Diabetesi tetap nyaman selama pandemi (ilustrasi) | Mykenzie Johnson Unsplash
21 Aug 2021, 14:33 WIB

Diabetesi Tetap Nyaman Saat Pandemi

Diabetesi membutuhkan pemantauan, edukasi, motivasi, dan kolaborasi yang baik serta berkesinambungan.

Diabetes merupakan penyakit yang banyak ditemukan di Indonesia, sekitar 10 persen penduduk dewasa mempunyai diabetes mellitus (DM). Sebanyak dua dari tiga orang di antaranya tidak menyadari mengalami DM di dalam dirinya.

“Diabetes bersifat kronis (tidak sembuh) dan progresif (semakin lama dapat memburuk), tapi dapat di kendalikan untuk menghindari perburukan dan dampak komplikasi diabetes sebisa mungkin,” ujar Dokter Spesilias Penyakit Dalam dari MRCCC Siloam Hospitalis Semanggi, dr Johanes Purwoto, SpPD, KEMD, FINASIM, dalam ajang virtual bertema Tatalaksana Lengkap Diabetes dan Kolesterol Selama Masa Pandemi.

Menurutnya, penatalaksanaan diabetes membutuhkan kerja sama antara dokter, edukator diabetes, ahli gizi dan penyandang diabetes (diabetesi), keluarga serta orang di lingkungan dekat. Selain melibatkan banyak ahli dan pihak, diabetes membutuhkan penatalaksaan yang terus-menerus, yaitu pola makan sehat, olahraga teratur, penggunaan obat yang sesuai untuk setiap individu. Diabetesi juga membutuhkan pemantauan, edukasi, motivasi dan kolaborasi yang baik serta berkesinambungan.

Dalam masa pandemi Covid 19, lanjutnya, diabetes meningkatkan risiko perburukan saat terinfeksi. Pengendalian diabetes yang baik akan menurunkan risiko-risiko seperti kebutuhan akan perawatan rumah sakit, perawatan intensif di ICU dan kematian. "Jadi penatalaksanaan diabetes harus sebaik atau lebih baik dari saat sebelum pandemi,” paparnya.

Terkait

Langkah menurunkan risiko bisa dicapai melalui edukasi, terapi gizi medik, latihan jasmani dan intervensi farmakologi atau obat-obatan. Empat pilar ini harus didukung dengan monitor gula darah secara teratur. Terapi gizi medik atau nutrisi untuk diabetes bisa didasarkan pada jumlah, jenis dan jadwal.

Sementara untuk jenis makanan juga harus dipilih, harus mengikuti kaidah gizi seimbang artinya di dalamnya harus mengandung karbohidrat, serta dianjurkan 45-65 persen kalori total. Jangan lupa untuk mengutamakan jenis karbohidrat kompleks serta pembatasan karbohidrat tidak dianjurkan kurang dari 130 gram per hari. “Bagi seorang diabetesi, pasti takut sekali konsumsi karbohidrat yang berlebihan karena takut gulanya naik. Oleh karena itu harus diperhatikan,” ujar spesialis gizi klinik, dr Ida Gunawan, MS, SpGK(K).

Kendati begitu, karbohidrat bukan hanya soal jumlah, tapi juga kualitasnya. Untuk kualitas, ada unsur indeks glikemik (GI) dan beban glikemik (GL). Maka, dianjurkan memilih karbohidrat dengan GI dan GL rendah, GI kurang dari 55 dan GL kurang atau sama dengan 10. “Rendahnya GI dan GL bisa membantu menurunkan kadar gula darah, menurunkan  profil lemak yang ada didalam dan menurunkan risiko kardiovaskuler,’’ kata Ida.

Contoh makanan GI dan GL rendah adalah kacang-kacangan, susu rendah lemak, hingga buah-buahan seperti apel dan jeruk. Jangan lupa untuk membuat GI dan GL rendah harus ada unsur serat dianjurkan 20-35 gram per hari. Faktor yang mempengaruhi GI dan GL adalah kandungan serat, lemak, dan lainnya. “Dengan banyaknya serat yang kita konsumsi, maka GI-nya bisa ikut berkurang. Demikian juga dengan tambahan lemak, pastinya pilihlah lemak yang baik seperti Omega 3,6 dan 9,” ujarnya.

Faktor lainnya adalah proses memasak dan persiapan membuat makanan. "Makin halus suatu makanan, makin lumat makanan itu, makin lama dimasak, makin pulen maka GI-nya akan makin tinggi,'' lanjut Ida.

Selain itu, tingkat kematangan makanan misalnya pada buah juga mempengaruhi GI. “Makin matang buah, makin manis rasanya, GI-nya makin tinggi,” ujarnya.

Anda juga bisa menurunkan GI dengan melakukan kombinasi makanan berdasarkan GI. Misalnya ketika memilih pisang yang sudah matang dengan GI medium dan batas agak tinggi, lalu ditambahkan makanan dengan GI rendah, misalnya kacang-kacangan.

Selain jumlah dan jenis, jadwal makan juga penting untuk diabetesi. Jadwal makan itu sebaiknya kecil dan sering. Dianjurkan 5-6 kali per hari, dengan pembagian tiga kali makan besar dan dua sampai tiga kali ngemil atau snack.

Misalnya jam enam pagi sarapan dengan susu dan roti. Berselang tiga jam kemudian, silakan menyantap kudapan atau snack. Namun, pilih camilan yang mengandung serat cukup seperti puding atau buah. Selanjutnya pukul 12 bisa makan komplet berupa nasi, ikan, sayur, dan buah. Tiga jam kemudian bisa kudapan lagi dengan potongan buah. Setelah itu lanjutkan dengan makan malam.

”Jika tidurnya sudah lebih awal dan tidak ada penggunaan obat-obat untuk diabetes pada malam hari, snack malam bisa dilewatkan. Namun jika ada tambahan insulin pada malam hari atau tambahan obat-obatan untuk menurunkan gula darah pada waktu diberikan sebelum tidur, alangkah baiknya ditambah satu snack,” ujarnya.

 

 

Bagi seorang diabetesi, pasti takut sekali konsumsi karbohidrat yang berlebihan karena takut gulanya naik. Oleh karena itu harus diperhatikan.

dr IDA GUNAWAN MS SpGK(K), Spesialis gizi klinik
 

 

 Jangan Kendor Berolahraga

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit tidak menular, namun berisiko menimbulkan bahaya komplikasi jika gula darahnya tidak terkontrol. Salah satu cara untuk mengontrol gula darah adalah dengan melakukan olahraga dengan benar dan rutin. Lalu bagaimana cara diabetesi atau para penyandang diabetes bisa melakukan olahraga yang baik dan tepat?

Dokter spesialis kedokteran olahraga dari RS Mitra Keluarga Kemayoran Jakarta Pusat, dr Michael Triangto, SpKO, menjelaskan sesuai anjuran Badan Kesehatan Dunia (WHO), olahraga justru dapat menurunkan beberapa faktor risiko seperti tekanan darah dan diabetes mellitus itu terkait dengan tekanan darah tinggi.

Menurutnya seorang diabetesi harus memahami kadar gula darah. “Kadar gula darah tinggi tidak selalu berarti tidak boleh berolahraga. Kadar gula darah yang terlalu rendah itu yang jelas tidak boleh berolahraga,” ungkapnya.

Selain itu, olahraga juga bermanfaat menurunkan kadar kolesterol darah karena terkait dengan gangguan jantung dan pembuluh darah, pengaturan kadar gula darah yang lebih baik.

Ia juga menambahkan olahraga yang benar, terukur, teratur dan berkesinambungan juga mencegah komplikasi, yaitu atherosclerosis, stroke, gangguan serangan jantung (MCI) dan mencegah komplikasi ginjal atau persarafan. Olahraga juga meningkatkan kualitas hidup penderita dan mengurangi stres.

Bagi diabetesi, lanjut Michael, olahraga dilakukan untuk kesehatan atau disebut sport theraphy. Ini adalah olahraga untuk meningkatkan kesehatan. /Sport therapy/ adalah program pengobatan yang menggunakan olahraga terukur, bertujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan membantu proses penyembuhan penyakit-penyakit tertentu. 

“Olahraga bukan satu-satunya yang membantu proses penyembuhan penyakit. Hanya olahraga  tidak banyak membantu, kita harus menggabungkan dengan bidang lain,” ujarnya.

Untuk memulai suatu sport therapy maka kita harus menguasai permasalahan yang ada seperti kadar gula darah yang tak terkendali. Selain itu, masalah diabetesi adalah gangguan penglihatan mulai dari katarak sampai retinopathy.

Permasalahan diabetes lainnya adalah neuropati atau persarafan, gangguan sensasi pada kaki atau perabaan kita atau pengaturan denyut jantung serta tekanan darah. “Gangguan pada kaki harus menjadi perhatian, tapi bukan berarti tantangan untuk berolahraga,” ujarnya.

photo
Lakukan olahraga ringan untuk menjaga kondisi tubuh penyandang diabetes. EPA-EFE/CHRISTOPHE PETIT TESSON - (EPA-EFE/CHRISTOPHE PETIT TESSON)

Selain itu, hindari terjadinya penurunan kadar gula darah yang berlebihan. ''Apa pun yang berlebihan itu tidak baik,'' kata Michael.

Masalah lain yang harus diwaspadai adalah dampak dari risiko kadar kolesterol darah yang tinggi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol juga harus diwaspadai. Masalah diabetesi lainnya adalah pernah terjadi serangan jantung. “Untuk itu perlu dikonsultasikan terlebih dahulu pada dokter-dokter terkait sebelum melakukan olahraga untuk kesehatan atau sport theraphy,” jelasnya.

Bagi pengguna insulin, harus hati-hati dalam penggunaannya bersamaan dengan olahraga. Sedangkan untuk memonitor kadar gula darah, maka hal yang terbaik dilakukan sebelum berolahraga adalah ketahui kadar gula darahnya, pada saat berolahraga (ketika puncaknya) dan saat setelah berolahraga.

Prinsip dasar sport therapy mencoba berolahraga dengan kondisi diabetes, prinsip dasarnya edukasi olahraga, olahraga tidak hanya satu, olahraga ada berbagai macam tujuan. “Dalam hal ini fokuskan tujuan untuk meningkatkan derajat kesehatan dan menstabilkan kadar gula darah pada tingkat yang lebih baik,” lanjutnya.

Ia menjelaskan olahraga itu tidak selalu untuk membuat kadar gula darah dan kolesterol darah menjadi normal. “Jadi tidak perlu kecewa, sudah olahraga berat, kadar gula darah hanya turun sedikit. Setidaknya kita tahu olahraga yang dilakukan memberikan hasil,” ujarnya.

Setelah itu, langkah selanjutnya adalah melakukan modifikasi sehingga kadar gula darah menjadi lebih stabil belum tentu normal. Selain itu sedapat mungkin program latihan disesuaikan dengan tingkat kesehatan dan kemampuan masing-masing individu saat ini. Saat ini bukan saat sebelum pandemi.

“Awali latihan dengan intensitas rendah terlebih dahulu sehingga side effect olahraga dapat diminimalisir, durasi pendek, kemudian baru ditambahkan. Jika memungkinkan baru ditingkatkan secara bertahap,”  kata dia memberi saran.

Hal lain yang harus diperhatikan diabetes saat berolahraga adalah cukupi kebutuhan cairan, karena salah satu gejala diabetes adalah sering buang air kecil (BAK), sehingga banyak kehilangan cairan. “Karena itu, penderita diabetes tidak boleh olahraga sampai berkeringat berlebihan,” ujarnya.

Selain itu, disarankan membawa snack untuk mencegah terjadinya hipoglikemi (penurunan kadar gula darah berlebih). Pada saat gula darah turun, berkeringat dingin, pandangan berkunang, sakit kepala dan lain, makanlah camilan. “Mulailah berolahraga dengan apa yang ada. Jangan menunda olahraga yang gampang dilakukan siapa saja, di mana saja dan kapan saja.”

 

photo
Diabetesi tetap nyaman selama pandemi (ilustrasi) - (Cottonbro Pexels)

Perhatikan Ini

Ada sejumlah hal yang perlu diwaspadai para diabetesi. Apa sajakah? Berikut rangkuman dari para ahli: 

-Unsur fruktosa atau gula buah hanya dianjurkan kurang dari 12 persen total kalori

-Unsur pemanis terbagi dua, yaitu hipokalori dan nonkalori

Alangkah baiknya jika bisa memilih pemanis nonkalori karena ikut menurunkan risiko peningkatan berat badan dan juga menurunkan risiko penyakit jantung dan metabolik.

-Perhatikan asupan protein

Pemberian protein bagus karena meningkatkan respons insulin tapi tidak ikut meningkatkan kadar gula plasma. Pemilihan dan jumlah protein harus disesuaikan secara individual tidak bisa disamaratakan tergantung dari kondisi kesehatan diabetes. Dosis yang dianjurkan antara 0,8 sampai 1,2 gram per kg berat badan per hari atau kira-kira 15 sampai 20 persen dari total kalori.

-Perhatikan lemak

Untuk lemak, dianjurkan 20 sampai 25 persen dari kebutuhan kalori. Usahakan pilih jenis lemak yang baik, lemak tak jenuh ganda (PUFA) seperti Omega 3 dan 6 dan lemak tak jenuh tunggal (MUFA) seperti Omega 9, sedangkan lemak jenuh (SAFA) dibatasi kurang dari 70 persen.

Lemak jenuh terdapat pada daging berlemak dan susu full cream, mentega dan sebagainya. Makanan kaya lemak Omega 3 adalah ikan berlemak dan Omega 6 seperti kacang dan biji-bijian. Ini dianjurkan untuk mencegah penyakit jantung dan pembuluh darah.

-Perhatikan pula kolesterol, dibatasi kurang dari 200 mg per hari

-Pemberian garam disesuaikan dengan anjuran

Garam diberikan sebesar 2.300 mg per hari sodium atau setara 5 gram garam atau setara satu sendok teh. Harus diperhatikan penggunaan garam dalam makanan sehari-hari.

-Untuk olahraga, jenis latihan yang disarankan adalah latihan aerobik

Olahraga ini bagus untuk kesehatan badan karena dapat membakar lemak dan membantu menurunkan berat badan dan menurunkan kadar gula darah. Latihan aerobik itu melakukan gerakan berulang, intensitas rendah dan waktu melakukannya panjang.

Cukup lakukan 150 menit per minggu, jadi bila dilakukan tiga sampai lima kali seminggu, sehari hanya 30 menit. Itu pun bisa dicicil misalnya 10 menit pagi, 10 menit siang dan 10 menit sore atau malam.

-Selain aerobik, dapat pula melakukan latihan anaerobic seperti latihan beban atau otot

Lakukan latihan dua sampai empat kali per minggu, latihan otot ditujukan untuk meningkatkan basal metabolic rate. Ini bertujuan untuk menjaga massa otot di tubuh bukan untuk menurunkan kadar gula darah.

 


×