Warga melintas di depan mural bertuliskan Rip Keadilan, di Jalan Veteran, Kota, Kudus, Jawa Tengah, Kamis (15/10/2020). Berlaku adil untuk semua kalangan. | YUSUF NUGROHO/ANTARA FOTO
05 Sep 2021, 05:30 WIB

Adil Bagi Semua

Berlaku adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah.

OLEH A SYALABY ICHSAN

Amr bin Ash menempati sebuah istana yang megah sejak diangkat menjadi Gubernur Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab. Di depannya, terhampar sebidang tanah kosong berawa. Ada gubuk reot yang berdiri ringkih di atasnya.

Selaku gubernur, Amr ingin agar di atas itu ada masjid yang indah dan mewah agar seimbang dengan istananya. Terlebih, saat Amr tahu jika tanah tersebut merupakan kepunyaan seorang Yahudi. Sang kakek pemilik gubuk itu pun dipanggil Amr ke istana. Dia bermaksud membebaskan tanah yang dikuasai Yahudi itu. “Hai Yahudi, berapa tuan mau jual tanahmu sekalian dengan gubuknya? Aku akan membangun masjid di atasnya.“

Yahudi itu menggelengkan kepala. “Tidak akan saya jual tuan,” ujar dia. Yahudi itu menolak menjualnya saat Amr menawar dengan harga lima kali lipat dari harga biasa. Yahudi itu pun mempertegas jawabannya, ”Tidak,” kata dia.

Terkait

Amr lantas menetapkan surat keputusan untuk membongkar gubuk reot milik Yahudi itu. Ia meminta supaya didirikan masjid besar di atas tanah itu dengan alasan demi kepentingan bersama dan memperindah pemandangan mata.

Menghadapi tindakan penguasa, si pemilik gubuk hanya mampu menangis dalam hati. Namun, ia bertekad mengadukan perbuatan gubernur kepada atasaannya di Madinah, yaitu Khalifah Umar bin Khattab.

Di Madinah, Yahudi tua itu menemui Umar yang sedang duduk di samping pohon kurma yang berada di samping Masjid Nabawi. Dia pun menceritakan semua yang dialami tanpa dikurangi atau ditambah sedikit pun. 

photo
Seorang pria melintas di dekat coret-coretan bertuliskan Keadilan Sedang Tidur di kawasan Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/9/2019). ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj. - (ANTARA FOTO)

Muka sang khalifah merah padam. Dia lantas meminta warga Mesir itu untuk mengambil tulang busuk yang berasal dari belikat unta. Di tulang itu, Umar menggoreskan huruf alif sederhana dari atas ke bawah yang dipalang di bagian tengahnya.

Kakek itu tidak puas. Bukannya keadilan, dia malah mendapatkan sepotong tulang busuk yang dicoret-coret. Melihat kakek tidak senang, Umar berkata, “Hei kakek Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang tuan inginkan.”

 
Hei kakek Yahudi. Pada tulang busuk itulah terletak keadilan yang tuan inginkan.
 
 

Kakek itu kemudian pulang ke Mesir. Dia menemui Amr sambil membawa tulang itu. Kakek itu pun menyerahkan tulang tersebut. Melihat tulang busuk beserta coretan pedang, Amr pucat ketakutan. Tanpa pikir panjang, dia langsung menyuruh anak buahnya untuk merobohkan masjid megah yang baru saja siap itu.

Sebelum dibongkar, sang kakek bertanya kepada Amr mengenai pesan dari khalifah. Tulang itu berisi ancaman sang khalifah. Dia seolah berkata: “Wahai Amr! Ingatlah kamu. Betapa pun tinggi pangkat kekuasaanmu, suatu saat kamu akan menjadi tulang yang busuk! Karena itu, berlaku adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Jika tidak bertindak lurus, kupalang di tengahmu. Kutebas batang lehermu!”

Kisah penggusuran gubuk orang Yahudi menjadi salah satu prinsip keadilan di dalam Islam. Pemimpin umat dilarang untuk mengambil tanah milik orang lain dengan kezaliman. Rasulullah SAW pernah bersabda. "Barang siapa mengambil sejengkal tanah secara zalim, maka akan dikalungkan kepadanya tujuh lapisan bumi."(HR Muslim).

 
Kisah penggusuran gubuk orang Yahudi menjadi salah satu prinsip keadilan di dalam Islam.
 
 

Untuk itu, menegakkan keadilan harus secara mutlak dan menyeluruh. Tidak karena sebab sesuatu, keadilan itu berubah fungsi. Jangan karena perbedaan kedudukan, golongan, agama dan keadaan sosial mengakibatkan perlakuan keadilan itu tidak sama. 

Di dalam QS al-Maidah ayat 8, Allah SWT berfirman: "Janganlah karena kebencian terhadap suatu kaum menyebabkan kamu tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa."

Dalam Islam. kedudukan rakyat dan pemerintah adalah sama. Pejabat merupakan pengokoh suatu masyarakat yang menginginkan kesempurnaan. Tidak heran jika Rasulullah SAW pernah berpesan kepada Usman bin Zaid: “Kehancuran pemerintahan dahulu karena mereka menjalankan hukuman berat sebelah.”

Wallahu a’lam.


×