Desa Sepakung, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. | Youtube
02 Aug 2021, 06:49 WIB

Desa Wisata Sepakung Berbenah

Para mahasiswa dalam program KKN Tematik mendukung kegiatan pariwisata di Desa Wisata Sepakung.

UNGARAN--Selama pembatasan kegiatan wisata masih berlangsung, Pemerintah Desa Sepakung, Kecamatan Banyubiru, Kabupaten Semarang terus melakukan pembenahan dan perawatan berbagai fasilitas dan wahana wisata di kawasan Desa Wisata Sepakung.

Harapannya --saat aktivitas wisata kembali dibuka oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Semarang-- desa wisata tersebut sudah siap menerima dan tetap bisa memberikan kenyamanan bagi para pengunjungnya.

Kepala Desa Sepakung, Ahmat Nuri mengungkapkan, selama masa PPKM Darurat hingga PPKM level 4, desanya menjadi sasaran program KKN Tematik mahasiswa Universitas Diponegoro (Undip) selama 35 hari.

Selain bidang pertanian, program KKN Tematik di Desa Sepakung juga berfokus pada bidang Pariwisata. Sehingga ada sejumlah program yang dilaksanakan para mahasiswa KKN Tematik dalam mendukung kegiatan pariwisata di Desa Wisata Sepakung.

Terkait

“Kebetulan, untuk kegiatan hari ini dilaksanakan perawatan dan  pembenahan berbagai fasilitas dan wahana di obyek Gumuk Reco, Desa Wisata Sepakung,” jelasnya, saat dikomfirmasi di sela kegiatan di Gumuk Reco, Ahad (1/8).

Untuk kegiatan tersebut, jelasnya, antara lain dilakukan dengan pembersihan lingkungan kawasan Gumuk Reco, membersihkan wahana jembatan kaca, jembatan gantung, anjungan swafoto dan lainnya.

Sebelumnya, program KKN Tematik mahasiswa Undip juga telah mempercantik kawasan Gumuk Reco. Antara lain dengan membuat gapura artistik pada pintu masuk, menambah keindahan dengan tanaman hidroponik dan menambah fasilitas untuk mencuci tangan bagi pengunjung.

Salah satunya adalah fasilitas cuci tangan dengan teknologi nirsentuh. Sehingga memungkinkan pengunjung bisa mencuci tangan mereka, tanpa harus menyentuh botol untuk mengeluarkan sabun cair.

Karena fasilitas tersebut sudah dilengkapi dengan teknologi sensor. “Jadi, di obyek wisata Gumuk Reco kini sudah dilengkapi dengan fasilitas cuci tangan otomatis tersebut guna mendukung penerapan 3M,” tambah Ahmat Nuri.

Sementara itu, salah satu peserta KKN Tematik Undip 2021 di Desa Sepakung, Nurifa Aprilia menjelaskan, KKN Tematik Undip 2021 di Desa Sepakung memang mengangkat tema pertanian dan pariwisata.

Untuk pariwisata ada program pembuatan gapura di Gumuk Reco dan pemasangan fasilitas cuci tangan otomatis. Selain itu juga pelatihan pemanfaatan Google Spreadsheet untuk digitalisasi administrasi keuangan di Gumuk Reco.

“Termasuk membantu kelompok sadar wisata (pokdarwis) setempat dalam melakukan perawatan dan penambahan sarana serta fasilitas penunjang pendukung Kegiatan pariwisata, selama Kegiatan wisata ditutup dalam rangka PPKM,” jelasnya.

Dalam bidang pertanian, lanjut mahasiswa S1 Administrasi Publik ini, juga dilakukan program pelatihan budidaya tanaman dengan metode hidroponik. Yang terkait dengan isu lingkungan meliputi pembuatan bio pestisida serta pembuatan pupuk dengan memanfaatkan sisa nasi.

Selain itu juga mengenalkan dn mengajarkan berbagai teknologi dalam mendukung produk pertanian dan pariwisata. Misalnya mengajarkan cara pembuatan kopi rempah celup, budidaya ikan dalam ember (budikdamber), pengelolaan keripik singkong dengan saus aren.

 
Kami menyelenggarakan program self healing dengan berkebun untuk membantu meningkatkan imunitas alami bagi warga setempat di tengah pandemi Covid-19 yang belum usai ini.
NURIFA APRILIA, Peserta KKN Tematik Undip 2021
 

Ahmat Nuri menambahkan, para stakeholder pariwisata di Desa Wisata Sepakung merespon positif kegiatan KKN Tematik Undip tersebut. Selama PPKM Darurat –hingga akhirnya dilanjutkan dengan PPKM Level 4—seluruh Kegiatan wisata di desanya total berhenti.

Sehingga, selama itu pula tidak ada lagi pendapatan dari kunjungan wisata ke Desa Wisata Sepakung. Ia berharap kelonggaran di sektor Kegiatan pariwisata bisa segera diberikan oleh pemerintah.

“Dengan begitu, masyarakat kami --yang selama ini terlibat dalam pengelolaan wisata—dan saat ini harus kembali ke ladang maupun sawah masing- masing, bisa mendapatkan tambahan penghasilan lagi dari Kegiatan wisata,” tegasnya.


×