Petugas Public Safety Center 119 (PSC 119) mengevakuasi jenazah pasien Covid-19 yang meninggal saat isolasi mandiri (isoman) di rumahnya di Jalan Padasuka, Cibeunying Kidul, Kota Bandung, Rabu (28/7/2021). Makin banyak warga terinfeksi Covid-19 yang menin | REPUBLIKA/ABDAN SYAKURA
29 Jul 2021, 03:45 WIB

Menularkan ‘Virus’ Niat Baik

Makin banyak warga terinfeksi Covid-19 yang meninggal saat isoman.

OLEH FEBRYAN A

Handaya Jaya (55 tahun) kaget melihat sejumlah petugas yang mengenakan hazmat tiba-tiba mendatangi rumah tetangganya di Kebon Jeruk, Jakarta Barat, pertengahan Juli lalu. Sepengetahuannya, kondisi sang tetangga baik-baik saja meski sempat mengeluh sedang flu.

Tak lama berselang, ketua RT itu melihat petugas tersebut mengevakuasi mayat seorang perempuan. “Ternyata positif Covid-19 setelah dilakukan tes PCR pada mayatnya,” kata Handaya kepada Republika, Rabu (28/7).

Almarhumah tinggal di kontrakannya yang berlokasi di RT 10/RW 04, Kelurahan Sukabumi Utara. Rumah itu berukuran 5x8 meter dan dihuni dua kepala keluarga (KK) atau 10 orang. Alhasil, selain meninggal tanpa mendapatkan perawatan medis yang tepat, seluruh anggota keluarganya juga terinfeksi Covid-19.

Terkait

Dari kejadian pilu itu lah Handaya memutar otak. Ia tak ingin lagi ada tetangga yang tiba-tiba meregang nyawa. Sebab, warga RT 04 maupun warga Kelurahan Sukabumi Utara secara umum juga banyak yang tinggal di rumah yang tak layak sebagai tempat isolasi mandiri (isoman).

Mereka hidup dalam keterbatasan ekonomi di dalam rumah petak yang dihuni satu KK lebih. Rumah kontrakan itu juga banyak yang saling berdempetan. Risiko penularan ke orang lain tinggi jika mereka menjalani isoman di kontrakan.

photo
Rumah isolasi mandiri Covid-19 di Jalan Panjang Arteri Nomor 57, RT 06/RW 04, Kelurahan Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat. - (Istimewa)

Handaya akhirnya menyulap satu rumahnya yang tak terpakai menjadi tempat isolasi terkendali bagi warga kelurahan. Rumah itu berlokasi di Jalan Panjang Arteri Nomor 57, RT 06/RW 04, Kelurahan Sukabumi Utara. Rumah isolasi terkendali itu terdiri atas empat kamar dengan kapasitas maksimal 20 pasien. “Setelah dicek petugas puskesmas, rumah saya itu layak jadi tempat isolasi,” ujar dia.

Pada akhir pekan lalu, ada tiga pasien yang dirawat di sana. Tiga hari sekali, petugas puskesmas datang mengecek kondisi pasien. Lantaran layanan diberikan secara cuma-cuma, pembiayaan rumah isolasi itu ditanggung secara kolektif. Handaya yakin, sebagaimana virus, niat baik untuk membantu sesama akan menular.

“Ada banyak sumbangan dari warga. Ada yang memberikan bantuan dalam bentuk uang, makanan mentah, ataupun makanan yang sudah dimasak. Karena satu niat baik, niat baik lainnya muncul,” kata dia.

Nasib tetangga Handaya yang meninggal tanpa mendapat perawatan itu sebenarnya bak fenomena puncak gunung es. Sebab, banyak warga Jakarta lainnya yang bernasib serupa. LaporCovid-19 mencatat, total kematian saat isoman dan di luar rumah sakit hingga 27 Juli 2021 mencapai 2.705 kasus di 17 provinsi. Jumlah kematian tertinggi terdapat di DKI Jakarta dengan 1.218 kasus.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by LaporCovid-19 (laporcovid19)

Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengakui bahwa makin banyak warga terinfeksi Covid-19 yang meninggal saat isoman. Untuk mengatasinya, ia meminta semua pasien isoman atau keluarganya melapor ke pihak RT.

Sebagai solusinya, semua warga yang sedang isoman kini sudah dikoordinasikan dengan petugas RT, lurah, dan puskemas tempat tinggalnya. Petugas juga sudah memasang tanda di depan rumah warga yang sedang isoman.

Sebagai ketua RT, Handaya sudah melakukan anjuran pemerintah. Kini, Handaya berharap wilayah lain di Jakarta untuk bisa menyediakan rumah isolasi. Ia berharap tak ada lagi warga Jakarta yang meninggal di rumah tanpa mendapat penanganan medis seperti yang dialami tetangganya itu.


×