Santri menerima vaksin Covid-19 Sinovac dosis pertama di Pondok Pesantren Ummul Qura, Tangerang Selatan, Banten, Ahad (1/8). Sekitar 500 santri telah disuntik vaksin Covid-19 dosis pertama yang diselenggarakan Badan Intelijen Negara (BIN). | Republika/Thoudy Badai
19 Aug 2021, 14:52 WIB

Pesantren Masih Sulit Peroleh Vaksin

Program Kita Jaga Kyai yang melibatkan pesantren juga terkendala ketersediaan vaksin.

JAKARTA — Upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan warga pesantren, khususnya kiai dan santri, sudah mulai berjalan. Namun, pelaksanaannya dinilai belum maksimal.

Ketua Rabithah Ma'ahid Islamiyah Nahdlatul Ulama (RMI NU) KH Abdul Ghaffar Rozin mengatakan, penghambat utamanya masih minimnya dosis vaksin yang tersedia. “Pesantren masih kesulitan memperoleh dosis vaksin, baik melalui Polri, TNI, apalagi dinkes,” ujar tokoh NU yang akrab disapa Guz Rozin ini kepada Republika, Rabu (18/8).

“Tahap awal kami baru mengajukan 20 ribu-25 ribu santri. Mayoritas santri kita usia aliyah ke bawah, kurang dari 18 tahun. Belum ada keputusan dan instruksi untuk memvaksinasi santri usia 12 tahun sampai 18 tahun,” katanya.

Keluhan serupa juga disampaikan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) yang belum lama berselang memprakarsai peluncuran program Kita Jaga Kyai. Pimpinan Baznas yang menangani bidang pendistribusian dan pendayagunaan, Saidah Sakwan, mengatakan, program Kita Jaga Kyai terkendala ketersediaan vaksin.

Terkait

"Tantangannya pada ketersediaan vaksin karena belum tentu dari list pesantren yang sudah bersedia divaksin di daerah tersebut sudah tersedia atau sudah dropping (vaksin) dari pusat,” kata Saidah, Rabu.

“Jadi, kami selalu koordinasikan list pesantren-pesantren yang sudah siap divaksin ke dinkes setempat atau Polri atau TNI setempat," ujar dia.

Baznas meluncurkan program Kita Jaga Kyai pada awal Agustus lalu, tepatnya Senin (5/8). Untuk menyukseskan program ini, Baznas terus melakukan berbagai upaya.

"Kami koordinasi terus-menerus dengan Kemenkes (Kementerian Kesehatan) di semua level. Panglima TNI dan kapolri yang punya akses dan otoritas jalur distribusi,” ujar dia.

Baznas, menurut dia, sangat ingin membantu mempercepat program vaksinasi Covid-19 yang sedang digalakkan pemerintah. Karena itu, Baznas membantu anggaran operasional vaksinasi kiai dan santri. “Semoga ini bisa membantu,” ujar Saidah.

Program Kita Jaga Kyai diluncurkan di lima tempat sekaligus, yakni Pondok Pesantren Asshidiqiyah Jakarta, Pondok Pesantren Al Islah Semarang, Pondok Pesantren Darul Arqam Muhammadiyah Garut, Pondok Pesantren Muallimin Muhammadiyah Yogyakarta, dan Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon.

Saidah mengatakan, saat ini program Kita Jaga Kyai masih terus dijalankan secara bertahap. Di Jabodetabek dan Yogyakarta sudah berlangsung, dengan dukungan vaksin dari dinas kesehatan, TNI, dan Polri. "Untuk Jawa Timur akan mulai dan Jawa Tengah akan melanjutkan," kata Saidah.

Sebelumnya, terkait gerakan vaksinasi di pesantren, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, pesantren merupakan sebuah ekosistem. Selain kiai, ustaz, dan santri, tercakup di dalamnya juga masyarakat sekitar pesantren.

"Jadi, jika vaksin diberikan ke pesantren, secara ekosistem juga akan terbantu," ujar Menag saat memberikan sambutan secara virtual pada peluncuran program vaksinasi di lingkungan pesantren yang diinisiasi Kanwil Kemenag Jawa Barat, akhir pekan lalu.

Menag mengatakan, pemerintah menargetkan vaksinasi dua juta orang per hari sejak awal Agustus. Tanpa dukungan semua pihak, kata Menag, target ini mustahil dicapai.

 
Saya mengajak kiai, santri, pesantren, serta tokoh agama, lembaga keagamaan, dan seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama sukseskan vaksinasi.
YAQUT CHOLIL QOUMAS, Menteri Agama
 

"Saya mengajak kiai, santri, pesantren, serta tokoh agama, lembaga keagamaan, dan seluruh elemen bangsa untuk bersama-sama sukseskan vaksinasi," kata Menag seperti dilansir laman resmi Kementerian Agama.

Selain proaktif ikut vaksinasi, Menag berharap, para tokoh agama ikut memberikan penjelasan ke masyarakat tentang maksud, tujuan, dan pentingnya vaksinasi. Sebab, sampai saat ini masih ada sebagian masyarakat yang menolak vaksinasi dengan berbagai alasan.

"Masyarakat menolak karena mereka mungkin belum memahami. Para tokoh agama diharapkan memberikan pencerahan," ujar Menag.


×