ILUSTRASI Khalid bin Walid, sahabat Nabi SAW yang dijuluki sebagai pedang Allah yang terhunus. | DOK REP DAAN YAHYA
31 Jul 2021, 05:52 WIB

Khalid bin Walid dan Misi dari Mu’tah ke Yarmuk

Khalid bin Walid memiliki keunggulan tidak hanya dalam fisik, tetapi juga strategi perang.

OLEH HASANUL RIZQA

"Inilah tonggak awal dari gelombang besar pertama pembebasan Muslimin di luar Jazirah Arab."

 

 

Terkait

Khalid bin Walid memeluk Islam kira-kira setahun pasca-Perjanjian Hudaibiyah. Sebelum berislam, dirinya adalah salah satu komandan kavaleri kebanggaan musyrikin. Berkat kejeliannya, pasukan Muslimin kalah telak dalam Perang Uhud pada tahun ketiga Hijriyah atau 625 Masehi.

Begitu menyatakan keislaman, lelaki dari Bani Makhzum itu menjadi seorang yang terdepan membela Nabi Muhammad SAW. Ia curahkan seluruh kemampuannya, termasuk dalam bidang strategi dan pertempuran militer, demi kejayaan Islam. Rasulullah SAW bahkan menggelarinya sebagai “pedang Allah yang terhunus.”

Medan jihad pertama yang melibatkan Khalid bin Walid sebagai seorang Muslim ialah Perang Mu’tah. Pertempuran pada tahun kedelapan Hijriyah itu mengambil tempat di kawasan Mu’tah, dekat perbatasan Syam—kini termasuk wilayah negara Jordania. Inilah perang pertama yang memperhadapkan antara kekuatan Arab-Islam dan Barat-Kristen.

Pemicu perang ini adalah pembunuhan yang dilakukan Syurahbil bin ‘Amr terhadap seorang utusan Rasulullah SAW. Delegasi itu diutus beliau kepada Syurahbil, yang memerintah di bawah kontrol Romawi Timur (Bizantium). Dengan keji, gubernur Bashrah itu malah membunuh pembawa surat Nabi SAW tersebut.

Pada Jumadil Awwal tahun kedelapan Hijriah, Rasulullah SAW mengirimkan pasukan berjumlah 3.000 orang. Mereka dipimpin Zaid bin Haritsah, yang didampingi dua wakil: Ja’far bin Abi Thalib dan Abdullah bin Rawahah. Khalid bin Walid pun turut serta dalam ekspedisi ini sebagai prajurit biasa.

Begitu tiba di Yordania timur, pasukan Muslimin mengetahui besarnya balatentara Bizantium, yakni tak kurang dari 100 ribu orang. Prajurit musuh itu terdiri atas suku-suku Arab yang memeluk agama Nasrani dan pagan. Sebagian lagi ialah orang-orang Eropa asli.

 
Pasukan Muslimin mengetahui besarnya balatentara Bizantium, yakni tak kurang dari 100 ribu orang.
 
 

Sementara, pasukan Muslimin “hanya” berjumlah 3.000 orang. Bagaimanapun, Zaid tetap menginstruksikan pasukannya untuk terus maju. Tenda pun didirikan di ar-Ribbah, suatu area bekas permukiman kuno. Abdullah bin Rawahah yang juga dikenal sebagai penyair terus memotivasi Muslimin agar tidak gentar menghadapi musuh.

Keesokan harinya, aliansi Bizantium menyerang pasukan Islam. Menghadapi besarnya jumlah pasukan musuh, Muslimin berusaha mundur ke selatan, hingga tiba di daerah bernama Mu’tah. Zaid membakar semangat pasukannya, “Ayo kita semua maju! Kita pasti memperoleh salah satu dari dua kebaikan: menang atau mati syahid!”

Ia tampil memimpin pasukan. Namun, tombak musuh tiba-tiba menghujam tubuhnya. Zaid pun gugur dalam kondisi syahid. Kepemimpinan pun berpindah ke tangan Ja’far. Namun, heroisme Ja’far berakhir ketika sabetan-sabetan pedang pasukan Bizantium melukai tubuhnya. Ia pun menyusul Zaid ke rahmatullah. Kepemimpinan beralih ke tangan Abdullah bin Rawahah.

Namun, Abdullah juga ikut gugur. Maka segera Tsabit bin al-Arqam mengambil bendera perang, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi agar moral pasukan Muslimin tidak surut. Lalu, dengan gesit ia melarikan kudanya menuju Khalid dan berkata kepadanya, “Peganglah panji ini, wahai Abu Sulaiman!”

Khalid merasa tidak pantas menerimanya. Sebab, sosok berjulukan Abu Sulaiman itu baru masuk Islam. Dalam benaknya, tidak pantas seorang mualaf disepadankan dengan Muslimin yang telah lama mendampingi Nabi SAW, termasuk syuhada yang ahli Badar itu.

“Tidak, demi Allah engkau pantas memegang panji perang ini,” jawab Khalid.

“Ambillah! Sebab engkau lebih mengetahui tentang strategi perang daripadaku. Dan demi Allah, tidaklah kuambil panji ini dari jasad Ibnu Rawahah kecuali untuk membawakannya kepadamu,” sahut Tsabit lagi.

photo
ILUSTRASI Khalid bin Walid berhasil memimpin ekspansi wilayah Islam hingga ke Irak dan Syam. - (DOK PXHERE)

Maka dengan penuh keyakinan, Khalid menerima panji tersebut. Tandanya, dia kini menjadi komandan kaum Muslimin di medan pertempuran Mu’tah. Dalam suasana perang berkecamuk terus, ia dengan cepat memikirkan dan menerapkan strategi perang yang dapat mengeluarkan pasukan Islam dari keadan terimpit. Strateginya berhasil membuka jalur yang cukup luas di antara barisan pasukan aliansi Bizantium. Melalui itulah, pasukan Muslimin dapat meloloskan diri.

Begitu lolos, pasukan Muslimin di bawah komando Khalid menerima instruksi baru. Kali ini, Khalid membuat strategi memecah pasukan Muslimin menjadi dua sayap. Saat malam tiba, masing-masing sayap pasukan Muslimin menempati posisi yang telah ditentukan. Pagi harinya, dua sayap itu menyerang musuh secara berbarengan.

Serangan tiba-tiba dari dua arah ini, ternyata membuat pasukan musuh terkejut. Mereka mengira, pasukan Muslimin mendapatkan tambahan pasukan dari arah selatan. Sebelum musuh menyadari apa yang sebenarnya terjadi, pasukan Muslimin berhasil memukul mundur mereka.

Melihat pasukan musuh mundur, Khalid menginstruksikan pasukannya agar tidak melakukan pengejaran. Mereka diperintahkan mundur teratur ke Madinah. Pertimbangannya adalah, bila pasukan musuh menyadari strategi yang diterapkan, aliansi Bizantium itu akan kembali menyerang dengan kekuatan penuh.

 
Serangan tiba-tiba dari dua arah ini, ternyata membuat pasukan musuh terkejut. Mereka mengira, pasukan Muslimin mendapatkan tambahan pasukan.
 
 

Sesampainya di Madinah, berita pasukan Muslimin yang berhasil memukul mundur musuh membuat Rasulullah SAW bersuka cita. Memang, sebagian Muslimin merasa kecewa. Sebab, Khalid dinilai tidak berani mengejar musuh dan menghabisinya.

Mendengar kekecewaan itu, Rasulullah SAW bersabda, “Mereka sama sekali bukan orang-orang yang melarikan diri dari medan perang. Mereka insya Allah adalah orang-orang yang saat ini pulang dan akan kembali berjihad.”

Sejak Perang Mu'tah, tidak ada peperangan berikutnya dalam sejarah jihad Islam yang tidak disertai Khalid. Setelah Nabi Muhammad SAW wafat, sang Saifullah al-Maslul itu terus berandil besar dalam pasukan Khalifah Abu Bakar. Salah satu perannya ialah dalam Perang Ridda. Di sana, dirinya bertugas menumpas kelompok murtad yang dipimpin Tulaihah bin Khuwailid.

Saat tampuk kekhalifahan berpindah ke tangan Umar bin Khattab, Khalid juga mendapatkan posisi penting dalam jajaran militer Islam. Salah satu medan jihadnya ialah pembebasan wilayah Syam dari cengkeraman Bizantium. Sekurang-kurangnya, ada 10 pertempuran yang di dalamnya ia terlibat demi membela Islam. Di antaranya adalah Perang Marj Rahit, Pengepungan Busrah, Perang Ajnadayn, Pengepungan Halab (Aleppo), dan Perang Yarmuk.

photo
Ilustrasi Pertempuran Yarmuk oleh ilustrator anonim asal Catalonia (1310–1325). - (DOK Wikipedia)

Strategi jitu

Perang Yarmuk merupakan salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia. Inilah tonggak awal dari gelombang besar pertama pembebasan Muslimin di luar Jazirah Arab. Dengan memenangkan pertempuran tersebut, Islam pun menyebar lebih pesat ke wilayah-wilayah bekas jajahan Bizantium di Asia Barat.

Perang ini terjadi pada Agustus 636 M. Lokasinya adalah lembah Yarmuk, yakni daerah aliran sungai di Jordania timur. Dalam Al-Bidayah wa an-Nihayah karangan Ibnu Katsir, disebutkan bahwa jumlah pasukan Muslimin sebanyak 24 ribu orang dalam Perang Yarmuk.

Adapun pasukan Bizantium mencapai 120 ribu orang. Sumber lain menyebutkan, jumlah pasukan Islam berkisar 30 ribu hingga 40 ribu orang. Sementara, Bizantium mengerahkan 240 ribu orang pasukan. Pemimpin pasukan Bizantium bernama Tazariq, yang merupakan saudara kaisar Heraklius.

Pasukan Bizantium terdiri atas banyak unsur, seperti orang Romawi, Arab-Kristen, dan Armenia. Tidak hanya di daratan, Tazariq pun menyiapkan armada di lepas pantai. Saat pertempuran hendak dimulai, komandan Bizantium itu menyuruh  para pendeta untuk membacakan ayat-ayat dari Injil demi memotivasi pasukan. Mendengarnya, Muadz bin Jabal yang turut dalam pasukan Muslim berdoa, “Ya Allah, goyahkanlah kaki mereka, dan tegarkanlah kami dengan kalimat takwa.”

Sementara itu, Khalid bin Walid telah tiba di Syam dengan membawa tentara tambahan dari Irak. Pergerakan Khalid ke Syam itu merupakan titah Khalifah Abu Bakar. Ditambah dengan pasukan setempat yang dipimpin Ikrimah bin Abi Jahal, maka total pasukan Muslimin mencapai sekira 40 ribu orang.

Sebelum perang dimulai, kedua belah pihak membuka negosiasi. Dari kubu Bizantium, datang ultimatum. Namun, Muslimin tidak gentar sedikit pun.

Hari pertama adalah duel antarjagoan dari masing-masing pihak. Bahkan, seorang komandan prajurit Romawi, yakni Jarajah, lantas memeluk Islam. Ia segera bergabung dalam barisan Muslimin di perang ini.

 
Seorang komandan prajurit Romawi, yakni Jarajah, lantas memeluk Islam. Ia segera bergabung dalam barisan Muslimin di perang ini.
 
 

Pada hari kedua, pasukan Bizantium memukul mundur sayap kanan pasukan Muslimin. Tak lama kemudian, sisi kiri pasukan Islam pun dipukul mundur. Khalid lalu mengirimkan pasukan kavaleri untuk mendukung sayap kanan dan lalu sayap kiri pasukan tersebut.

Hingga hari ketiga, keadaan masih status quo, baik kubu Muslim maupun Bizantium mundur ke posisi masing-masing.

Barulah pada hari keempat, pertarungan hebat yang menentukan. Strategi Khalid yang semula tampak defensif mulai bekerja. Pasukan Romawi “dibiarkan” bergerak lebih dahulu.

Saat kuda-kuda mereka melewati garis depan pasukan Muslim, Khalid menyuruh pasukannya tetap bertahan. Akhirnya, pasukan musuh tiba di garis belakang pasukan Muslimin. Di sanalah, mereka akan disergap pasukan kavaleri.

Penyergapan ini juga berakibat terpisahnya infanteri Romawi dengan kavalerinya. Alhasil, Muslimin dapat memenangkan pertempuran yang berlangsung total enam hari itu.

photo
Pengerahan pasukan dalam pertempuran Yarmuk - (DOK Wikipedia)

 

Antara Umar dan Khalid

 

Sesudah wafatnya Abu Bakar ash-Shiddiq, kaum Muslimin dipimpin Umar bin Khattab. Sahabat Nabi Muhammad SAW yang berjulukan al-Faruq itu tetap meneruskan kebijakan pendahulunya. Salah satunya mengenai ekspansi daerah kekuasaan Islam. Alhasil, perluasan wilayah di Syam pun turut menjadi perhatiannya.

Waktu itu, Muslimin sedang menantikan kabar dari pasukan Islam yang terjun dalam Perang Yarmuk. Tokoh kunci dalam pertempuran itu ialah Khalid bin Walid. Sahabat berjulukan “Pedang Allah yang terhunus” itu tercatat tidak pernah kalah dalam setiap jihad yang diikutinya.

Maka ketika Umar naik sebagai khalifah menggantikan Abu Bakar, diutusnyalah dua delegasi ke Syam. Satu utusan mengabarkan wafatnya Abu Bakar, sedangkan utusan yang lain membawa perintahnya mengenai Khalid. Yakni, pemecatannya dari jabatan komandan pasukan.

Seperti dijelaskan dalam biografi Umar bin Khattab karya Muhammad Husain Haekal, antara dua sahabat Nabi SAW memang sering berseberangan. Menurut Haekal, baik Umar maupun Khalid dilanda krisis kepercayaan satu sama lain. “Umar melihat Khalid begitu sombong sehingga ia (Khalid) serba tergesa-gesa,” tulis Haekal.

photo
ILUSTRASI Sahabat Nabi SAW, Khalid bin Walid, merupakan jenderal kavaleri kebanggaan musyrikin Quraisy sebelum dirinya memeluk Islam. Sejak menjadi Muslim, tak satu pun jihad yang tidak dimenangkannya. - (DOK PXHERE)

Umar tampaknya masih mengenang kejadian nahas saat Fath Makkah. Khalid diketahui membunuh seorang, padahal Nabi SAW sudah memerintahkan agar tidak ada pertumpahan darah saat pembebasan Makkah. Kejadian terbunuhnya Malik bin Nuwairah di tangan Khalid pada zaman Abu Bakar pun sudah barang tentu diingat sang amirul mukminin.

Sebaliknya, Khalid diketahui menyimpan rasa gusar terhadap Umar sejak era khalifah pertama. Sewaktu diperintahkan Abu Bakar untuk beranjak dari Irak ke Syam, Khalid mengira perintah itu datang karena sang khalifah dipengaruhi opini Umar. “Dia (Umar) dengki kepada saya karena saya yang membebaskan Irak,” kata Khalid.

“Jika kepercayaan antara kedua orang itu sudah hilang sedemikian rupa, kerja sama pun sudah tidak akan mungkin, terutama jika yang seorang kepala negara dan yang seorang lagi pemimpin militer dan panglimanya. Jadi tidak heran Umar memecat Khalid,” papar Haekal.

Yang jelas, Khalid menerima surat pemecatan itu dengan lapang dada sekaligus strategis. Maknanya, ia memastikan terlebih dahulu strateginya dalam Perang Yarmuk diterima, baru kemudian jabatan diserahkannya kepada Abdullah bin Ubaid—sosok yang ditunjuk Umar.

Setelah mundur dari jabatannya, Khalid kemudian kembali ke Madinah untuk melapor kepada sang amirul mukminin bahwa titahnya sudah dilaksanakan.


×