Asma Nadia | Daan Yahya | Republika

Resonansi

21 Aug 2021, 03:45 WIB

Anak-Anak yang Kehilangan Kedua Sayap

Sejak 8 Juli, dirimu yang yatim piatu sejak kecil, kehilangan sayap terakhir.

OLEH ASMA NADIA

Saya ingin sekali memelukmu. Nama-nama tanpa wajah. Wajah-wajah yang saya tak tanda, sebab tak pernah berjumpa. “Nama saya Ziddan."

Saya bayangkan kita berhadapan. Kamu yang memasuki usia 20, berusaha tegar, walau kedukaan masih menyelimuti. 

Sejak 8 Juli, dirimu yang yatim piatu sejak kecil, kehilangan sayap terakhir, sosok nenek yang gugur di pandemi. Di usia belia, Ziddan kini harus mengasuh adik yang berusia sebelas tahun.

“Saya Risqita.” Sayup suara lain menyapa telinga. Sebuah nama yang baru belakangan saya akrabi. Bagaimana kamu bertahan, adinda? Sepuluh hari ayah dan bunda terpapar Covid-19. Tiga hari dirawat di rumah sakit.  

Dirimu yang berusia 19 tahun bahkan turut mendampingi di ruang isolasi meski berisiko tertular. Kehilangan hebat kemudian harus ditanggung, sebab ayah dan ibu wafat dalam jeda tak sampai 24 jam. 

 
Kepadamu, Ashar, ingin saya katakan, agar tak perlu malu menumpahkan tangis, sebab air mata adalah sahabat yang mengiringi setiap duka cita.
 
 

Hari itu kamu resmi menjadi sayap pengganti bagi kedua adik, Fathan (16) dan Ikhwanul Azmil (9). Tantangan besar, sebab adik pertama penyandang tuna rungu. Sementara adik kedua yang masih terguncang, bahkan belum sanggup mendengar kata ibu dan bapak diucapkan, tanpa tangisnya menderas.

“Saya Ashar Al Gifari.” Nama lain menyapa saja dalam imaji. Saya bayangkan bocah berusia delapan tahun itu masih didekap kesedihan.

Kepadamu, Ashar, ingin saya katakan, agar tak perlu malu menumpahkan tangis, sebab air mata adalah sahabat yang mengiringi setiap duka cita.

Situasi saat ini pastinya menguras daya yang tersisa. Menjadi yatim piatu seketika di pandemi --masih harus pula kehilangan sosok kakek. Alhamdulillah Kapolres hadir, memberikan bansos dan merengkuhmu menjadi anak asuh Polres Sukoharjo.

Masih terdapat banyak nama --bergantian bergema di benak saya. Selain Ziddan dan Risqita, ada Fahresa Fadhil Girinra (14), Natla Shifa Nathana (12), dan Hilya Adzkiana Devi (4). Tiga bersaudara yang harus berjuang menata keikhlasan di usia dini --setelah ayah dan ibu yang terinfeksi virus Sars-CoV-2 tak tertolong.

 
Angka sejatinya pasti jauh lebih besar, sebab banyak di antara mereka belum tercatat, wajah-wajah yang masih luput ditandai. Anak-anak merah putih yang tiba-tiba kehilangan sosok yang mengayomi.
 
 

Syukurlah, kisah tersebut juga mengundang kepedulian Kapolres Sukoharjo, AKBP Wahyu Nugroho Setyawan beserta jajaran yang mengunjungi rumah mereka dan membawakan bantuan. Aksi simpatik yang semoga menggerakkan lebih banyak kepedulian masyarakat --jika menemukan hal serupa.

Entah berapa banyak lagi ananda kita yang harus kehilangan sayap pelindung. Berapa jumlah sebenarnya anak-anak yatim piatu akibat pandemi? Ada yang mengatakan lebih dari 11 ribu. Pihak lain menyebut 30 ribu hingga 50 ribu.

Angka sejatinya pasti jauh lebih besar, sebab banyak di antara mereka belum tercatat, wajah-wajah yang masih luput ditandai. Anak-anak merah putih yang tiba-tiba kehilangan sosok yang mengayomi.

Takdir-Nya tak pernah salah alamat, anandaku. Saya yakin Allah sayang kalian. Sebab dibanding anak-anak lain, kalian lebih kuat. Tapi sungguh saya berharap, banyak tangan merengkuhmu, Indonesia akan memelukmu.

Kepergian orang tua menjadikan kalian kian terbuka dan rentan terhadap berbagai skenario buruk, jika negara tak segera hadir dan melindungi.

Komisaris dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Retno Listyarti menyatakan, negara harus hadir, mulai dari pemberian pendampingan psikologis hingga bantuan kesehatan dan pendidikan. Tanpa itu bagaimana ananda kita bertahan hidup?

 
Jalinan kisah masih terus muncul mewarnai keseharian kita selama wabah.
 
 

Masih terasa perih saat kita mendengar berita Vino. Bocah sepuluh tahun yang terpaksa menjalani isolasi mandiri di rumahnya di wilayah Kalimantan Timur. Benar-benar sebatang kara setelah kedua orang tua meninggal karena terpapar. Syukurlah kementrian sosial kemudian membawanya ke Sragen untuk hidup bersama keluarga pihak ibu.

Jalinan kisah masih terus muncul mewarnai keseharian kita selama wabah. Juga dari adinda yang satu ini. “Cita-cita saya ingin jadi dokter.” Kalimat Naya.  Anak perempuan berusia 13 tahun yang kehilangan ayah dan ibu dalam rentang dua bulan. 

Tragisnya, kedua orang tua harus menyongsong kematian karena Covid-19 di rumah, sebab semua rumah sakit penuh. Tapi sepercik harapan tampak masih menyala di dada Naya saat ia melanjutkan, ”Sampai sekarang masih mau jadi dokter.” Mimpi yang sering diulang ayah almarhum.

Sungguh, kalimat Naya membuat saya berada di antara senyum dan tangis. Tragedi yang terjadi tak merenggut semua harapan gadis kecil kita. Allah.

Pandemi belum selesai. Musibah senada masih akan menjadi fenomena yang terus bergulir. Semua pihak harus mengambil peran. Negara harus bergerak cepat melindungi dan menyusun langkah-langkah penyelamatan. Pastikan data semua tercatat. 

Anak-anak yatim piatu kita tak hanya membutuhkan bantuan agar dapat terus melangsungkan hidup, juga supaya mimpi-mimpi masa depan mereka menemukan jalan untuk terwujud. 


×