Buku Filosofi Jalan Kaki | Erdy Nasrul

Kitab

25 Aug 2021, 13:56 WIB

Hikmah dan Kebahagiaan Berjalan Kaki

Buku Filosofi Jalan Kaki mengingatkan kita akan tradisi luhur berjalan yang saat ini banyak diabaikan.

Kehidupan masa kini memaksa setiap orang bepergian jauh dengan cepat. Dari satu tempat ke lainnya, banyak orang menunggangi kendaraan yang membuang karbon sehingga mencemari udara. Perjalanan berlangsung cepat dan abai terhadap segala hal di sekitarnya. Kalau pun ada hal yang diperhatikan, tidaklah banyak, karena lebih fokus pada ketergesaan sampai ke tujuan.

Dengan perjalanan seperti itu, orang menjadi cenderung individualistis, lebih memikirkan dirinya sendiri, dan gagal memedulikan kehidupan sekitar. Juga miskin penghayatan: tak mampu mendapatkan hikmah dan detil segala hal yang ada di sekitarnya. Akhirnya hidup yang dijalani menjadi jauh dari kebersamaan dengan alam semesta. Menjadi egois dan terpisah dari makhluk lain.

Situasi demikian sungguh berbeda dengan kehidupan masa lalu, katakanlah seabad silam, dan bahkan ribuan tahun lalu. Itu adalah masa kendaraan penghasil karbon belum populer, bahkan belum terpikirkan seperti apa wujudnya.

Lalu bagaimana orang bertransportasi? Mereka mengendarai kuda, kereta kuda, onta, gajah, dan yang paling menarik adalah berjalan kaki: aktivitas badan yang membutuhkan ketenangan hati, kesabaran, dan kesehatan fisik.

Untuk menggambarkan  betapa asyiknya dan pentingnya berjalan kaki, akademisi asal Prancis Frederic Gros (Kelahiran tahun 1965) menulis buku A Philosophy of Walking. Buku ini diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Penerbit Renebook. Kualitas terjemahannya ekselen, karena bukan sekadar alih bahasa, tapi ada gaya sastra yang membuat buku terjemahan ini menjadi semakin enak dibaca. Pemilihan diksi dan pengalihbahasaan dilakukan dengan hati-hati dan kreatif. Ini menandakan penerjemahan buku ini dilakukan oleh orang-orang yang berpengalaman.

Buku ini terdiri dari 25 bagian. Ringkasnya adalah sebagai berikut. Pertama, ada bagian yang menginspirasi kita tentang betapa luar biasanya berjalan kaki. Ini adalah olahraga yang pertama kali dipopulerkan masyarakat Inggris pada abad ke-18, kemudian digemari masyarakat dunia seabad kemudian. Kini olahraga ini menjadi cabang atletik dan menjadi salah satu kompetisi bergengsi kelas internasional.

Tak sekadar melangkahkan kaki, berjalan ternyata dilakukan dengan cara tertentu. Ada triknya. Berdasarkan pengalaman para pejalan kaki hebat, Frederic Gros dalam buku ini menuliskan, berjalan kaki yang baik adalah yang perlahan, tapi pas. Perlahan di sini bukan berarti lawan kata cepat. Perlahan di sini bermaksud keteraturan langkah. Langkahnya konsisten.

Di dalamnya terdapat penghayatan. Saat berjalan, seseorang akan merekam apa yang disaksikannya, mengambil segala hal yang menyentuh hati, dan menyimpannya dalam memori. Kemudian rekaman itu membekas di hatinya, bahkan menginspirasinya untuk melakukan hal besar.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Gerakan Lewat Tangga (lewattangga)

Berbeda dengan pejalan kaki yang buruk, terkadang dia melangkah cepat. Terburu-buru untuk sampai ke tujuan. Juga abai terhadap segala hal di sekitarnya. Saat lelah datang, langkahnya melambat. Gerakannya tersendat – sendat. Nafasnya berat. Yang dia dapat adalah tekanan (stress), lelah, dan pegal. Orang seperti ini gagal menikmati jalan kaki.

Tips sederhana berjalan kaki adalah, seseorang harus menemukan irama dasar dan mempertahankannya. Irama dasar yang tepat adalah yang membuat seseorang tidak lelah berjalan hingga 10 jam. Dia konsisten dengan kecepatannya. Kemudian menikmati segala hal yang disaksikan di sekitarnya.

Kedua, Buku Filosofi Jalan Kaki mendekatkan pembaca kepada tokoh-tokoh hebat yang gemar berjalan kaki. Salah satunya adalah filosof abad ke-19 asal Jerman Friedrich Nietzche (1844-1900). Dia adalah orang yang berjalan rata-rata satu jam di pagi hari dan tiga jam di sore hari, dengan cukup cepat, melalui rute yang sama. “Rute ini cukup indah untuk dilalui lagi pada hari berikutnya alias tidak membosankan.” (catatan Nietzche pada maret 1888)

Salah satu rute jalan kaki yang disenangi Nietzche adalah jalan setapak di gunung belakang kota Sorrento. Ini adalah kota kecil di Campania, Provinsi Napoli, Italia. Kota ini letaknya di pinggiran Napoli, tepatnya di Semenanjung Sorrentine, menghadap ke Gunung Vesuvius.

Dengan rutin berjalan kaki, Nietzche merasakan langsung keindahan alam: menikmati belaian semilir angin,  menghirup udara segar dan wewangi bebungaan, mendengarkan rinai hujan, cicitan burung, gemericik air, serta aneka suara alam, seakan semua itu berbicara dan menyapanya. Semua itu membangkitkan energi positif dalam tubuh. Juga menenangkan dan menyenangkan pikiran.

Meski sendirian, berjalan kaki sambil menikmati keindahan alam tak membuat pelakunya menyendiri. Sungguh mustahil merasa sendirian kala berjalan, karena kebun, rumah, hutan, jalan setapak, semuanya membersamai langkah kaki. Hati merasa bahagia bersama mereka.

Dari berjalan kaki, Nietzche menggapai kenikmatan batin, sehingga dia melakoni hal ini selama sepuluh tahun lebih. Selama menekuni berjalan kaki, Nietzche menghasilkan karya-karya besar seperti The Dawn of The Day (1881) sampai on The Genealogy of Morality (1887). The Gay Science (1882) hingga Beyond Good and Evil, dan Zahathustra.

Jean Jacques Rousseau (1712-1778) adalah tokoh lain yang gemar berjalan kaki.  Dia adalah tokoh yang sejak kecil sudah menikmati berjalan kaki. Sebabnya, dari rutinitas tersebut dia dapat bersosialisasi dan mendapatkan banyak hal bermanfaat. Namun itu semua hilang saat dirinya beranjak dewasa, karena sering mengendarai kereta kuda dan mengerjakan urusan – urusan yang menguras banyak energi.

Dari pengalaman tokoh ini, Gros menceritakan, betapa jenuhnya berada dalam ruangan. Rousseau adalah orang yang tak nyaman berlama-lama dalam ruangan. “Melihat meja dan kursi sudah cukup untuk membuatnya mual dan menguras seluruh keberaniannya. Justru saat berjalan kaki dengan jarak jauh, ide-ide itu datang, di jalanan, kalimat – kalimat itu biasa melompat ke bibirnya, bagai suatu selingan ringan. Jala- jalan setapak itulah yang mampu menggugah imajinasinya,” tulis Gros menggambarkan betapa nikmatnya berjalan kaki ala Rousseau.

Selain mereka, ada juga tokoh besar seperti Henry David Thoreau (1817-1862). Dia adalah pejalan kaki yang masyhur dengan karya-karya yang membetot perhatian masyarakat abad ke-19. Salah satu karyanya adalah Civil Disobedience. Ini adalah tulisan tentang bagaimana masyarakat sipil memberontak melawan sistem pemerintahan yang dianggap jauh dari keadilan, menghasilkan kezaliman, dan menyengsarakan orang. Tokoh India Mahatma Gandhi (1869-1948) adalah salah satu orang yang terpangaruh buku tersebut.

Dalam Filosofi Jalan Kaki, Gros juga mengenalkan pembaca kepada penyair Arthur Rimbaud (1854-1891). Pada usia belasan tahun, Rimbaud ‘membelah jalan’ dengan langkahnya menuju sejumlah kota besar di Prancis. Di antaranya adalah Paris, kota yang mewarnai karya sastranya. Kemudian Kota Brussel di Belgia. Ini adalah kota yang mengantarkannya menjadi jurnalis.

Kisah jalan kaki Rimbaud penuh warna. Dia berjalan kaki hingga kehabisan bekal, menumpang di rumah orang, bercengkerama dengan warga, bahkan hingga dijebloskan ke penjara, karena tidak membayar tiket kereta api.

Berjalan kaki juga menjadi tradisi para filsuf Yunani ratusan tahun sebelum masehi. Sokrates dikisahkan gemar berjalan pada pagi hari di sekitar Agora atau area perkumpulan masyarakat. Plato berjalan kaki mondar mandir saat mengajarkan filsafat kepada muridnya. Aristoteles berjalan kaki bersama para muridnya sambil menerangkan dewa dewi, alam, dan kehidupan manusia.

Karena sambil berjalan kaki, filsafat Yunani kerap disebut filsafat paripatetik. Tradisi Islam menyebutnya masyai. Asal katanya masya dan yamsyi yang berarti berjalan kaki. Pada dasarnya paripatetik bermakna berjalan, namun secara istilah, filsafat paripatetik bermakna filsafat yang merujuk kepada Aristoteles.

Dari berjalan kaki, mereka mendapatkan banyak inspirasi. Kemudian menulis karya hebat yang hingga sekarang tetap dibaca banyak orang. Para tokoh tadi sudah viral sejak ratusan bahkan ribuan tahun lalu, mengalahkan viralnya para pegiat media sosial dan pengguna teknologi masa kini.

Karya mereka dibuat tidak sekadar mengomentari atau mengutip buku – buku perpustakaan. Sebabnya, karya yang demikian ‘berbau pengap hawa perpustakaan’.  Karya hebat mereka terasa alami, membawa kesegaran, yang jauh lebih inspiratif bila dibandingkan dengan buku-buku yang lahir dari referensi perpustakaan tadi.

 

 

 

Dari berjalan kaki, mereka mendapatkan banyak inspirasi. Kemudian menulis karya hebat yang hingga sekarang tetap dibaca banyak orang. 

 

FREDERIC GROS: A Philosophy of Walking
 

 

Ketiga, buku Filosofi Jalan Kaki mengupas sedikit perjalanan spiritual, atau ziarah, yang oleh Paulo Coelho sebut pilgrims. Perjalanan spiritual para nabi dan orang-orang suci dahulu dilakukan dengan berjalan kaki. Dalam Islam, perjalanan spiritual adalah ibadah haji.

Pada masa nabi-nabi dahulu dilakukan dengan berjalan kaki dari tempat tinggal menuju persinggahan kota sebelum Makkah. Misalkan Thaif. Di sana terdapat Pasar Okaz, tempat para peziarah menunjukkan kebolehan sastra dan kekuatan tradisinya. Kemudian mengumpulkan bekal berupa roti, pakaian, dan air minum. Setelah itu mereka berjalan menuju Kota Suci Makkah.

Masjid al-Haram adalah tujuan utamanya. Di sana mereka berjalan kaki mengelilingi baytullah Ka’bah sampai tujuh kali. Kemudian dilanjutkan berjalan cepat dari Bukit Shafa menuju Marwah sampai tujuh kali juga, seperti yang dilakukan istri Nabi Ibrahim, Hajar, saat pertama kali tinggal di Hijaz, dua ribu tahun sebelum masehi.

Perjalanan berikutnya adalah menuju Arafah, di sana peziarah menetap beberapa waktu. Arafah memiliki bukit cinta atau Jabal Rahmah. Di tempat inilah Adam berjalan kaki setelah ratusan tahun tinggal di bumi dan terpisah dari tambatan hatinya: Hawa. Di Arafah, para peziarah berdzikir mengingat Allah sehingga Sang Pencipta mengigat, bahkan mencintai mereka.

Selesai di Arafah, perjalanan berlanjut ke Muzdalifah untuk bermalam. Lalu ke Mina untuk lempar jumrah. Ritual yang banyak dilakukan dengan berjalan ini adalah ibadah puncak yang tak hanya membutuhkan kesiapan batin dan perbekalan perjalanan berupa makanan dan uang yang cukup, tapi juga fisik yang bugar dan kuat.  

Tradisi ziarah atau perjalanan spiritual juga terdapat dalam tradisi agama lain. Ritual ini hidup berabad-abad silam, menghiasi dan menenangkan hati banyak orang.

Secara umum, buku Filosofi Jalan Kaki atau A Philosophy of Walking ini mengingatkan kita akan tradisi luhur yang sudah ada sejak Nabi Adam, tapi banyak digantikan kecanggihan teknologi, sehingga terabaikan. Buku ini menyegarkan dan mengingatkan kembali pentingnya berjalan kaki, menyaksikan alam tempat tinggal dan makhluk di sekitarnya, sehingga menjadi lebih bersyukur, menginspirasi, dan semangat menjalani kehidupan.


×