Anak-anak saat membaca buku di Bale Buku, Gang Dendrit, Cakung, Jakarta, Jumat (4/6/2021). Saat ini akses buku yang masih sangat minim di berbagai daerah di Indonesia. | Republika/Putra M. Akbar

Kisah Dalam Negeri

Hatta Biasakan Anak Mengenal Literasi

Sosok Bung Hatta selalu menjadi rujukan Halida dalam proses mencerna tulisan di dalam buku.

OLEH INAS WIDYANURATIKAH

“Kebudayaan membaca itu sudah dimulai dari kedua orang tua kami, ketika kami kecil.”

Pernyataan ini keluar dari Halida Hatta, ketika mengenang sang ayah Moehammad Hatta. Putri Bung Hatta ini mengakui sedari kecil sudah dikenalkan dengan buku oleh sang ayah. Ia menuturkan, apa yang dilakukan Hatta berdampak besar bagi minatnya terhadap membaca dan menulis.

“Kami diberi buku dan juga dibacakan buku oleh Ayah dan Ibu,” tutur Halida, saat menjadi narasumber ‘Internalisasi Pemikiran Bung Hatta’ secara daring, Kamis (12/8).

Menurutnya, kegiatan membaca bukan sekadar mengenal tulisan. Membaca berarti mengasah dan meningkatkan kemampuan literasi. Mencerna tulisan-tulisan yang ada dalam sebuah buku.

Baginya, peran kedua orang tuanya sangat besar untuk mengajari sang anak bisa mencerna pesan dalam sebuah buku. Sosok Bung Hatta selalu menjadi rujukan Halida dalam proses mencerna tulisan di dalam buku.

photo
Sejumlah anak mengamati sejumlah barang peninggalan dan arsip foto sejarah di Rumah Pengasingan Bung Karno dan Bung Hatta, di Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, Senin (14/8/2019).  ANTARA FOTO/Risky Andrianto/ama/17 - (ANTARA FOTO)

Kegiatan mencerna tulisan berarti membangun imajinasi dalam pikiran. Artinya, budaya membaca menurutnya membuat imajinasi berkembang. Hal inilah yang membuat kemampuan literasi seseorang meningkat. Bukan sekadar mengenal tulisan, tetapi memahami isi dari tulisan yang dibaca.

Menurut Halida, membiasakan membaca buku perlu didorong oleh semua pihak, bukan hanya orang tua. "Saya yakin ibu-ibu, bapak-bapak mempunyai buku di rumah. Anak-anak melihat orang tuanya membaca, dengan dorongan sekolah dan guru-gurunya," kata dia.

Halida Hatta menyarankan agar pemerintah bisa memberi keringanan pajak terhadap pihak yang berperan meningkatkan literasi. Di negara-negara maju, ungkap Halida, sudah dibuat dana masyarakat yang bisa memberikan sumbangan untuk perkembangan seni dan budaya.

"Jadi masyarakat digiring untuk memberikan sumbangan itu. Ini yang disebut sebagai tax deductible. Jadi ketika dia menyumbang sekian, bisa diperhitungkan oleh kantor pajak bahwa dia sudah memberikan kontribusi," kata Halida.

Saat ini, gerakan masyarakat dalam hal mengumpulkan buku layak baca untuk disumbangkan cukup banyak. Namun, kegiatan semacam ini juga sangat membutuhkan dana agar bisa tetap berlangsung dengan baik. 

Kepala UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta, Nur Karim mengatakan, minat baca masyarakat Indonesia sebenarnya tinggi. Namun, yang menjadi masalah saat ini adalah akses buku yang masih sangat minim di berbagai daerah di Indonesia.

"Kondisi alam, jumlah penerbitan, dan sebagainya menyebabkan jumlah buku yang harusnya tiga dibaca satu orang, menyebabkan 90 buku harus diperebutkan oleh generasi kita untuk membaca," kata Nur, Kamis (12/8).

Terkait hal ini, diperlukan kerja sama dan kolaborasi antarlembaga negara agar kebutuhan buku di masyarakat tetap terpenuhi. Halida Hatta menambahkan, pemerintah pusat bisa mengatur kebijakan pajak. Misalnya, kepada pihak swasta yang membantu peningkatan literasi bisa mendapatkan keringanan pajak.

Sementara itu, Duta Baca 2021 Gol A Gong mengatakan, saat ini memang diperlukan aksi-aksi nyata di lapangan. Salah satu program yang ia jalankan, yakni gerakan taman bacaan masyarakat yang masuk ke desa. Hal ini akan memudahkan masyarakat mengakses buku.