Seorang anggota TNI memakaikan masker kepada seorang anak pengendara sepeda motor di salah satu ruas jalan di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (27/7/2021). | ANTARAFOTO/BASRI MARZUKI
31 Jul 2021, 03:45 WIB

Menkes: Testing-Lacak Masih Belum Maksimal

Kondisi darurat ini memerlukan tindakan prioritas yang langsung berdampak di masyarakat.

JAKARTA – Salah satu upaya memotong rantai penularan Covid-19 yang paling efektif adalah dengan 3T atau testing, tracing, treatment. Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengakui, upaya meningkatkan 3T ini masih menjadi pekerjaan rumah (PR) baginya di tengah kasus harian yang masih tinggi.

“Kita vaksinasi sudah lumayan, tapi testing, lacak, dan isolasi kita masih di bawah rata-rata negara-negara yang memang baik,” kata Budi dalam konferensi daring yang diselenggarakan Universitas Airlangga (Unair), Jumat (30/7).

Menurutnya, testing harus benar-benar sesuai kaidah epidemiologis. Bukan hanya tahapan skrining, orang yang melakukan perjalanan, atau skrining akan bertemu orang-orang tertentu. Namun, betul-betul dilakukan berdasarkan kaidah epidemiologis yakni ketika melakukan kontak dengan orang yang positif, maka dilakukan pelacakan.

Budi mengatakan, disiplin melakukan testing yang sesuai kaidah memang masih sangat jauh dari standar. “Kalau misalnya Unair bisa membantu, tolong kita bangun disiplin 3T yang baik,” kata dia.

Terkait

photo
Petugas Satpol PP menegur warga tidak menggunakan masker saat pelaksanaan operasi yustisi Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4 di Jalan Ahmad Yani Km 6, Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Rabu (28/7/2021). Hari pertama penegakan PPKM Level 4 di Banjarmasin puluhan pengendara terjaring petugas gabungan karena melanggar protokol kesehatan. - (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/hp.)

Menurutnya, disiplin 3T perlu dimulai dari satu daerah. Setelah berhasil, maka contoh tersebut bisa menjadi bukti untuk daerah lain bahwa ketika 3T disiplin maka pandemi akan lebih terkendali. “Ini akan membuat kota tersebut bisa pulih lebih cepat dibandingkan dengan yang lain, selain dengan vaksinasi. Vaksinasi benar, tapi bukan satu-satunya cara untuk mengatasi pandemi,” kata dia.

Ketua Tim Perumus Rekomendasi Guru Besar Fakultas Kedokteran Unair, Hendy Hendarto, memberikan rekomendasi untuk penanganan Covid-19. Rekomendasi dibagi menjadi dua, yaitu umum dan khusus.

Rekomendasi umum diberikan untuk seluruh komponen bangsa termasuk masyarakat yang harus mempunyai persepsi sama bahwa saat ini Indonesia sedang mengalami krisis. Kondisi darurat ini memerlukan tindakan prioritas yang langsung berdampak pada perbaikan di masyarakat.

Hendy mengatakan, diperlukan partisipasi dari seluruh komponen bangsa untuk bergotong royong mengatasi pandemi. Semua kegiatan yang dilakukan untuk mengatasi pandemi harus bersinergi dan terkoordinasi dengan satgas Covid-19 pusat maupun daerah.

photo
Sejumlah personel Badan Keamanan Laut membagikan masker kepada pengendara yang melintas di Pangkalan Kapal Patroli Bakamla Serei, Minahasa Utara, Sulawesi Utara, Selasa (27/7/2021). - (ANTARA FOTO/ADWIT B PRAMONO)

Sementara itu, rekomendasi khusus dibagi ke dalam hulu dan hilir. Di bagian hulu, Hendy mengatakan, FK Unair mendorong penguatan dan pendampingan isolasi mandiri oleh tenaga kesehatan. Teknologi telemedicine harus dioptimalkan sesuai panduan satgas.

“Perlu perhatian pada kelompok rentan di masyarakat, yaitu usia lanjut, ibu hamil, bayi, anak, orang dengan komorbid, serta kehati-hatian pada klaster keluarga,” ujar Hendy.

Selanjutnya yakni penguatan satgas tingkat lokal dengan partisipasi organisasi-organisasi di masyarakat. Perlu juga dibuka komunikasi hotline untuk masyarakat yang membutuhkan informasi pandemi sesuai panduan satgas Covid-19 dengan mengikutsertakan perguruan tinggi di daerah tersebut.

Untuk bagian hilir saat ini telah terjadi ketidakseimbangan antara permintaan dan penawaran. Artinya, terjadi overcapacity pasien dan kekurangan sarana serta sumber daya manusia (SDM). Upaya menambah tenaga, fasilitas kesehatan, dan perhatian pada keselamatan tenaga kesehatan perlu dilakukan.

Bagi rumah sakit, Guru Besar FK Unair mengusulkan untuk pendayagunaan dokter umum, magang, dan paramedis untuk menjadi relawan Covid-19 dengan diadakan pelatihan sebelumnya. Selain itu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) diharapkan juga ikut berpartisipasi melalui program pelayanan di rumah sakit.

Hendy menambahkan, rumah sakit juga diimbau untuk membuat daftar atau pemetaan donor plasma konvalesen di masyarakat. “Berkoordinasi dengan PMI dan instansi terkait, sehingga segera siap digunakan saat diperlukan,” kata dia. 


×