Vaksinator menyuntikkan vaksin Covid-19 ke warga lanjut usia (Lansia) di SDN 053 Cisitu, Jalan Sangkuriang, Kota Bandung, Senin (9/8/2021). Pemerintah Provinsi Jawa Barat menargetkan 37 juta masyarakat telat mendapatkan penyuntikan vaksin Covid-19 pada De | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA

Nasional

14 Aug 2021, 03:45 WIB

Baru 15 Persen Lansia Sudah Divaksinasi

Dari target 21,5 juta, hanya 4,98 juta lansia yang sudah divaksinasi.

JAKARTA -- Baru sekitar 15 persen kelompok lanjut usia (lansia) yang menerima dosis lengkap vaksin Covid-19. Faktor keraguan dan lansia yang pasif menjadi penyebab rendahnya laju vaksinasi lansia.

Saat ini baru 4,98 juta lansia mendapatkan vaksin dosis pertama dan 3,4 juta telah menerima dosis lengkap atau sekitar 15 persen. Juru Bicara Vaksinasi Covid-19 Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmidzi mengatakan, vaksinasi lansia menargetkan sasaran 21,5 juta jiwa. "Hingga per 12 Agustus 2021 ternyata baru 4,98 juta kelompok lansia atau 23,14 persen yang telah mendapatkannya," ujar Siti Nadia, Jumat (13/8).

Banyak lansia yang belum divaksin karena kelompok rentan ini merasa lebih aman kalau ditemani anaknya ketika divaksin. Ia menambahkan, alasan itu sama dengan survei psikologis bahwa lansia menyukai tempat vaksin yang dekat dengan tempat tinggalnya, ingin didampingi keluarga, atau teman arisan yang sebaya, kemudian jika tempat vaksinasi jauh dan sulit membutuhkan fasilitas kendaraan.

Kemenkes mendorong vaksinasi lansia melalui kerja sama untuk membuat sentra vaksinasi. Kemenkes juga meminta keaktifan dinas kesehatan daerah menggerakkan RT/RW mendata lansia yang belum divaksinasi. "Jika tidak divaksin supaya dibujuk mau divaksin," katanya.

Vaksinasi lansia penting karena kelompok ini berisiko tinggi saat terpapar Covid-19. "Kematian di atas usia 60 tahun sampai 12 persen. Artinya kematian pada lansia ini lebih tinggi empat kali lipat dibandingkan angka kematian nasional 3 persen, bahkan kalau dibandingkan usia produktif itu tiga kali lebih tinggi," katanya.

photo
Cakupan sasaran vaksinasi per 13 Agustus 2021 - (Kemkes.go.id)

Ia memperinci, angka kematian usia 46 hingga 59 tahun sebesar 4 persen dan usia 31 hingga 45 tahun sebesar satu persen. Jika melihat distribusi usia penderita Covid-19, sebanyak 30,7 persen pasien berusia 55 hingga 64 tahun meninggal dunia, kemudian 32,4 persen pasien Covid-19 di atas 65 tahun juga tidak dapat ditolong.

Lansia umumnya memiliki penyakit penyerta (komorbid) seperti tekanan darah tinggi, diabetes mellitus, jantung, dan ginjal. Faktanya, rata-rata masyarakat usia di atas 59 tahun sudah banyak memiliki komorbid dan kadang-kadang tidak terkontrol.

Lansia juga kerap mengalami kondisi sulit makan yang bisa sebabkan malnutrisi. Pada dasarnya lansia ada dalam kondisi kerentanan karena bertambahnya usia. "Jadi, lansia mudah jadi sakit walau stressornya ringan dan begitu sakit dia cepat jatuh pada kondisi yang berat dan harus dirawat dan berisiko pada kematian," katanya.

Salah satu vaksin yang bisa diberikan ke lansia adalah AstraZeneca. Direktur PT AstraZeneca Indonesia Rizman Abudaeri mengatakan, merujuk data Skotlandia dan Inggris, vaksin AstraZeneca mampu mencegah rawat inap pada lansia dengan usia lebih dari 80 tahun dan komorbid sekitar 80 persen.

Temuan studi juga memperlihatkan, bahkan efek samping dosis kedua vaksin AstraZeneca pada lansia lebih ringan ketimbang saat suntikan pertama dengan efikasi yang baik. Ia mengajak lansia tidak takut disuntik vaksin mengingat manfaatnya untuk melindungi dari Covid-19. 

photo
Warga lansia menunjukkan kartu vaksinasi usai disuntikkan vaksin Covid-19 di rumah mereka di Kelurahan Tanjung Pinang, Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Rabu (30/6/2021). Pemerintah Kota Palangkaraya melakukan sistem jemput bola vaksinasi dosis pertama dari rumah ke rumah warga bagi lansia untuk memudahkan pelayanan serta mempercepat target vaksinasi Covid-19. - (ANTARA FOTO/Makna Zaezar)

Cerita Lansia 100 Tahun Sembuh Covid-19

Eddy Yoshawirja adalah seorang lansia berusia 100 tahun yang berhasil sembuh dari Covid-19. Eddy sempat menjalani perawatan intensif di rumah sakit (RS) karena positif Covid-19 pada 22-25 Juni 2021.

Awal mula Eddy terkonfirmasi virus korona diketahui keluarga berdasarkan gejala batuk yang dideteksi seorang dokter RS Borromeus, Bandung, Jawa Barat, saat berkunjung untuk memantau perawatan rutin Eddy di rumah. Keluarga lalu sepakat melakukan tes usap.

Setelah dipastikan positif, Eddy langsung menjalani perawatan dengan infus dan alat pernapasan di ruang gawat darurat. "Kita bawa ke rumah sakit dan langsung diinfus selama dua hari. Tapi yang namanya orang tua terkadang suka tidak betah memakai alat bantu pernapasan. Kadang kalau malam masih suka minta dilepas," kata Benny Yoshawirja, saat hadir mendampingi ayahnya Eddy Yoshawirja, secara virtual dalam Forum Diskusi yang diselenggarakan KPCPEN, Jumat (13/8).

Menurut Benny, saturasi oksigen sang ayah selalu stabil di atas angka 90. Eddy juga tidak memiliki gejala Covid-19 yang berat. Atas dasar pertimbangan itu, keluarga memutuskan merawat Eddy di rumah. Dua pekan menjalani isolasi mandiri, kata Benny, sang ayah mulai menunjukkan kondisi kesehatan yang semakin membaik. "Kami lihat kondisi kesehatannya mulai normal, berarti vaksin sudah efektif. Per tanggal 2 Juli, kita cek darah lagi, hasilnya normal," katanya.

Menurut Benny, kesembuhan sang ayah tidak terlepas dari peran vaksin Covid-19 yang diterima Eddy beberapa bulan sebelumnya. "Saya bersyukur bahwa sebelumnya kami sekeluarga telah mempertimbangkan bahwa ayah harus divaksin untuk pencegahan Covid-19," ujarnya.

Eddy tidak merasakan gejala apapun setelah divaksin. Benny juga mengungkapkan bahwa pada saat proses penapisan di sentra vaksinasi, ayahnya sempat dinyatakan tidak lolos karena ada riwayat sakit ginjal.

Sumber : Antara


×