Pengusaha sepatu kulit Nabella Zya Arofah memotret produknya untuk diunggah di pasar digital di rumah produksi Gloeshoes Leather, Malang, Jawa Timur, Senin (16/8/2021). Produk Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) binaan Bank BRI tersebut digemari konsumen da | ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto

Ekonomi

30 Aug 2021, 06:52 WIB

BRI Perkuat Segmen Usaha Mikro

BRI berupaya membantu pelaku usaha mikro yang memerlukan akses layanan keuangan formal.

JAKARTA — PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk memfokuskan untuk memperkuat bisnis kredit mikro. Bank pelat merah tersebut menargetkan 45 persen penyaluran kredit ke segmen mikro dari total portofolio pada 2025.

Sekretaris Perusahaan BRI Aestika Oryza Gunarto mengatakan, perseroan menggunakan strategi go smaller, go shorter, dan go faster untuk mencapai 45 persen kredit mikro pada 2025. “Ultramikro tentu akan menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru bagi BRI ke depannya,” ujarnya kepada Republika di Jakarta, Ahad (29/8).

Menurut Aestika, BRI berupaya menerapkan strategi business follow stimulus, salah satunya 72 persen penerima banpres produktif usaha mikro (BPUM) membutuhkan modal tambahan untuk menjalankan usahanya. “Ini merupakan potensi bagi BRI untuk menumbuhkan kredit mikro,” ujar Aestika.

BRI mencatatkan kredit mikro tumbuh dari Rp 313,41 triliun menjadi Rp 366,56 triliun pada Juni 2021. Adapun realisasi ini menyumbang 39,44 persen terhadap total portofolio kredit BRI senilai Rp 929,40 triliun pada Juni 2021.

Saat ini, terdapat 57 juta pelaku usaha ultramikro. Tercatat, sebanyak 30 juta di antaranya belum mendapatkan akses pendanaan formal. “Pasar segmen mikro masih cukup besar, sehingga BRI akan menyasar usaha ultramikro,” kata Aestika.

Direktur Bisnis Mikro BRI Supari menambahkan, layanan keuangan yang dibutuhkan para pelaku usaha mikro, sebagian besar layanan pembiayaan atau kredit. Tercatat, lebih dari 53 juta pelaku usaha mikro memerlukan kemudahan akses layanan keuangan formal dan sebagian besarnya atau lebih dari 31 persen adalah pelaku usaha mikro sektor pertanian.

“Kemudahan akses layanan keuangan (pembiayaan) kepada mereka diharapkan dapat berkontribusi dalam percepatan program inklusi nasional dan program porsi pinjaman UMKM terhadap total pembiayaan nasional,” kata Supari.

Tercatat, portofolio kredit mikro BRI pada akhir 2019 sebesar Rp 307,7 triliun. Selama satu tahun lebih masa pandemi Covid-19, BRI berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit mikro hampir 20 persen. Hal tersebut ditopang oleh penyaluran kredit mikro sebesar Rp 339,1 triliun kepada 10,5 juta pelaku usaha mikro.

Dari total penyaluran tersebut, sebesar Rp 161,6 triliun atau 47,5 persen disalurkan sektor pertanian dengan lima subsektor ekonomi prioritas. Selama tiga tahun terakhir, pembiayaan mikro BRI kepada sektor pertanian selalu mengalami peningkatan dan memberi kontribusi hampir 20 persen terhadap ekonomi nasional.

“Selama masa pandemi Covid-19 yang dimulai sejak Maret 2020, tidak menyurutkan BRI untuk semakin meningkatkan kontribusinya ke sektor pertanian,” ujar Supari.

Supari mengatakan, sektor pertanian menjadi salah satu sektor pertumbuhan BRI pada masa pandemi. Karena itu, seluruh infrastruktur yang relevan dilakukan penataan kembali untuk makin dapat memberi ruang akses kepada pelaku usaha mikro sektor pertanian.

Upaya tersebut, yakni, pertama diwujudkan dengan mendekatkan 28 ribu mantri sebagai ujung tombak pemberdayaan BRI di ekosistem desa. Kedua, peningkatan berbagai program pemberdayaan klaster yang meliputi literasi dasar, bisnis, dan digital. “Tercatat telah ada 10 ribu klaster dan 4.700 klaster di antaranya klaster pertanian,” kata Supari.

Sebelumnya, BRI juga menyatakan siap membantu memberikan akses ke pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia atau Gernas BBI secara virtual. Para pelaku UMKM di Tanah Air didorong mengekspor hasil karyanya.

"Ini tujuannya apa? Dalam kondisi pandemi di mana UMKM biasanya kuncinya adalah tatap muka, kita ingin membantu memberikan akses ke pasar yang lebih luas lagi,” kata Wakil Direktur Utama Bank BRI Catur Budi Harto.

Catur menilai, sektor UMKM penting karena UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM, terdapat lebih dari 60 juta pelaku UMKM yang hampir 99 persennya merupakan pelaku usaha. Kontribusi UMKM terhadap PDB sebesar 60 persen.

Kemudian, di BRI, porsi UMKM minimal sekitar 80 persen atau hampir Rp 750 triliun dari porsi kredit BRI ada di UMKM. Gernas BBI Agustus tahun ini merupakan momentum tepat, setelah menyelamatkan UMKM, BRI melakukan pembinaan secara bersama-sama. Ada upaya untuk menjembatani UMKM menuju pasar.


×