Sunarsip | Daan Yahya | Republika
16 Aug 2021, 03:45 WIB

Manfaatkan Momentum, Optimalkan Sumber Daya

Terdapat beberapa perkembangan yang bisa menjadi momentum pemulihan ekonomi, yaitu ekspor kita.

OLEH SUNARSIP 

Hari ini, Senin 16 Agustus, Presiden Republik Indonesia akan menyampaikan pidato pengantar RAPBN dan Nota Keuangan 2022 kepada DPR. Mengiringi RAPBN 2022 ini, kita baru saja memperoleh berita bagus. Kinerja perekonomian pada kuartal II-2021 tumbuh 7,07 persen (yoy) atau selama semester I 2021 tumbuh 3,10 persen. 

Meskipun harus diakui di balik angka pertumbuhan ini terdapat faktor low based effect, sebagaimana dinyatakan Badan Pusat Statistik (BPS), tetap saja ini perkembangan positif. Dalam arti, aktivitas ekonomi naik meski belum normal. Hanya saja, kita perlu mencermati perkembangan pada kuartal III 2021 karena PPKM diberlakukan pada Juli, awal kuartal III 2021.

Melalui data kinerja kuartal II 2021, terdapat beberapa perkembangan yang bisa menjadi momentum pemulihan ekonomi, yaitu ekspor kita. Ekspor kita sangat dipengaruhi dua faktor, yaitu perkembangan harga dan permintaan. Kedua faktor ini sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global dan negara-negara mitra dagang utama kita.

Terkait

Ekspor kita sebagian besar tertuju ke Cina, ASEAN, Amerika Serikat, Eropa, dan Jepang. Selama semester I 2021, pangsa ekspor kita ke Cina mencapai 22 persen, lalu ASEAN 20 persen, AS sebesar 12 persen, Eropa 8 persen, dan Jepang 8 persen. 

 
Melalui data kinerja kuartal II 2021, terdapat beberapa perkembangan yang bisa menjadi momentum pemulihan ekonomi, yaitu ekspor kita.
 
 

Berita bagusnya, perekonomian global dan negara-negara mitra dagang telah pulih lebih dulu. Cina bahkan terhindar dari resesi, meskipun disebut sebagai negara asal Covid-19. Keberhasilan mereka mempercepat pemulihan ekonomi tidak terlepas dari keberhasilannya dalam mengatasi pandemi melalui pengetatan mobilitas maupun vaksinasi.

Nah, membaiknya perekonomian global inilah yang lantas mendorong kenaikan harga komoditas. Berdasarkan data dari Bank Indonesia (BI), indeks harga komoditas ekspor kita naik sekitar 37 persen selama semester I 2021. Sedangkan pulihnya aktivitas ekonomi negara-negara mitra dagang telah mendorong kenaikan permintaan komoditas dari negara lain, termasuk dari Indonesia. Terbukti, selama 2021, ekspor kita tumbuh signifikan, yaitu 34,78 persen (yoy) dan kenaikan ini terjadi hampir di seluruh komoditas dan sektor.

Kenaikan ekspor ini perlu menjadi momentum yang harus dimanfaatkan maksimal. Kontribusi ekspor berbasis komoditas masih relatif besar. Komoditas utamanya dipasok dari luar Jawa. Momentum ekspor ini dapat menjadi pendorong bagi pertumbuhan, terutama di luar Jawa. 

Sebagai catatan, booming komoditas pada 2011-2013 juga telah menjadi pemicu munculnya “orang-orang kaya baru” di daerah, termasuk mendorong pertumbuhan ekonomi sektor-sektor lain. Tidak mengherankan bila waktu itu pertumbuhan ekonomi kita mencatatkan level tinggi, yaitu 6 persen pada 2012, tertinggi sejak krisis ekonomi 1997/1998.

Salah satu kunci untuk menjaga momentum ekspor adalah dengan mencegah kondisi “kegentingan” Covid-19 yang terjadi di Jawa dalam sebulan terakhir tidak berkembang ke luar Jawa. Tujuannya agar mobilitas di luar Jawa tetap kondusif sehingga produksi untuk ekspor terjaga. Dengan kata lain, penanganan Covid-19 di daerah, khususnya luar Jawa, semestinya dapat lebih baik dan lebih efektif.

Bila ekspor komoditas penting bagi pertumbuhan khususnya di luar Jawa, ekspor sektor industri pengolahan (manufaktur) penting bagi pemulihan ekonomi di Jawa. Ini mengingat, sebelum pandemi, sektor manufaktur memiliki kontribusi tertinggi terhadap PDB di Jawa. Sektor manufaktur juga melibatkan banyak pelaku, tidak hanya pelaku usaha tetapi juga pekerja. Selama semester I 2021, ekspor manufaktur tumbuh sekitar 33 persen (yoy). Ekspor manufaktur ini menyumbang sekitar 79 persen dari total ekspor Indonesia.

 
Bila ekspor komoditas penting bagi pertumbuhan khususnya di luar Jawa, ekspor sektor industri pengolahan (manufaktur) penting bagi pemulihan ekonomi di Jawa.
 
 

Kondisi pelaku usaha di sektor manufaktur tentu berbeda dengan di sektor komoditas, khususnya bila dilihat dari kemampuan finansialnya. Tekanan beban keuangan yang dihadapi pelaku usaha di sektor manufaktur relatif lebih berat dibanding di sektor komoditas. Selama semester I 2021, sektor manufaktur (di luar manufaktur batu bara dan migas) memang tumbuh, yaitu 2,98 persen (yoy), tapi lebih rendah dibanding pertumbuhan PDB. Setahun terakhir, pelaku usaha manufaktur menghadapi hambatan produksi relatif banyak, terutama akibat kebijakan pengetatan yang cukup sering terjadi di Jawa.

Ekspor juga terganggu akibat permintaan yang terbatas, termasuk aktivitas impornya. Padahal, sektor manufaktur merupakan sektor yang memiliki ketergantungan paling besar pada impor, terutama bahan baku. Perlu dicatat, sekitar 76 persen impor kita merupakan impor bahan baku, yang dibutuhkan oleh manufaktur. 

Di sisi lain, pelaku usaha manufaktur juga dihadapkan pada beban keuangan tinggi. Kondisi yang dialami pelaku usaha manufaktur ini tidak dialami pelaku usaha di sektor komoditas. Terlebih saat ini sektor komoditas tertolong oleh membaiknya harga dan mulai pulihnya permintaan.

Ekspor manufaktur juga tidak boleh ketinggalan dalam memanfaatkan momentum pemulihan ekonomi global yang saat ini terjadi. Keterlambatan kita dalam memulihkan sektor manufaktur berpotensi mengurangi pasar ekspor manufaktur. Ini mengingat, di tengah permintaan global yang terbatas, tentunya banyak pelaku lain yang ingin mengisi kekosongan pasokan. Dan bila posisi kita sudah tergantikan pelaku lain, tentu akan lebih sulit untuk memulihkannya.

Oleh karenanya perlu ada strategi untuk memulihkan kondisi sektor manufaktur. Namun tentunya, tetap dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada. Bagaimana caranya? Pertama, kebijakan kelonggaran restrukturisasi kredit perlu diperpanjang untuk memberikan relaksasi bagi pelaku usaha maupun perbankan.

Kedua, insentif bagi penerbitan obligasi korporasi. Saat ini, pelaku usaha butuh modal kerja. Namun, jelas sulit dipenuhi dari bank. Selain karena kewajiban di perbankan masih ada, kemampuan untuk membayar cicilan pokok dan bunga dalam waktu yang sama juga memberatkan. Karenanya, pelaku usaha membutuhkan alternatif melalui penerbitan obligasi korporasi, di mana beban jangka pendeknya lebih ringan. 

 
Oleh karenanya perlu ada strategi untuk memulihkan kondisi sektor manufaktur. 
 
 

Penerbitan obligasi ini, selain untuk memenuhi kebutuhan modal kerja juga dapat dipakai untuk refinancing pinjaman ke bank. Tentunya, langkah ini perlu ada insentif untuk menarik pembeli (terutama dari bank), baik insentif pajak maupun terkait kebijakan perbankan.

Ketiga, realisasi program pemulihan ekonomi nasional (PEN) ke korporasi. Dukungan fiskal ke korporasi memang sensitif, terutama secara politik. Namun, bila polanya dimodifikasi, kebijakan ini berpotensi acceptable secara politik. Banyak korporasi kini terpaksa mengurangi gaji/upah pekerjanya. Banyak pula yang melakukan PHK (terutama pekerja tidak tetap).

Dalam kondisi krisis, posisi pekerja (terutama pekerja tidak tetap) sebenarnya sama dengan warga lainnya. Mereka juga memerlukan subsidi. Pemerintah telah memberikan subsidi terutama nontunai, seperti subsidi listrik dan lain-lain. Pertanyaannya: apakah berbagai subsidi ini cukup untuk menggantikan penghasilan mereka yang hilang akibat pengurangan gaji/upah atau bahkan karena PHK? 

Dukungan fiskal ke korporasi, misalnya, dapat diwujudkan dalam bentuk subsidi gaji/upah, terutama bagi pekerja yang upahnya sebesar upah minimum (UMK). Dengan langkah ini, pengurangan gaji/upah atau bahkan PHK dapat dihindari. Korporasi juga dapat mempertahankan produksi secara optimal dengan biaya produksi yang terjangkau. Mudah-mudahan, RAPBN 2022 membuka ruang bagi kemungkinan penerapan kebijakan-kebijakan ini. 


×