Penumpang menaiki gerbong Kereta Api Sibinuang di Stasiun Simpang Haru, Padang, Sumatera Barat, Selasa (6/7/2021). Perjalanan kereta api di wilayah Divre II Sumbar pada masa PPKM Darurat tetap berjalan normal tapi ada penyesuaian kapasitas penumpang dari | ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
30 Aug 2021, 07:16 WIB

Memacu KAI Saat Pandemi Covid-19

KAI terus berupaya mengamankan laju lokomotifnya di tengah pembatasan karena pandemi.

OLEH RAHAYU SUBEKTI

Pandemi Covid-19 mengusik laju lokomotif PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Sejak kasus Covid-19 pertama ditemukan di Indonesia pada 2 Maret 2020, transportasi menjadi salah satu sektor yang paling terasa dampaknya karena pembatasan mobilitas demi memutus rantai penyebaran Covid-19.

Padahal, kala itu bisa menjadi peluang emas bagi KAI melanjutkan puncak pendapatan KAI yang pada 2 Januari 2020 mencapai Rp 38,82 miliar. Jika Covid-19 tidak masuk ke Indonesia, KAI memiliki peluang meraup peningkatan pendapatan bisnis karena pada Mei 2020, yang merupakan hari raya Idul Fitri yang berarti ada tradisi mudik dan menyebabkan peningkatan trafik penumpangnya.

Pendapatan KAI pun pada akhirnya terus tergerus sejak Maret 2020. Edi mengatakan, kerugian kas operasional perusahaan pada Maret 2020 mencapai Rp 693 miliar karena terjadi penurunan penumpang yang signifikan.

Terkait

Sepanjang kuartal I 2020, KAI melayani 1,2 juta penumpang per hari. Dari total tersebut, sebanyak 775.501 orang merupakan penumpang kereta rel listrik (KRL), 208.210 orang merupakan penumpang kereta api jarak jauh, dan 5.891 orang merupakan penumpang kereta bandara.

Sayangnya, pada 31 Maret 2020, jumlah penumpang harian KAI hanya menyisakan 275.827 orang. Dari total tersebut, penumpang KRL hanya 226.625 orang, penumpang kereta api jarak jauh 48.773 orang, dan penumpang kereta bandara hanya 429 penumpang.

Meskipun begitu, KAI terus berupaya untuk mengamankan laju lokomotifnya di tengah pembatasan yang harus dilakukan. Pada 2020, pemerintah beberapa kali menerapkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Kemudian, pada 2021, pemerintah juga melanjutkannya dengan menerapkan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM).

Banyaknya kebijakan pembatasan yang diterapkan menjadi tantangan tersendiri bagi KAI untuk bertahan. Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo mengakui, pandemi Covid-19 sangat memengaruhi penurunan jumlah penumpang yang dilayani KAI. Padahal, pada 10 Februari 2020 jumlah harian penumpang KAI mencapai 1,27 juta orang.

Di tengah keterbatasan yang ada, KAI pun terus mencari cara untuk beradaptasi dengan pandemi Covid-19. Inovasi hingga peningkatan kinerja tetap harus dilakukan agar lokomotif tetap berjalan serta menghadirkan konektivitas yang aman dan nyaman bagi masyarakat di tengah pandemi Covid-19.

Didiek meyakini bisnis angkutan barang menjadi salah satu kunci untuk menjaga performa bisnis selama pandemi Covid-19. KAI pun terus bekerja keras dalam meningkatkan performa angkutan barangnya. "Adaptasi, inovasi, dan kolaborasi menjadi kunci penting untuk KAI agar tetap tumbuh di dalam situasi krisis saat ini," kata Didiek.

Mengakhiri semester I 2021, kinerja angkutan barang KAI terus menunjukkan tren positif. Pada Januari-Juli 2021, KAI melayani angkutan barang sebanyak 28,2 juta ton. Angka tersebut menunjukkan peningkatan hingga 8,9 persen dibandingkan periode yang sama pada 2020 yang hanya 25,9 juta ton barang.

“Kenaikan volume barang yang KAI layani ini sangat penting bagi KAI untuk tetap survive di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang masih berlangsung," kata Didiek.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by KAI121 (kai121_)

Pengamat transportasi Djoko Setijowarno menilai, angkutan logistik kereta api sangat memiliki potensi yang besar. Khususnya untuk mengambil peluang peralihan logistik dari truk ke kereta api. Terlebih, truk angkutan logistik sering kali beroperasi dengan kelebihan muatan dan dimensi.

Namun, Djoko menilai, untuk mengambil peluang peralihan tersebut masih tersandung oleh persoalan kebijakan. "Logistik menggunakan moda kereta api masih dikenakan PPN 10 persen dari TAC sehingga ongkos angkutnya lebih mahal dibandingkan jalan darat," kata Djoko.

Selain itu, KAI terus mencari celah untuk beradaptasi di tengah pandemi, salah satunya dengan meningkatkan komersialisasi aset. Bisnis komersialisasi nonangkutan terus diandalkan demi meningkatkan kinerja perusahaan setelah dihantam pandemi Covid-19.

VP Public Relations KAI Joni Martinus menambahkan, masih banyak aset potensial yang dimiliki KAI untuk terus diusahakan selama pandemi. Bentuk komersialisasi nonangkutan KAI berupa kerja sama pemanfaatan aset stasiun, sarana, right of way (ROW), non-ROW, hingga museum.

Joni mengungkapkan, hampir seluruh aset KAI dapat dimanfaatkan masyarakat dengan skema kerja sama. Hal tersebut dapat dilakukan sepanjang tidak mengganggu operasional kereta api dan tidak mengubah status kepemilikan pada aset yang dimanfaatkan.


×