Pengunjung berwisata di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Rabu (23/6/2021). Petugas selalu berpatroli di tempat-tempat terbuka untuk mengecek penerapan protokol kesehatan. | ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso
31 Jul 2021, 20:27 WIB

Manfaatkan Waktu Pembatasan Kegiatan untuk Pembenahan

Pembatasan kegiatan dilakukan sebagai upaya menekan laju penularan virus Covid-19.

OLEH SHELBI ASRIANTI

Selama Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat, pengelola ruang terbuka menutup akses untuk masyarakat guna menekan kasus Covid-19. Masyarakat yang terbiasa melakukan olahraga, bersepeda, atau bahkan berjalan-jalan singkat ke ruang terbuka, tidak dapat melakukannya lagi untuk sementara waktu.

Penutupan daerah dan tempat-tempat terbuka ini, salah satunya dilakukan oleh pengelola Kawasan Pantai Indah Kapuk (PIK), Jakarta. Kawasan tersebut sebelumnya sering menjadi destinasi favorit warga sekitar Jabodetabek yang berwisata singkat.

Marketing Communication dan Komersial Manager Agung Sedayu Group Irwan Haris menyampaikan, hampir semua kawasan PIK berkonsep ruang terbuka tutup untuk sementara. Gerai makanan buka untuk layanan bawa pulang atau pesan antar.

Terkait

"Penutupan dilakukan sebagai upaya menekan laju penularan virus Covid-19 yang belakangan melonjak dan mencegah terjadinya kerumunan di tempat umum," kata Irwan, beberapa waktu lalu.

Dengan protokol kesehatan (prokes) yang lebih ketat, suasana di PIK terlihat berbeda. Pemandangan yang ramai pengunjung berjalan-jalan atau makan di tempat di hari yang biasanya, kini hanya tampak aktivitas pemesanan daring. Selama PPKM, petugas selalu berpatroli untuk mengecek penerapan prokes. Salah satu aturannya, dilarang keras berkerumun di Kawasan PIK.

Taman Impian Jaya Ancol juga menutup pula lokasinya bagi pengunjung. Tidak cuma sejumlah wahana dan destinasi wisata seperti Sea World, Dufan, dan lainnya, tetapi juga kawasan pantai dan Ecopark. Kedua kawasan terakhir biasanya kerap didatangi masyarakat untuk berjemur, bersepeda, atau pun berolahraga santai di pagi hari. 

photo
Petugas menghentikan kendaraan pengunjung yang akan berwisata di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta, Rabu (23/6/2021). - (ANTARA FOTO/Indrianto Eko Suwarso)

Corporate Secretary PT Pembangunan Jaya Ancol Tbk Agung Praptono menginformasikan, penutupan sementara sudah berlangsung sejak 24 Juni 2021. Keputusan manajemen Ancol seiring dengan aturan PPKM Berbasis Mikro DKI Jakarta, lantas berlanjut dengan adanya PPKM Darurat di Wilayah Jawa dan Bali.

"Pada saat penutupan sementara ini, kami manfaatkan untuk melakukan perbaikan, pembenahan, dan penguatan protokol kesehatan. Seluruh area kami jaga kebersihannya dan melakukan sterilisasi agar ketika buka nanti pengunjung dapat berekreasi dengan aman dan nyaman," ujar Agung.

Sejumlah kebun raya yang dikelola Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yakni Kebun Raya Bogor, Kebun Raya Cibodas, Kebun Raya Purwodadi, dan Kebun Raya Bali juga tutup sementara. Kabar diumumkannya lewat akun Instagram @kebunraya_id. Penutupan sementara itu sebagai implementasi dari PPKM Darurat. 

Kebun Raya akan dibuka kembali setelah melihat perkembangan situasi. Selama penutupan, Kebun Raya tetap menjalankan langkah-langkah perawatan dan pencegahan. Hal ini disampaikan Pelaksana Tugas (Plt) General Manager Kebun Raya Bogor (KRB), Zaenal Arifin. Selama penutupan, pihaknya melakukan penyemprotan desinfektan ke seluruh fasilitas publik di KRB.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kebun Raya (kebunraya_id)

Perawatan berbagai koleksi tumbuhan dan taman tetap dijalankan. "Agar mewujudkan pelayanan publik terbaik di bidang eduwisata serta mewujudkan kenyamanan juga keamanan pengunjung ketika tempat wisata ini akan dibuka kembali," tutur Zaenal.

Pihak pengelola memberikan perpanjangan waktu kunjungan bagi masyarakat yang sudah membeli tiket KRB untuk waktu kunjungan di sekitar tanggal penutupan sementara. Pengunjung bisa menggunakan tiketnya maksimal 90 hari dihitung dari hari pembelian.

photo
Warga berjemur di sekitar rumahnya di kawasan Jati Padang, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (16/7/2021). Berjemur di rumah jauh lebih aman untuk mengurangi kontak dengan banyak orang. Republika/Thoudy Badai - (Republika/Thoudy Badai)

Tetap Aman di Ruang Terbuka

 

Bagi Yuda Pratia, kebiasaan berjemur di pagi hari dirasakan penting untuk kesehatannya. Warga Depok berusia 30 tahun ini kerap melakoninya, bahkan sebelum pandemi Covid-19. Kebiasaannya itu dilakukan di halaman rumah, di taman dekat kediamannya, atau di tempat terbuka bersama istri dan anaknya. 

"Bisa jemur badan sambil sarapan, menaikkan mood sama imun juga," kata Yuda kepada Republika, beberapa hari lalu.

Karyawan swasta di Jakarta ini berusaha menghindari kerumunan dan selalu menjalankan protokol kesehatan (prokes). Ketika ada orang bergerombol di suatu lokasi, Yuda memilih beranjak ke bagian yang sepi. 

Bahkan, demi keamanan keluarga, dia menyempatkan survei lokasi dahulu sebelum berjemur di akhir pekan ke tempat itu bersama keluarganya. Jika aman, baru keesokan harinya mereka datang ke sana. 

Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat sejak 2 Juli 2021 dan ditutupnya fasilitas umum tentu berdampak pada kebiasaannya itu. Makanya, Yuda cukup puas dengan berjemur di halaman rumah atau sekitar kompleksnya.

"Saya berharap kembali dibuka tapi dikasih batasan masuk berapa orang dan jangan hanya warga ber-KTP daerah situ saja. Agak susah saya sekarang mau ke mana-mana karena harus KTP Jakarta," ungkapnya.

photo
Siswa SD mengerjakan tugas sekolah menggunakan aplikasi daring dari gawai sambil berjemur sinar matahari pagi di rumahnya di Laladon Gede, Desa Laladon, Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Selasa (31/3/2020). Berjemur di rumah jauh lebih aman untuk mengurangi kontak dengan banyak orang. - (ANTARA FOTO)

Dokter spesialis paru di Primaya Hospital Bhakti Wara Pangkalpinang dr Zikanovelia SpP paham bahwa masyarakat yang berjemur selama pandemi sebenarnya juga butuh pemandangan yang tak membosankan. Namun, dia mengingatkan prioritas utama saat ini, yakni kesehatan. Karena itu, berjemur di rumah jauh lebih aman untuk mengurangi kontak dengan banyak orang.

Warga Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung, itu mengatakan, berjemur di halaman rumah, balkon, maupun di kamar yang terpapar sinar matahari sama baiknya, asalkan caranya tepat. Berdasarkan pedoman dari tim organisasi profesi, berjemur yang aman adalah sekitar pukul sembilan pagi atau setelah pukul tiga sore. Durasinya cukup 10 sampai 15 menit. "Tidak perlu terlalu lama," katanya.

Dia menjelaskan, sinar matahari di waktu tersebut baik, karena kaya UVB yang membantu mengaktifkan vitamin D untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Berbeda dengan sinar matahari di kala terik yang punya efek samping merusak kulit dan berpotensi menyebabkan kanker.

Disampaikan Zika, aktivitas berjemur bukan untuk mematikan virus, tapi mengaktifkan vitamin D yang masuk dari semua bahan yang dikonsumsi. Sumber Vitamin D adalah telur, hati ayam, susu, dan keju. "Dengan bantuan sinar matahari yang cukup dosis dan tepat waktu bisa mengubah vitamin D yang diserap tubuh menjadi aktif dan meningkatkan sistem imun. Kalau imun kuat, akan kuat menghadapi virus," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by BMKG (infobmkg)

 

Masyarakat yang tetap ingin berjemur di ruang terbuka, kata dia, disarankan melakoni prokes ketat dengan masker ganda dan menjaga jarak dari orang lain. Segera mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir selama 20 detik jika menyentuh permukaan, seperti kursi atau benda di fasilitas umum. Jika sabun tak ada, boleh menggunakan cairan sanitasi tangan. 

Selain itu, dianjurkan tidak sering menyentuh area wajah. Apabila berjemur bersama teman atau anggota keluarga dan berfoto, lebih baik tidak membuka masker, apalagi saling mendekatkan wajah. Begitu pula saat berjemur dan ada tetangga, masker tetap digunakan serta menjaga jarak satu sampai dua meter. 

Menurut Zika, berjemur untuk semua usia tidak perlu dilakukan setiap hari. "Tidak disarankan setiap hari, dua sampai tiga kali seminggu saja cukup," ujarnya.


×