Ibadah kurban merupakan legasi Nabi Ibrahim dan Ismail yang terus dilestarikan umat Islam sejak 14 abad silam. | Republika/Thoudy Badai
31 Jul 2021, 09:39 WIB

Teladani Kesabaran Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail menginspirasi peradaban manusia.

JAKARTA— Pandemi Covid-19 merupakan ujian kesabaran bagi umat manusia. Menghadapi ujian besar ini, umat Islam dapat menumbuhkan optimisme dengan meneladani kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS.

“Ini (pandemi) merupakan cobaan besar dari Allah SWT dan ini mungkin adalah ujian kesekian kalinya sejak penciptaan bumi, seperti banjir bandang saat masa Nabi Nuh, atau ujian kesabaran yang diberikan Allah SWT pada Nabi Ibrahim, saat dia diminta Allah menyembelih putranya, Nabi Ismail,” kata Ketua Yayasan Indonesia Damai Mengaji, Syafruddin, saat menyampaikan sambutan pada diskusi keagamaan bertema “Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS di Era Pandemi", Jumat (30/7).

Dalam acara yang disiarkan langsung melalui kanal Youtube Tawaf TV tersebut, Syafruddin juga menerangkan pemilihan tema kegiatan ini. ‘’Yakni, untuk memberikan pandangan dan wawasan kepada generasi muda tentang sejarah peradaban manusia, mengingat Nabi Ibrahim adalah bapak dari tiga agama terbesar di dunia, Islam, Yahudi dan Kristen,’’ katanya.

Harapannya, lanjut Syafruddin, generasi muda Muslim akan memahami benang merah antara pengetahuan Islam dan sejarah peradaban manusia. ‘’Sebab, para pemuda inilah yang akan melanjutkan sejarah peradaban Islam sekaligus sejarah peradaban manusia,” katanya.

Terkait

Pada forum yang sama, Ahli Filologi Universitas Airlangga, Prof Menachem Ali menjelaskan, Nabi Ibrahim memiliki sebutan berbeda di setiap kitab suci. Jika di dalam Alquran disebut Ibrahim, dalam Tanakh (Taurat) disebut sebagai Abraham, begitu juga dalam Alkitab. Sebagai bapak dari tiga agama besar dunia, menurut Ali, kisah Nabi Ibrahim khususnya tentang kesabarannya saat mendapat ujian dari Allah SWT bisa menjadi pedoman, bukan hanya bagi umat Muslim, melainkan juga umat Nasrani dan Yahudi.

Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, lanjut dia, diberikan gelar halim oleh Allah. Gelar halim, yang berarti pengasih, pemurah, baik, tenang, dan lembut itu hanya diberikan kepada dua manusia saja, yang tak lain adalah Nabi Ismail dan ayahnya, Nabi Ibrahim.

Menurut Ali, halim memiliki derajat lebih tinggi dibandingkan saleh. ‘’Jika orang disebut saleh maka dia belum tentu halim, tapi mereka yang disebut halim sudah pasti saleh,’’ katanya.

 

Terkait kisah pengorbanan Nabi Ibrahim saat diperintah Allah untuk menyembelih Ismail, menurut Ali, muncul pertanyaan, mengapa Allah SWT tidak langsung memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan hewan ternak?

“Jawabannya sederhana, karena jika Allah SWT langsung memerintahkan Ibrahim untuk menyembelih hewan ternaknya, rasa pengorbanan dan keikhlasan Ibrahim tidak akan sebesar saat dia harus merelakan putra satu-satunya untuk disembelih,” ujarnya.

Melalui ujian ini,  menurut Ali, Allah menekankan hakikat kepemilikan kepada Ibrahim. Sebab, pada dasarnya seluruh yang ada di bumi dan alam semesta adalah kepemilikan-Nya, termasuk anak, istri, orang tua, bahkan tubuh kita sendiri.

“Ini merupakan refleksi bahwa apa yang ada di dalam Alquran merupakan peristiwa yang bisa dijadikan pelajaran hidup termasuk apa yang dialami Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.," katanya.


×