Adiwarman A Karim | Daan Yahya | Republika
23 Aug 2021, 04:32 WIB

Berakhirnya Utsmani dan Bangkitnya Indonesia

Pemimpin dunia yang nyaman dengan keislamannya, dan dunia pun nyaman dengan keislamannya.

OLEH ADIWARMAN A KARIM

Berakhirnya kejayaan negara adidaya Turki Utsmani pada 1924 seringkali dipandang sebagai berakhirnya zaman kejayaan Islam yang membanggakan. Hanya 20 tahun setelah itu bangkitlah raksasa yang telah lama tertidur, Indonesia.

Sejarah mempunyai jalannya sendiri. Kejayaan Islam di zaman Turki Utsmani selama ratusan tahun, yaitu selama rentang waktu tahun 1299-1924, memang memerlukan penyegaran untuk tetap membuat Islam relevan dengan zaman.

Stephen Turnbull dalam bukunya The Ottoman Empire 1326-1699 menjelaskan betapa dahsyatnya kekuatan dan pengaruh Turki Utsmani di seluruh dunia. Meneruskan tongkat estafet peradaban Islam dari Bani Seljuk yang dipimpin Sultan Alauddin II dalam menghadapi Byzantium, Turki Utsmani telah memainkan peran yang sangat penting.

Terkait

Dunia yang terus berubah memerlukan kepemimpinan baru. Erkut Duranoglu dan Guzide Okutucu dalam riset mereka “Economic Reason behind The Decline of Ottoman Empire” menjelaskan dampak Revolusi Industri di Eropa pada 1750 secara signifikan melemahkan kekuatan ekonomi Utsmani. Periode Sultan Mahmud II pada 1808-1839, setengah pengeluaran negara untuk keperluan militer.

Revolusi Industri telah mendorong Reformasi Utsmani untuk mengejar ketertinggalan itu dengan mengalokasikan anggaran yang cukup untuk manajemen, pendidikan, dan peradilan.

Şevket Pamuk, profesor Boğaziçi University, dalam risetnya “Economic Change in Twentieth Century Turkey” menjelaskan besarnya defisit fiskal akibat perang dan persiapan perang. Untuk mengatasi defisit fiskal itu, Utsmani melakukan pinjaman internal, menurunkan nilai mata uang, dan pinjaman luar negeri yang pada gilirannya menekan neraca pembayaran negara. Depresi berkepanjangan dan biaya besar untuk Perang Dunia I mengakhiri masa kejayaan Turki Utsmani.

 
Depresi berkepanjangan dan biaya besar untuk Perang Dunia I mengakhiri masa kejayaan Turki Utsmani.
 
 

Kekosongan kepemimpinan Islam tidak berlangsung lama. Gerakan Muhammadiyah tahun 1912 dan NU pada 1926 serta berbagai gerakan lainnya mengkristal pada 1928 dalam Sumpah Pemuda menawarkan paradigma baru dalam mengusung kejayaan Islam. Paradigma kebangsaan yang dijiwai nilai-nilai Islam.

Muhamad Yamin yang dulu merumuskan Sumpah Pemuda, kemudian merumuskan pula Pancasila, yaitu Ketuhanan Yang Maha Esa, Kebangsaan Persatuan Indonesia, Rasa Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Soepomo memberikan lima rumusan yang sejiwa. Soekarno dengan karismanya menyampaikan ide besar yang mirip, yaitu Kebangsaan Indonesia, Internasionalisme dan Perikemanusiaan, Mufakat atau Demokrasi, Kesejahteraan Sosial, Ketuhanan yang Maha Esa.

Para ulama melihat kesempatan emas untuk menjadikan Maqasid Syariah menjadi jiwa Pancasila dengan rumusan akhir yang berlaku sah saat ini. Jiwa keislaman yang sangat kental juga tercermin dalam Pembukaan UUD 1945 dan di keseluruhan batang tubuhnya. Yang Maha Berkuasa atas hati manusia telah menggerakkan hati para pendiri bangsa.

 
Gerakan Muhammadiyah tahun 1912 dan NU pada 1926 serta berbagai gerakan lainnya mengkristal pada 1928 dalam Sumpah Pemuda menawarkan paradigma baru dalam mengusung kejayaan Islam.
 
 

Hanya 20 tahun setelah berakhirnya Turki Utsmani, pemegang tongkat estafet kepemimpinan telah bangkit dari tidur panjangnya. Yang Maha Pengatur menyiapkan pemimpin masa depan ini dengan tiga modal utama. 

Pertama, disatukannya hati seluruh bangsa dalam kebinekaan untuk menghapuskan penjajahan di seluruh dunia. Kedua, sumber daya manusia yang cukup untuk menjadi pemimpin dunia. Ketiga, sumber daya alam yang melimpah untuk menjadi pemimpin dunia.

Modal pertama yang paling penting. Alan Palmer dalam bukunya The Decline and Fall of The Ottoman Empire menjelaskan perselisihan hati di antara pemimpin Turki Utsmani menjadi pemicu hilangnya kekuatan politik yang sangat disegani dunia. Ketika kebinekaan tidak lagi dipandang sebagai sumber kekuatan, maka proses check and balance kehilangan makna, bahkan buzzer memanfaatkan kebinekaan menjadi pemicu perselisihan hati.

Modal kedua tidak kalah pentingnya. Ketertinggalan Turki Utsmani akibat Revolusi Industri di Eropa menjadi pelajaran penting. Pembangunan infrastruktur dan militer yang sangat besar ternyata tidak cukup. Reformasi Utsmani menyadari pentingnya pembangunan manusia dalam bidang manajemen, pendidikan, dan peradilan.

Modal ketiga adalah amanah Sang Maha Pengatur untuk mempersiapkan diri menjadi pemimpin dunia. Kekuatan ekonomi Turki Utsmani ditopang dengan pasokan komiditas dari Timur, seperti India dan Indonesia.

Ketika negara-negara Timur yang selama itu menopang ekonomi Utsmani dijajah oleh kapitalis Barat, maka Turki Utsmani kehilangan sumber pasokan. Eropa menguat ekonominya dan pada akhirnya Turki Utsmani malah harus meminjam dari Eropa.

Pemimpin masa depan ini memang memiliki DNA pemimpin. Sejarah mencatat adanya hubungan diplomatik antara Raja Sriwijaya Sri Indrawarman dengan khalifah Bani Umayah Umar bin Abdul Aziz. Geraldine Heng dalam artikelnya “An Ordinary Ship and Its Story of Early Globalism” mencatat hubungan ekonomi antara Sriwijaya dengan Cina dan Bani Abbasiyah.

Kong Yuanzhi, peneliti Peking University, dalam artikelnya “Southeast Asian Studies in China” menjelaskan hubungan ekonomi Samudra Pasai dan Wali Songo dengan Laksamana Cheng Ho.

 
Bila bangsa Indonesia memanfaatkan dengan benar ketiga modal utama untuk menjadi pemimpin yang telah diberikan Allah, maka dunia akan bangga dengan pemimpin baru dunia di akhir zaman.
 
 

Muzaffar Alam dan Sanjay Subrahmanyam dalam riset mereka “Southeast Asia as Seen from Mughal India” menjelaskan hubungan ekonomi Siak Melayu dengan Bani Mughal. Anthony Reid dalam risetnya “The Ottomans in Southeast Asia” menjelaskan hubungan ekonomi kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia dengan Bani Utsmani Turki.

Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah akan menurunkan setiap permulaan 100 tahun seseorang kepada umat yang akan mengembalikan kegemilangan agama mereka."

Bila Turki Utsmani berakhir pada 1924, dan bila bangsa Indonesia memanfaatkan dengan benar ketiga modal utama untuk menjadi pemimpin yang telah diberikan Allah, maka dunia akan bangga dengan pemimpin baru dunia di akhir zaman.

Pemimpin dunia yang nyaman dengan keislamannya, dan dunia pun nyaman dengan keislamannya. Pemimpin yang memandang kebinekaan suatu keniscayaan dan menjadikannya sumber kekuatan. Pemimpin yang menjadi the living Islam bagaikan lentera misybah yang menarik laron-laron menghampiri karena akhlak mulia yang dicontohkan Rasulullah SAW.

Ya Rasulullah, sungguh di bulan Muharram ini telah banyak cobaan Allah untuk para pembawa panji kebenaran. Ya Rasulullah, sungguh di bulan ini pula Allah menurunkan pertolongan dan melepaskan dari kesulitan. Ya Rasulullah, sungguh di bulan inilah Allah menyelamatkan penerus keturunanmu Ali Zainal Abidin di Karbala. Ya Allah, maka tolonglah kami untuk menolong agama-Mu.


×