Pemasaran digital (ilustrasi) | Pexels/Lukas
03 Aug 2021, 17:27 WIB

Rencana Jitu Berjibaku di Bisnis Daring

Diperlukan strategi tersendiri agar dapat bertumbuh di dunia bisnis daring.

Pada masa pandemi, tersimpan tantangan sekaligus peluang yang kita temui sehari-hari. Dengan diterapkannya pembatasan mobilitas, bisnis daring pun bekembang pesat.

Dunia maya kini menjadi ladang kesempatan bagi orang-orang yang ingin mendapatkan pendapatan. Tentunya, ada berbagai persiapan dan strategi yang dapat kita lakukan agar usaha yang dikembangkan di dunia maya dapat berkembang seiring berjalannya waktu.

Menurut Senior Executive Zilingo Indonesia, Melina Marpaung, salah satu tools yang efektif untuk mengembangkan usaha kita di jagat maya adalah dengan optimalisasi media sosial. Penggunaan media sosial yang efektif dapat mendorong keinginan pelanggan untuk mengetahui lebih banyak tentang penawaran yang diberikan. “Hal ini berpotensi menghasilkan lebih banyak trafik ke bisnis yang dijalani,” ujarnya.

Di antara berbagai media sosial yang ada, saat ini Melina menaruh perhatian khusus pada Tiktok. Diluncurkan pada 2016, Tiktok telah menjadi aplikasi terpopuler dengan jumlah unduhan global yang mencapai dua miliar.

Terkait

Platform media sosial ini dikenal dengan video viral berdurasi 15 detiknya dengan jumlah pengguna aktif yang mencapai 800 juta. Menurut Melina, ada beberapa faktor yang membuat aplikai yang satu ini, dapat sangat membantu pertumbuhan bisnis usaha yang dilakukan dari rumah.

Pertama, karena media sosial berbasis mobile sangat mudah diakses. Dari segi bisnis, format mobile juga merupakan hal yang relevan terhadap konsumen. “Anda dapat menjalankan bisnis melalui telepon genggam, sehingga berinvestasi pada aplikasi berbasis mobile cocok dijalankan pada kampanye mobile-first,” ujarnya.

photo
Perajin membuat sepatu rajut di Cemorokandang, Malang, Jawa Timur, Jumat (11/6/2021). Perajin sepatu rajut setempat mengatakan daya beli masyarakat yang belum pulih sejak pandemi COVID-19 berdampak pengembangan usahanya yang stagnan meskipun sudah didorong dengan pemasaran melalui pasar digital. - (ANTARA FOTO/ARI BOWO SUCIPTO)

Dengan audiens Tiktok yang sangat besar, Melina melanjutkan, kita perlu mempertimbangkan apakah target audiens juga menggunakan platform yang sama. Meskipun Tiktok kini dipenuhi oleh tren generasi Z, banyak platform media sosial lain yang juga bermulai dari audiens yang lebih muda.

Dengan memanfaatkan platform baru lebih awal, lanjutnya, kita akan dapat mendahului para kompetitor. Kemudian, kita juga dapat membangun basis audiens sebelum platform tersebut bercampur aduk dengan konten promosi bisnis lain. “Setiap bisnis sebaiknya dapat mengalokasikan marketing resources-nya di tempat target audiens berada, karena akan berdampak baik pada ROI (return of investment--Red)yang diharapkan,” kata Melina menjelaskan.

Sebagai pelaku UMKM, kita juga dapat meningkatkan kesadaran merek dengan memperlihatkan tempat kerja atau budaya kerja yang kita usung. Hal ini diharapkan akan membawa perspektif keautentikan yang baru untuk jenama usaha. “Strategi pemasaran media sosial adalah tentang membangun kepercayaan yang mendukung penjualan, dan keautentikan merupakan pendorong utama pada kepercayaan itu sendiri,” ujar Melina mengingatkan.

Dengan mendefinisikan pendekatan otentik ke media sosial, UMKM akan dapat memperkuat legitimasi dan menampilkan suara dan kepribadian unik dari merek masing-masing. Sebagai langkah awal, membangun brand awarenes di Tiktok, UMKM dapat memanfaatkan layanan pemasaran zilingotrade.id.

Layanan ini memungkinkan UMKM mudah mengakses solusi bisnis terintegrasi yang akan memandu para pemasar menyusun strategi pe masaran keseluruhan. Termasuk, pengembangan dan manajemen konten media sosial dan layanan pemasaran digital.

Manfaatkan Chatbot

Salah satu perkembangan teknologi yang juga bisa dimanfaatkan para UMKM untuk mengembangkan usahanya, adalah chatbot.

Beberapa waktu lalu, Whatsapp dan UKM Indonesia meluncurkan direktori Pasar JuWAra, chatbot Whatsapp berbasis Application Programming Interface (API).

Chatbot ini dihadirkan untuk mempermudah konsumen berbelanja langsung dari pedagang pasar tradisional terdekat melalui Whatsapp. Program Pasar JuWAra dimulai sejak April 2021.

Kini, sekitar 1.130 pedagang dari 66 pasar di 25 kota Indonesia telah menjalani pelatihan Whatsapp Business dan sudah mulai berdagang via Whatsapp. “Dengan adanya pandemi yang ber akibat pada turunnya omzet pedagang pa sar tradisional hingga hampir 40 persen, Pasar JuWAra memungkinkan pelaku bisnis meningkatkan penjualan secara daring, ketimbang bergantung pada kedatangan pembeli ke pasar,” ujar Manajer Kebijakan Publik Whatsapp Indonesia, Esther Samboh.

Pengalaman memanfaatkan chatbot, disampaikan Sriyani Wulan, pedagang di Pasar Baru Mojokerto. “Saya hampir tidak pernah kedatangan pelanggan di pasar karena pandemi, sehingga sangat berimbas ke pendapatan saya. Namun, semua orang yang saya kenal menggunakan Whatsapp, jadi masuk akal untuk mencoba," ujarnya.

Menurut Sriyani, Whatsapp Business memudahkannya berjualan karena ia hanya perlu menampilkan barang jualan beserta harganya dalam satu katalog. Kemudian pembeli bisa memesan langsung dari sana.

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) RI telah mengakui Whatsapp sebagai mitra strategis untuk memberdayakan dan membantu UMKM go digital. “UMKM adalah tulang punggung perekonomian kita, dan salah satu sektor paling terdampak oleh pandemi,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki.

photo
Penjual melayani pembeli melakukan pembayaran digital via QRIS saat pembelian hewan di kawasan pasar kurban Merr Surabaya, Jawa Timur, Kamis (15/7/2021). Penjual hewan kurban menawarkan secara digital dengan aplikasi ternaknesia untuk pembelian hewan kurban dan belanja ke kandang dengan teknologi Virtual Reality (VR) selama masa Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat. - (ANTARA FOTO/Umarul Faruq)

Oleh karena itu, lanjut dia, kita perlu bekerja sama untuk membantu usaha-usaha ini tetap bertahan dan berkembang. Salah satunya dengan program Pasar JuWAra yang diinisiasi oleh Whatsapp dan UKM Indonesia.

Program ini menciptakan peluang berharga bagi pedagang-pedagang di pasar untuk menjangkau jutaan pengguna Whatsapp di Indonesia. Untuk mencari vendor terdekat melalui chatbot, pelanggan hanya perlu menyimpan nomor 087775313357 atau klik pranala wa.me/6287775313357di Whatsapp dan menyapa hai.

Konsumen kemudian akan diminta untuk memilih kategori produk dan membagikan lokasi, untuk dapat melihat daftar pedagang paling relevan serta nomor Whatsapp Business mereka. “Kami senang dapat meluncurkan chatbot direktori berbasis API sebagai kelanjutan dari rangkaian program Pasar JuWAra untuk memastikan upaya digitalisasi UMKM tidak hanya berhenti di pelatihan Whatsapp Business dan pameran virtual saja,” ujar Esther.

Ke depan, Whatsapp berencana mendaftarkan lebih banyak lagi pedagang ke chatbotuntuk terus menghubungkan para pedagang dengan jutaan konsumen di Indonesia.

Sasar UMKM di Daerah Digitalisasi Rendah

photo
Peresian Kerja sama Grab-Emtek Group - (Dok Grab Indonesia)

Saat ini, di Tanah Air masih banyak pekerjaan rumah untuk mewujudkan adopsi digital yang luas. Pekan lalu, Grab Indonesia dan Emtek Group resmi mengumumkan kolaborasinya untuk bersinergi di bidang media, all-commerce, dan produksi konten. 

Kedua perusahaan pun berkomitmen akan mempercepat transformasi digital usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang difokuskan pada kota-kota tier dua dan tiga yang selama ini seolah luput dari ingar-bingar perkembangan bisnis digital. 

Selain itu, kolaborasi ini juga akan menyediakan layanan digital yang lebih terjangkau bagi masyarakat, bahkan di daerah yang tingkat digitalisasinya masih rendah. Pengamat ekonomi dari Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menilai kolaborasi strategis Grab dan Emtek akan memberi landasan kokoh dan fungsional bagi perkembangan sistem digital nasional ke depan. 

Hal ini, terbukanya peluang yang sama bagi semua pelaku usaha di Indonesia. “Dengan kata lain, kolaborasi strategis ini tidak saja termotivasi untuk mengembangkan usaha korporasi kedua belah pihak, tapi juga serius ingin mengajak semua pelaku UMKM untuk ikut maju bersama. Terutama di kota-kota tier dua dan tiga yang belum menjadi fokus,” ujar Ronny. 

Kedua perusahaan akan menjajaki peluang kolaborasi di sektor logistik dan e-commerce, layanan keuangan, telemedicine, periklanan, dan media digital. Saat ini, PT Elang Mahkota Teknologi Tbk  telah menginvestasikan 375 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 5,4 triliun di PT Grab Teknologi Indonesia.

Prioritas utama kolaborasi ini adalah memperluas digitalisasi hingga ke tingkat kabupaten. Langkah ini merupakan fundamental yang penting karena meskipun 99 persen dari bisnis di Tanah Air adalah UMKM, namun baru sekitar 21 persen yang memiliki akses digital. 

Prioritas tersebut, tercermin dalam inisiatif pertama yang akan digulirkan, yakni program akselerator yang bersifat menyeluruh untuk UMKM. Caranya, dengan menawarkan solusi teknologi yang didukung Bukalapak dan Grab.

Ketika masuk ke ekosistem digital Grab-Emtek, UMKM Indonesia akan dilayani oleh solusi digital hasil sinergi antara Bukalapak, GrabFood, GrabKios, dan GrabMart. Ronny meyakini, ke depannya ekosistem digital besutan Emtek dan Grab ini diharapkan akan menjadi wadah UMKM agar menjadi lebih produktif dan agresif di satu sisi. 

Tapi, juga bisa lebih kreatif dan berdaya saing tinggi. Menurut Ronny, kehadiran ekosistem digital yang pro-UMKM ini pada gilirannya akan memperkokoh status dominan UMKM di dalam sistem perekonomian nasional. 

 


×