Pondok Modern Tazakka di Batang Jawa Tengah merupakan aset wakaf yang dikelola secara profesional. | Erdy Nasrul/Republika

Khazanah

Cerita Pemuda Afghanistan Nyantri di Pesantren Tazakka

Para santri asal Afghanistan betah nyantri di Tazakka, bahkan mereka enggan kembali ke kampung halamannya.

 

Berhasilnya Taliban menguasai Afghanistan menjadi alarm waspada bagi kebebasan hidup masyarakat negeri itu. Betapa tidak, masyarakat Afghanistan telah merasakan hidup dengan sederet aturan di luar nalar yang diterapkan Taliban saat berkuasa pada 1990-an. Mulai dari larangan mencukur jenggot bagi laki-laki hingga aturan larangan memakai pakaian berwarna mencolok bagi perempuan.

Pada saat yang sama di Indonesia, sebuah negara yang masyarakatnya mayoritas Muslim, justru dapat hidup dalam keberagaman. Masyarakat Indonesia mampu hidup damai dan harmonis, meski berbeda-beda suku dan agama. Hal inilah yang membuat Indonesia dapat mengambil peran dalam menciptakan perdamaian dunia.

Terkait hal itu, pada 2018 silam, Jusuf Kalla yang saat itu menjabat wakil presiden RI menginisiasi sebuah program pendalaman agama Islam di Indonesia bagi masyarakat Afghanistan. Melalui Sekretariat Wakil Presiden (Setwapres) bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), Pesantren Modern Tazakka, Batang, Jawa Tengah, ditunjuk sebagai pesantren yang membina sejumlah santri asal Afghanistan.

“Ada 25 putra dan ada 17 putri santri dari Afghanistan yang kami bina di sini selama empat bulan. Mereka adalah anak-anak yang orang tuanya bertikai, dalam artian berkonflik di negaranya,” kata Pimpinan Pondok Modern Tazakka, KH Anang Rikza Masyhadi, saat dihubungi Republika, Jumat (20/8).

Memberikan pendidikan kepada siswa-siswi asing, terlebih dari wilayah berkonflik, rupanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Kiai Anang ingat betul bagaimana pada masa awal program itu dilaksanakan, tak sedikit perilaku ‘aneh’ yang ditunjukkan para santri Afghanistan itu. Misalnya, tak ada satu pun santri Afghanistan yang mau diajak shalat berjamaah.

Kiai Anang menyebut, keengganan mereka menjadi makmum shalat berjamaah karena adanya perbedaan mazhab antara masyarakat Indonesia yang umumnya menganut Mazhab Syafi’i dengan Afghanistan yang mayoritas menganut Mazhab Hanafi.

“Maka, saya suruh mereka jadi imam shalat, kami makmumnya. Itu berlangsung selama dua pekan. Saya bilang ke mereka, lihat itu santri-santri saya (Indonesia) yang bermazhab Syafi’i mau jadi makmum kalian. Mengapa kalian tidak mau jadi makmum mereka? Lihat, hanya karena perbedaan kecil seperti ini (keengganan menerima perbedaan), konflik di negara kalian tak kunjung selesai,” ujar Kiai Anang mengenang.

Di Pondok Modern Tazakka, para santri Afghanistan itu mendapatkan pendidikan fikih, tafsir, dan ilmu agama lainnya yang bernarasikan perdamaian. Selama mondok di pesantren ini, mereka juga mendapatkan pengalaman empiris tentang perdamaian dan merasakan langsung atmosfer bagaimana perdamaian itu tercipta.

Sayangnya, program pendalaman agama Islam di Indonesia bagi masyarakat Afghanistan ini pun tak lantas berlanjut seiring bergantinya wapres. Sehingga pada tahun-tahun selanjutnya, tak ada lagi santri-santri dari Afghanistan yang melakukan pendalaman agama Islam di Indonesia.

“Saya ingat betul ketika mereka pulang ke Afghanistan, mereka memeluk kami sambil menangis. Mereka nggak mau pulang ke negaranya. Kalau bisa (mereka) ingin menetap di Indonesia saja,” kata Kiai Anang.

Meski demikian, Pondok Modern Tazakka telah memberikan beasiswa secara mandiri kepada sejumlah santri Afghanistan yang unggul dalam masa pendidikannya di Tazakka. Saat ini terdapat empat orang lulusan program tersebut yang kembali ke Indonesia dan melanjutkan studi di Malang dan Solo.

“Mereka kalau liburan pulangnya ke sini (Tazakka). Kata mereka, pesantren ini sudah seperti rumah saja bagi mereka,” kata Kiai Anang.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat