Ustazah Mamah Dedeh memberikan tausiyah saat acara Festival Republik dan Dzikir Nasional 2019 di Masjid Agung At- Tin, Jakarta, Selasa (31/12/2019). | Thoudy Badai_Republika
01 Aug 2021, 03:09 WIB

Suara Optimisme dari Ulama Perempuan

Butuh peningkatan kompetensi pendidikan untuk kaderisasi ulama perempuan.

 

OLEH ZAHROTUL OKTAVIANI

 

Keberadaan ulama perempuan di Nusantara sudah dimulai sejak lama. Nama-nama besar seperti Nyi Ageng Tegalrejo (nenek Pangeran Diponegoro), Cut Nyak Dien, Rahmah el Yunusiyyah, hingga Nyai Khoiriyah Hasyim menjadi bukti eksistensi perempuan di bidang ilmu agama.

Terkait

Mereka pun meletakkan fondasi bagi keberlanjutan para ulama perempuan. Meski demikian, almarhum KH Abdurrahman Wahid lewat Inpres Pengarusutamaan Gender Tahun 2000 membuat kaderisasi ulama perempuan mendapat dukungan dari negara. 

"Kita melihat mulai tahun 1990-an, baik pada level pendidikan formal maupun pendidikan berbasis pesantren, pendidikan tertua di Indonesia, sudah memberikan perhatian khusus pada pengkaderan keulamaan perempuan," kata Wasekjen MUI Bidang Perempuan Remaja dan Keluarga Ustazah Badriyah Fayumi saat dihubungi Republika, Selasa (27/7).

Ustazah Badriyah beranggapan, butuh peningkatan kompetensi pendidikan formal termasuk madrasah dan pesantren untuk kaderisasi ulama maupun dai perempuan. Menurut dia, tradisi keulamaan yang kuat dan mengakar berada di jenjang pendidikan pesantren karena berbeda dengan pendidikan tinggi.

“(Pendidikan tinggi) dia tidak mengalami bagaimana menjadi santri, mempelajari khazanah keislaman dari sumber-sumber primer, yaitu Alquran, hadis, kitab kuning. Semua ini dipelajari di pesantren,” jelas dia.

Penguatan lainnya bisa dilakukan di perguruan tinggi dan lembaga keulamaan, seperti MUI. Dia mengungkapkan, MUI memiliki program pendidikan kader ulama di mana perempuan harus mendapatkan keterwakilan. Di samping itu, Ustazah Badriyah menyebut ada beberapa lembaga pendidikan yang fokus memberikan pendidikan guna kaderisasi ulama perempuan seperti Rahima dan Ma’had Aly.

photo
Rahmah El Yunusiyyah - (DOK REPUBLIKA/Febrian Fachri)

Pendiri Ma'had Aly Zawiyah Jakarta, Ustazah Badrah Uyuni menjelaskan, sebenarnya banyak ulama perempuan yang menorehkan tinta emas dalam perjalanan sejarah Islam. Namun, budaya patriarki membuat kontribusi mereka menjadi tidak terlihat.

Budaya ini tak lepas dari keberadaan kolonialisme di Nusantara yang mempengaruhi cara penulisan sejarah. Penjajah seolah-olah menganggap perempuan tidak memiliki peran dalam kehidupan. Padahal, sebelum adanya penjajah, perempuan bisa mendapatkan posisi lebih tinggi dari laki-laki. ”Tatanan masyarakat kita lebih mengedepankan laki-laki," kata dia.

photo
Sejumlah anggota Badan Kontak Majelis Taklim saat menghadiri acara milad ke-38 tahun di Gedung Sasana Kriya TMII, Jakarta, Selasa (5/2/2013). Perayaan milad ke-38 tahun Badan Kontak Majelis Taklim tersebut bertemakan Membangun Bangsa Menuju Kejayaan Umat. - (Republika/Putra M. Akbar)

Putri alm KH Syaifudin Amsir ini pun merasa prihatin dan sedih dengan gugurnya ulama di Indonesia, baik laki-laki dan perempuan, khususnya akibat pandemi. Dia menjelaskan, ulama perempuan yang memang lebih sedikit ketimbang ulama laki-laki pun jumlahnya kian berkurang.

Ustazah Badrah Uyuni pun meyakini peribahasa, mati satu tumbuh seribu. Meski beberapa waktu terakhir banyak kabar ulama di Indonesia yang meninggal, ia meyakini pasti ada regenerasi ke depan yang mengikuti zaman.

Ia pun menanamkan prasangka baik atas hal tersebut, mengingat saat ini terlihat banyak perempuan yang sedang bersemangat dalam menimba ilmu agama. Dengan berkembangnya media sosial, ia menilai akan bermunculan pendakwah-pendakwah baru dan muda dengan caranya masing-masing.

photo
Sejumlah ibu membaca Alquran bersama tajwidnya saat mengikuti pengajian majelis taklim kaum ibu di masjid Istiqlal, Jakarta, Ahad (4/11/2018). Majelis taklim yang digagas oleh Salimah (Persaudaraan Muslimah) ini merupakan tempat belajar Alquran serta untuk membentuk masyarakat yang bertakwa kepada Allah SWT - (Republika/Mahmud Muhyidin)

Ustazah Dedeh Rosidah yang memiliki nama panggung Mamah Dedeh masih optimistis akan keberlangsungan ulama dan daiyah. Dia menjelaskan, eksistensi mereka kian meningkat seiring dengan tumbuhnya pesantren dan madrasah. Lembaga pendidikan Islam ini dinilai mampu mencetak kader ulama perempuan. ”Mamah sendiri melihat bagaimana banyaknya calon-calon dai dan daiyah ini," ujar dia.

Optimisme ini juga muncul dari pengalamannya saat menjadi salah satu pengisi program di TV nasional, Akademi Sahur Indonesia (AKSI). Dalam acara tersebut, ia melihat banyak daiyah perempuan yang potensial.

Tak hanya itu, ia juga melihat, banyak generasi muda perempuan yang memilih mengemban pendidikan di pesantren. Mereka memilih fokus untuk menghapal Alquran, ayat dan hadis, serta menambah ilmu agama. "Mungkin, kebetulan, mereka belum banyak yang muncul di TV atau media," jelas dia.


×