkan oleh para ulama sufi, baik yang laki-laki maupun perempuan. Salah seorang di antaranya ialah Aisyah al-Ba’uniyah. Ia disebut-sebut sebagai perempuan sufi terbesar setelah Rabi'ah binti Ismail al-Adawiyah.

Nama lengkapnya adalah Aisyah binti Yusuf bin Ahmad bin Nashir al-Ba’uni. Gelar al-Ba’uniyah dinisbatkan kepada sebuah daerah bernama Ba’un di kawasan Ajloun, Yordania Utara. Perempuan ini lahir di Damaskus pada 865 Hijriah atau 1460 Masehi.

 
Konsep mahabbah ini telah banyak dijabarkan oleh para ulama sufi, baik yang laki-laki maupun perempuan. Salah seorang di antaranya ialah Aisyah al-Ba’uniyah.
 
 

Sejarawan Ibnu al-Imad al-Hambali menjelaskan, Aisyah al-Ba’uniyah sebagai seorang syaikhah yang cerdas. Ulama yang wafat pada 922 Hijriah atau 1517 Masehi itu juga dikenang sebagai seorang penggubah teks sastra. Badan kebudayaan PBB (UNESCO) mengumumkan periode 2006-2007 sebagai tahun peringatan internasional untuk mengenang lima abad kelahiran sang salik.

Berdasarkan data sejauh ini, sekurang-kurangnya ada 16 kitab yang pernah ditulis Aisyah al-Ba’uniyah di sepanjang hayatnya. Dari seluruh karyanya tersebut, dapat dilihat betapa besar cinta Aisyah al-Ba’uniyah sebagai seorang sufi. Salah satu buah tangannya yang berbicara, terutama, tentang cinta kepada Allah dan Nabi Muhammad SAW ialah Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab fi ‘Ilm at-Tashawwuf.

Kitab monumental itu telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia. Edisi bahasa Indonesia diterbitkan antara lain oleh Penerbit Turos. Judulnya ialah Menjalin Ikatan Cinta Allah SWT. Secara keseluruhan, isinya berkaitan dengan ajaran mahabah ala Syaikhah Aisyah al-Ba’uniyah. Buku tersebut mengungkapkan empat prinsip yang dapat ditempuh para pencari untuk menuju Allah, yaitu tobat, ikhlas, zikir, dan akhirnya cinta (mahabbah).

Menurut al-Ba’uniyah, seperti dinukil dalam buku Menjalin Ikatan Cinta Allah SWT, makna tobat adalah ‘kembali ke asal'. Seorang pencari Tuhan atau salik, katanya, haruslah melakukan pertobatan baik secara lahir maupun batin.

Sang syaikhah menuturkan, puncak dari tingkatan ini adalah kembali kepada Allah dengan cara menyesali dan berlepas diri dari dosa-dosa. Salik yang bertekad teguh tidak akan sudi mengulangi kesalahan yang sama.

Dalam menjelaskan prinsip ikhlas, Aisyah menuturkan, seorang hamba Allah haruslah pertama-tama memurnikan ketaatan kepada Allah. Laku ibadahnya ditujukan hanya kepada-Nya. Banyaknya amalan ubudiyah akan sia-sia bila tidak bertujuan ridha-Nya, semisal hanya mengharapkan puji dan simpati manusia. Karena itu, menurutnya, amal yang sedikit sudah mencukupi jika dilakukan atas dasar keikhlasan.

 
Barangsiapa masih melihat keikhlasan dalam amalan, ia masih butuh belajar keikhlasan.
 
 

Dia mengatakan, keikhlasan harus melibatkan nafsu, hati, dan jiwa. Salah satu tanda keikhlasan, lanjutnya, ialah ketika perilaku seseorang sudah seperti perangai anak kecil. Dia pun membuat sebuah syair untuk menjelaskan makna keikhlasan. “Barangsiapa masih melihat keikhlasan dalam amalan, ia masih butuh belajar keikhlasan. Jangan heran andai suatu hari kamu curiga dan bertanya, mengapa dulu aku berbuat sesuatu sebegitunya.”

Mursyid Tarekat Qadiriyah ini pun mengutip riwayat dari Ibnu Mas’ud. Dalam hadis tersebut, disampaikan bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda, “Orang yang bertobat dari dosanya, seperti orang yang tidak memiliki dosa sama sekali” (HR. Ibnu Majah dan ath-Thabrani).

Selain prinsip tobat dan ikhlas, prinsip zikir juga penting untuk ditempuh para pencari Tuhan. Dalam buku ini, Syaikhah Aisyah telah menjelaskan secara perinci pengertian zikir. Itu mulai dari perspektif ahli bahasa hingga kalangan ahli tasawuf.

Namun, perempuan sufi ini mengakui bahwa mengingat Allah itu lebih berat ketika tanpa adanya hasrat meminta imbalan. Pamrih itu, umpamanya, adalah keinginan agar siksa-Nya tidak dijatuhkan kepada hamba tersebut. Alhasil, salik ini lebih mengharapkan pahala dari-Nya.

Sementara itu, mahabbah adalah prinsip yang mungkin paling berat untuk ditempuh para pencari Tuhan. Menurut Aisyah al-Ba’uniyah, cinta Ilahi tersebut mensyaratkan peniadaan selain-Nya dari dalam hati secara total. Tujuannya agar yang mencintai menyatu dengan Zat yang dicintai.

Aisyah mengatakan, untuk menjadi orang yang dicintai Allah, seseorang harus mengikuti kekasih-Nya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Hal ini telah ditegaskan dalam sebuah firman Allah yang dikutip dalam buku tersebut.Artinya, “Katakanlah, ‘jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mengasihi kalian.” (QS Ali Imran: 31).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, “Laa yu’minu ahadukum hatta akuna ahabba ilaihi min waalidihi wa waladihi wannaasi ajma’in.” Artinya: “Tidak sempurna iman seseorang dari kalian sampai diriku (Rasulullah SAW) lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya, dan seluruh manusia.”

Nabi SAW merupakan kekasih Allah. Rasulullah SAW pun sangat mencintai umatnya. Mencintai Rasulullah merupakan tanda mencintai Allah. Dan mencintai Rasulullah termasuk kunci meraih cinta Allah SWT. Orang yang mencintai Rasulullah SAW akan dicintai Allah SWT. Itulah rumusannya.

Selain itu, Aisyah al-Ba’uniyah juga menyebut sekian banyak tanda seseorang yang cinta kepada Allah Swt. Salah satunya adalah kerelaan atau ridha. “Derajat terendah dari cinta adalah jika dia dilemparkan Kekasihnya ke neraka, komitmennya untuk tetap mencintai-Nya tidak pernah tergoyahkan,” tulisnya, menukil nasihat seorang ahli makrifat.

 
Kuhapus namaku dan jejak tubuhku. Aku menghilang dariku selagi ada-Mu. Dalam fanaku telah fana kefanaanku. Dalam fanaku aku menemukan Kamu.
 
 

Dia pun menggambarkan cinta ilahi dalam bentuk puisi, “Kuhapus namaku dan jejak tubuhku. Aku menghilang dariku selagi ada-Mu. Dalam fanaku telah fana kefanaanku. Dalam fanaku aku menemukan Kamu.”

Untuk menjelaskan konsep mahabah, dalam buku ini Aisyah juga banyak mengutip pendapat para ulama sufi terdahulu. Sebut saja, Imam al-Qusyairi, ar-Rudzbari, Abu Abdullah al-Qurasyi, Rabi’ah al-Adawiyah, Abu Ya’qub as-Susi, serta Syekh Abu Hasan asy-Syadzili.

Pembahasan buku ini terfokus pada empat prinsip utama yang harus dimiliki seorang salik tersebut. Jika mampu menempuhnya, menurut Asiyah, maka seorang hamba akan merasakan sebuah ikatan cinta dengan Allah. Ikatan cinta ini merupakan Taman Firdaus bagi para pencinta Tuhan atau Muhibbin.

Pertama kali diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin mendapatkan pencerahan spiritual dan cinta ilahi. Dengan penuturan yang mudah dipahami, buku ini tidak akan membosankan. Para pembaca justru akan semakin penarasan untuk menyelami pemikiran sang syaikhah secara lebih mendalam.

Selain itu, buku ini juga dilengkapi dengan teks bahasa Arab kitab asli Aisyah al-Ba’uniyah. Kitab sufi ini menjadi salah satu kitab rujukan terbaik bagi umat Islam untuk menjalin ikatan cinta dengan Allah SWT. Karena, sejatinya hanya kepada Allah-lah kita memberikan cinta yang paling tinggi. Ajaran mahabah dalam buku ini akan membersihkan jiwa para pembaca, sehingga kelak bisa tenang berzikir, mendekatkan diri kepada-Nya. 

photo
Buku ini merupakan terjemahan atas karya Aisyah al-Bauniyah, Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab fi Ilm at-Tashawwuf. - (DOK IST)

DATA BUKU:

Judul: Menjalin Ikatan Cinta Allah SWT: Empat Tahapan Hakikat Menjadi Kekasih-Nya (terjemahan atas Al-Muntakhab fi Ushul ar-Rutab fi ‘Ilm at-Tashawwuf)

Penulis: Aisyah al-Ba’uniyah

Penerjemah: Abdul Majid

Penerbit: Turos Khazanah Pustaka Islam

Tebal: 296 halaman


×