Sektor perbankan bertahan di tengah pandemi Covid-19. Pertumbuhan ekonomi terus dipertahankan di tengah ketidakpastian pandemi Covid-19. | Republika
12 Aug 2021, 09:57 WIB

Waspadai Tekanan Ekonomi Kuartal III 2021

Di sektor perbankan, likuiditas dan kondisi permodalan berada di atas threshold.

JAKARTA -- Presiden Joko Widodo meminta seluruh pihak mewaspadai tekanan lebih kuat terhadap ekonomi nasional pada kuartal III 2021. Tekanan tersebut, kata dia, justru datang setelah ekonomi sempat kembali pulih pada kuartal II tahun ini dan tercatat tumbuh positif 7,07 persen.

"Kita tahu awal Juli, varian delta telah memaksa kita untuk memperketat mobilitas masyarakat yang tentu saja berdampak pada ekonomi nasional. Hal ini yang harus diwaspadai, termasuk oleh pasar modal," ujar Jokowi dalam sambutannya di peringatan HUT ke-44 pasar modal, Selasa (10/8).

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2021 terjadi karena fenomena low base effect yang biasa terjadi setelah ekonomi mengalami kontraksi. Dalam beberapa kasus, makin tinggi angka kontraksi ekonomi suatu negara, makin tinggi pula kenaikan pertumbuhan ekonominya pada periode tahun berikutnya.

Hal yang menjadi tantangan saat ini adalah kondisi ekonomi Indonesia pada kuartal III 2021. Kebijakan pembatasan mobilitas masyarakat sejak Juli hingga pertengahan Agustus berdampak pada berkurangnya tingkat konsumsi publik.

Terkait

Kegiatan bisnis ikut terganggu dengan pembatasan ini. Pemerintah menerapkan pembatasan mobilitas dengan tujuan untuk meredam penyebaran kasus virus korona varian delta yang tinggi sejak Juli.

Wimboh memaparkan, terdapat sejumlah langkah untuk memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi Indonesia ini. Pertama, kata dia, perlu untuk tetap mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan konsumsi domestik utamanya konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sebesar 52,9 persen dari PDB.

"Ini jelas sekali di mana struktur ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi domestik yang sangat dipengaruhi mobilitas masyarakat," kata Wimboh.

 

Kedua, adanya kebijakan stimulus di sektor properti dan kendaraan bermotor yang mempunyai multiplier effect tinggi telah berhasil mendorong konsumsi rumah tangga. Dari data Badan Pusat Statistik (BPS), penjualan mobil naik 758,68 persen (yoy) dan sepeda motor sebesar 268,64 persen (yoy).

Dari catatan OJK, pertumbuhan ekonomi juga didukung pertumbuhan kredit yang hingga Juni 2021 mencapai sebesar Rp 5.581 triliun atau tumbuh sebesar Rp 100,23 triliun (1,83 persen year to date).

Ketiga, Wimboh menyebut perlunya peningkatan pembiayaan melalui pasar modal yang mencapai Rp 116,6 triliun hingga 27 Juli 2021 atau naik sebesar 211 persen (year to date). Pembiayaan melalui pasar modal diharapkan terus meningkat sampai akhir 2021 dengan perkiraan tambahan Rp 54,19 triliun. Peningkatan ini terutama didorong oleh antusiasme investor ritel domestik dan juga sektor teknologi dan keuangan.

Keempat, belanja pemerintah. Menurut Wimboh, porsi belanja pemerintah dalam menaikkan pertumbuhan ekonomi sangat signifikan di tengah pandemi.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Otoritas Jasa Keuangan (ojkindonesia)

OJK pun mendukung rencana percepatan serapan belanja pemerintah terutama pemerintah daerah dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi daerah. Pemerintah daerah diharapkan dapat mendorong ekonomi daerah yang berbasis pertanian dan perkebunan dalam meningkatkan penyaluran KUR pertanian yang telah menjadi sektor prioritas.

Kelima, perlunya upaya strategis untuk memperluas ruang pertumbuhan ekonomi baru. Dalam hal ini, perlu didorong sektor industri ekonomi baru yang menyerap banyak tenaga kerja dan berorientasi ekspor juga ramah lingkungan.

Wimboh juga menyampaikan, sektor jasa keuangan secara umum dalam kondisi stabil. Indikator prudensial terjaga dan kinerja kuartal II 2021 meningkat. Di sektor perbankan, likuiditas dan kondisi permodalan berada jauh di atas threshold.

Pada Juni 2021, CAR perbankan terjaga di level cukup tinggi atau 24,33 persen dan stabil pada kisaran 20 persen selama dua tahun terakhir. Pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) perbankan juga mencapai 11,28 persen (yoy). Kredit perbankan meningkat tumbuh positif 0,59 persen (yoy) atau 1,83 persen (ytd). Hal ini meneruskan tren perbaikan dalam kuartal terakhir.

“Sementara itu, NPL atau kredit bermasalah sebesar 3,24 persen masih di bawah threshold lima persen,” ujar Wimboh.


×