Lifter putri Indonesia Windy Cantika Aisah bersiap melakukan angkatan snatch dalam kelas 49 Kg Putri Grup A Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo, Jepang, Sabtu (24/7/2021). Windy Cantika berhasil mempersembahkan medali pertama bagi Ind | ANTARA FOTO/SIGID KURNIAWAN
28 Jul 2021, 10:44 WIB

Penyelenggara Olimpiade Tokyo Tunjukkan Sikap Lawan Isu Seks

Para pesenam Olimpiade dari Jerman sudah mengirim pesan perlawanan terhadap stigma seksualitas dalam olahraga.

TOKYO — Penyiaran dalam Olimpiade Tokyo kali ini telah menetapkan standar tinggi dalam tayangan televisi mereka. Kepada penyiaran Olimpiade Tokyo berusaha untuk membuang stigma seksualitas atlet wanita.

Olimpiade harus mengedepankan daya tarik olahraga, bukan dari sisi seksualitasnya. "Anda tidak akan melihat dalam liputan kami beberapa hal yang telah kami lihat di masa lalu, dengan detail dan close-up pada bagian tubuh," kata Kepala Eksekutif Layanan Penyiaran Olimpiade, Yiannis Exarchos, dikutip dari Japantoday, Selasa (27/7).

Walaupun, Yiannis mengatakan, pengetatan standar penyiaran ini akan sulit dilakukan dengan teknologi mutakhir yang digunakan. Beberapa cabang olahraga seperti voli pantai, senam, renang, dan lari putri selalu identik dengan pakaian terbuka atau seksi.

Bahkan, para pesenam dari Jerman sudah mengirim pesan perlawanan terhadap stigma seksualitas dalam olahraga. Tim Jerman sengaja mengenakan pakaian tertutup sampai menutupi seluruh bagian kaki kecuali bagian telapak. Protes lebih kuat juga telah dilakukan jauh sebelum Olimpiade dimulai.

Terkait

Dalam event voli pantai di Eropa, perempuan Norwegia menolak untuk menggunakan bikini. Mereka bahkan memakai celana pendek yang ketat. Sayang, aksi tersebut membuat tim Norwegia didenda karena dianggap melanggar aturan berpakaian. Komite Olimpiade Internasional tidak mengatur aturan berpakaian untuk individu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by The Olympic Games (olympics)

Karena itu, Layanan Penyiaran Olimpiade Tokyo menggunakan OBS (Open Broadcaster Software) dan mengontrol output siaran dari Tokyo sebelum ditayangkan ke seluruh dunia. "Apa yang kami dapat lakukan adalah memastikan bahwa liputan kami tidak menonjolkan apa yang dikenakan orang dengan cara tertentu," tegas Yiannis.

Untuk mencapai tujuan ini, IOC langsung memperbarui 'Pedoman Penyiaran' untuk mengarahkan semua olahraga Olimpiade dan pemegang hak siar menuju acara yang adil dan kesetaraan gender. Salah satunya adalah jangan terlalu fokus pada penampilan, pakaian, dan bagian tubuh intim. Hal itu dilakukan demi menghormati integritas atlet.

 

Mantan atlet renang Jepang di Olimpiade Atlanta 1996, Naomi Imoto, menyatakan, selama ini, isu gender di Olimpiade benar-benar bias. Ia menilai, banyak penyiaran yang melihat atlet wanita tidak benar-benar murni dari aspek olahraga. "Sebagian besar juga sangat memperhatikan penampilan yang mengatakan mereka cantik atau seksi," kata Imoto yang juga bekerja untuk UNICEF.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Republika Online (republikaonline)

Oleh karena itu, Olimpiade Tokyo dianggap sebagai kesempatan untuk mendorong perubahan dalam masyarakat Jepang dan merangkul keragaman. Imoto berharap, media Jepang dan pejabat olahraga akan berbicara setelah Olimpiade 'tentang standar penyiaran'. "Mereka kuat dan mereka juga cantik, tetapi mereka bukan sekadar wanita, mereka adalah atlet," ujar Imoto.

Pesenam wanita Jerman mengambil sikap menentang seksualitas wanita dalam olahraga mereka dengan mengenakan unitard, alih-alih bikini. Tim yang terdiri atas Sarah Voss, Pauline Schäfer, Elisabeth Seitz, dan Kim Bui mengenakan unitard selama latihan dan pertandingan. Voss mengatakan, dirinya tumbuh sebagai seorang wanita dan cukup sulit untuk membiasakan diri dengan tubuh baru sebagai atlet senam.

"Kami ingin memastikan semua orang merasa nyaman dan kami menunjukkan kepada semua orang bahwa mereka dapat mengenakan apa pun yang mereka inginkan dan terlihat luar biasa, merasa luar biasa, apakah itu dalam triko panjang atau pendek," kata Voss, dikutip dari DW.

Yang menarik dari Olimpiade Tokyo

Ada hal menarik dari gelaran Olimpiade Tokyo 2020 kali ini. Menariknya karena hal itu sebenarnya tidak berkaitan secara langsung dengan aktivitas di lintasan olahraga. Sebaliknya, hal itu sesungguhnya lebih condong menjurus pada sentimen politik identitas secara global bernama Israel.  

Pada era keterbukaan dan kebebasan bersikap, tentunya hal ini bukanlah hal yang harus ditabukan—bahkan sampai harus dicibir. Justru dengan semangat sportivitas olahraga, sikap yang ditunjukkan beberapa atlet dari sejumlah negara itu patut untuk disimak dengan kepala yang dingin.  

Kabar terbaru yang menarik perhatian itu datang dari atlet judo. Keduanya adalah Fethi Nourine, judoka asal Aljazair dan Mohamed Abdalrasool asal Sudan. Keduanya memilih mundur ketika harus berhadapan dengan atlet judo asal Israel, Tohar Butbul.

Penolakan dari dua atlet judo untuk bertanding melawan negara Zionis itu memiliki alasan kuat. Aksi penjajahan dan pendudukan wilayah yang dilakukan Israel kepada Palestina menjadi penyebabnya.

Keputusan Nourine untuk mundur ternyata mendapatkan dukungan dari pelatihnya, Amar Benikhlef. Keduanya mundur karena enggan melawan negara yang telah menjajah bumi Palestina.

 
Kami telah bekerja keras untuk bisa masuk Olimpiade. Namun, masalah Palestina lebih besar dari ini semua
FETHI NOURINE
 

"Kami telah bekerja keras untuk bisa masuk Olimpiade. Namun, masalah Palestina lebih besar dari ini semua," kata Nourine, dikutip dari DW, Senin (26/7).

Sementara, Benikhlef merasa sangat tidak beruntung terhadap hasil undian pertandingan. Padahal timnya sangat menghindari berhadapan dengan atlet Israel. Bukan karena takut, melainkan ia ingin menyampaikan protes atas aksi penjajahan yang sampai kini dilakukan oleh serdadu Israel.

"Kami mendapatkan lawan Israel dan itulah mengapa kami mundur. Kami memilih keputusan yang tepat," kata Benikhlef menegaskan.

Mundurnya Nourine membuat Abdalrasool secara otomatis berhadapan dengan Butbul. Namun, pada saat pertandingan, Abdalrasool tidak kunjung muncul untuk menghadapi Butbul di divisi 73 kilogram. Padahal, sebelumnya Abdalrasool telah mempertimbangkan untuk tampil dalam babak 32 besar Olimpiade Tokyo tersebut.

Dikutip dari Japan Today, Yayasan Judo Internasional tidak segera mengumumkan alasan mengapa Abdalrasool tidak bertanding. Badan olahraga judo itu juga menolak untuk memberikan komentar. Ofisial Olimpiade Sudan juga melakukan hal serupa. Mereka semua memilih bungkam.

Setelah IJF melakukan investigasi, Nourine dan Benikhlef pun dipulangkan dari Olimpiade Tokyo dan diskors. Namun, keduanya merasa keputusan itu sesuai dengan filosofi Federasi Judo Internasional yang telah menerapkan kebijakan antidiskriminasi dan mempromosikan solidaritas.

Selain dua joduka tadi, kejadian serupa juga sempat memberikan polemik pada gelaran Olimpiade Tokyo ini. Atlet dari negara lain, seperti Mesir dan Iran sempat juga menolak bertanding melawan atlet Israel. Saeid Mollaei jadi atlet Iran yang paling disorot. Sikapnya untuk menolak lawan atlet Israel itu ternyata berbuntut panjang. Mollaei dikabarkan sampai harus pindah ke Mongolia.

Ia mengaku takut nyawanya terancam jika kembali ke Iran. Mollaei akhirnya diberikan status pengungsi oleh Jerman dan diizinkan bertanding di Olimpiade Tokyo di bawah bendera Mongolia oleh IOC sejak Maret 2020. Namun, keputusan Mollaei itu justru dikecam oleh Presiden Federasi Judo Iran, Arash Miresmaeili.

Iran memang tidak mengakui hak Israel untuk eksis dan para atletnya diperintahkan untuk menghindari menghadapi oposisi Israel dalam kompetisi internasional.

"Ini bukan suatu kehormatan, melainkan noda malu di dahi Anda yang akan tetap bersama Anda selamanya karena Anda telah berpaling dari cita-cita sistem, di tanah air Anda, dan bangga akan hal itu," kata Arash kepada Mollaei, dikutip dari BBC.


×