Kendaraan mengangkut logistik | ANTARA FOTO/Harviyan Perdana Putra

Ekonomi

23 Aug 2021, 11:13 WIB

Mengamankan Efisiensi Logistik Indonesia

Presiden Joko Widodo menyinggung soal efisiensi logistik untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Tersemat visi utama dalam mengintegrasikan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) I hingga IV, yakni demi mengamankan efisiensi logistik Indonesia. Pada tahun ini, akhirnya menjadi awal yang nyata dari rencana penggabungan Pelindo I-IV yang sudah terembus sejak 10-15 tahun silam.

Persoalan ekosistem logistik nasional pun kembali disinggung oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada awal 2020. Dalam rapat terbatasnya pada Maret 2020, Jokowi mengatakan, biaya logistik Indonesia masih tergolong tinggi dibandingkan lima negara ASEAN lainnya.

Padahal, biaya logistik dan transportasi yang tidak reliabel membuat biaya inventori akan makin meningkat. Jokowi menyebutkan, salah satu penyebabnya adalah proses birokrasi yang berbelit. “Kementerian atau lembaga berjalan sendiri-sendiri, belum ada platform logistik dari hulu sampai ke hilir,” kata Jokowi.

Mau tidak mau, ekosistem logistik nasional pada akhirnya harus diperbaiki demi mencapai visi mengamankan efisiensi logistik Indonesia. Jokowi menegaskan, sistem logistik harus dibangun secara terpadu dari hulu hingga hilir serta sejak kedatangan kapal hingga masuk ke gudang.

Jokowi pun kala itu meminta adanya peta jalan logistik yang jelas dan terukur. "Dengan perubahan yang jelas dan terukur maka ekosistem logistik nasional negara kita akan menjadi lebih efisien," ujar Jokowi.

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) pun pada 2021, memutuskan untuk mengintegrasikan Pelindo I-IV. Dalam Rapat Kerja antara Kementerian BUMN dan Komisi VI DPR pada Juni 2021, Wakil Menteri BUMN II Kartika Wirjoatmodjo menyebutkan integrasi dilakukan untuk mengembangkan konektivitas maritim dan standardisasi pelabuhan.

Kartika mengakui, jika kondisi Pelindo masih terus terpisah akan menyulitkan Kementerian BUMN dalam merencanakan alur logistik. Terlebih, tujuan utama dalam membuat biaya logistik yang lebih efisien hingga saat ini belum tercapai.

Nantinya, setelah diintegrasikan, Pelindo I-IV, tidak akan bekerja sendiri lagi. Keempatnya akan bersatu dan membentuk empat klaster, yaitu peti kemas, nonpeti kemas, logistik dan hinterland development, serta marine, equipment, dan port services.

Chairman Supply Chain Indonesia Setijadi menyebutkan, standardisasi akan menjadi tantangan yang harus dihadapi ketika keempat Pelindo disatukan. Dengan menggabungkan keempat Pelindo itu maka menurut Setijadi, standardisasi people, proses, dan teknologi harus dilakukan.

Setijadi menilai, saat ini kompetensi sumber daya manusia (SDM), proses operasional, dan kapabilitas teknologi berbeda antara perusahaan BUMN pelabuhan itu. “Bahkan, bisa berbeda antarpelabuhan dalam masing-masing BUMN tersebut,” kata Setijadi kepada Republika, Ahad (22/8).

Setijadi mengungkapkan, tantangan lain pun akan muncul dalam menentukan visi dan misi saat Pelindo berhasil disinergikan. Menggabungkan empat operator pelabuhan yang memiliki karakteristik dan potensi kuat dan tersebar di penjuru Indonesia bukan hal yang mudah.

Sementara itu, Ketua Organizing Committee (OC) Integrasi Pelindo sekaligus Direktur Utama Pelindo II Arif Suhartono mengatakan, meskipun ada sejumlah tantangan, ia bersyukur proses integrasi tersebut mendapatkan dukungan penuh. "Proses integrasi Pelindo ini mendapatkan dukungan penuh dari serikat pekerja dan seluruh karyawan Pelindo I-IV," kata Arif kepada Republika.

Sejauh ini, Arif merasa tantangannya lebih kepada masalah waktu. Ia mengatakan, merger pelabuhan tersebut dilakukan saat Indonesia masih menghadapi pandemi Covid-19 yang berarti harus menghadapi segala keterbatasan.

Meskipun begitu, Arif tak kehilangan semangat demi meniti visi utama mengefisiensikan logistik Indonesia. Arif akan mengupayakan bersama pihak lainnya untuk menyelesaikan integrasi Pelindo sesuai dengan timeline.

Menteri BUMN Erick Thohir menyimpan tujuan besar dalam rencana mengintegrasikan Pelindo I-IV. Ia menyatakan akan menggabungkan Pelindo menjadi satu kekuatan. "Nanti peti kemas Pelindo akan menjadi nomor sembilan di dunia secara kapasitas. Ini belum pernah terjadi dan akan terjadi tahun ini yang selama 20 tahun terakhir macet," kata Erick.

Founder Rumah Perubahan, Rhenald Kasali, mengatakan, dalam menjaga rantai distribusi logistik untuk kemajuan ekonomi suatu negara diperlukan terobosan melalui integrasi antarperusahaan. Ia yakin, integrasi Pelindo nantinya tidak hanya akan meningkatkan pelayanan di seluruh wilayah kerja namun juga berpeluang menjadikan sebuah kekuatan besar di dunia logistik.

"Pelindo harus berjuang untuk bersatu agar tidak ketinggalan dan integrasi akan menjadi bekal menghadapi kompetisi di masa depan," ujar Rhenald dalam sebuah diskusi daring. ';

×