Sekjen MUI Amirsyah Tambunan bersama Wakil Ketua Umum MUI Anwar Abbas, Ustaz Adi Hidayat dan Duta Besar Palestina untuk Indonesia Zuhair Al-Shun (dari kiri ke kanan) saat penyerahan donasi untuk Palestina, di Jakarta, Senin (24/5/2021). MUI menjaga kedaul | Republika/Putra M. Akbar
26 Jul 2021, 04:11 WIB

Visi untuk Umat dan Bangsa

MUI menjaga kedaulatan negara melalui mitra strategis bersama pemerintah.

AMIRSYAH TAMBUNAN; Sekjen MUI

Majelis Ulama Indonesia (MUI) adalah lembaga keumatan yang mewadahi ulama, zuama, dan cendekiawan Islam di Indonesia, antara lain, untuk melindungi umat, agama, dan negara. MUI berdiri pada 17 Rajab 1395 Hijriah atau 26 Juli 1975 di Jakarta. 

Salah satu latar belakang lahirnya MUI adalah kesadaran sejarah saat umat dan negara tengah membutuhkan wadah guna mempersatukan organisasi kemasyarakatan (ormas) Islam  untuk melindungi negara. 

Hasil  musyawarah para ulama, cendekiawan, dan zuama, antara lain, meliputi 26 ulama yang mewakili 26 provinsi di Indonesia pada masa itu, 10 ulama dari ormas Islam tingkat pusat, yaitu NU, Muhammadiyah, Syarikat Islam, Perti.

Terkait

Selain itu, Al Washliyah, Math’laul Anwar, GUPPI, PTDI, DMI, dan Al Ittihadiyyah. Empat ulama dari Dinas Rohani Islam, Angkatan Darat, Angkatan Udara, Angkatan Laut, dan Polri serta 13 orang tokoh/cendekiawan perorangan. 

Visi MUI, terciptanya kondisi kehidupan masyarakat, kebangsaan, dan kenegaraan yang baik menuju masyarakat berkualitas demi terwujudnya kejayaan kaum muslimin dalam NKRI.

Perjalanan menjalankan visi MUI kini memasuki tahun ke-46. Dalam milad ini, MUI perlu introspeksi sesuai permasalahan yang dihadapi umat dan bangsa saat ini, dengan tema: "Ulama, Umaro’ dan Umat Bersatu Menanggulangi Covid 19 dan Dampaknya".

 
Masalah umat tak terlepas dari permasalahan bangsa, sebaliknya permasalahan bangsa juga permasalahan umat.
 
 

Untuk mengaktulisasikan visi-misi, MUI konsisten melaksanakan perannya dalam mengembangkan dan mengamalkan ajaran Islam dan menggalang ukhuwah Islamiyah guna persatuan dan kesatuan umat dan bangsa. 

Sedangkan, visi kebangsaan, MUI menjaga kedaulatan negara melalui mitra strategis bersama pemerintah, seperti dilakukan ulama, syuhada yang ikut mendirikan, mengisi, dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia. 

Dalam konteks ini, MUI bersama komponen bangsa lainnya tengah menghadapi permasalahan keumatan dan kebangsaan yang saling terkait. Artinya, masalah umat tak terlepas dari permasalahan bangsa, sebaliknya permasalahan bangsa juga permasalahan umat.

Pertama, pandemi Covid-19 menjadi ancaman dan bahaya nyata bagi kehidupan umat dan bangsa karena nyata telah menelan korban di seluruh dunia dengan jumlah kematian 4.134.015 orang dan khusus di Indonesia 38.325 kasus (20/7).   

Kedua, permasalahan lain sedang dihadapi bangsa, mulai dari korupsi, miskin tuntunan dan keteladanan seperti maraknya narkoba, pornografi, kekerasan terhadap anak, dan anak putus sekolah.

 
Dampak pandemi Covid-19 membuat bangsa ini menghadapi kesenjangan ekonomi.
 
 

Ketiga, dampak pandemi Covid-19 membuat bangsa ini menghadapi kesenjangan ekonomi. Pandemi ini menimbulkan masyarakat miskin baru terutama berada di kelas bawah yang belum berpenghasilan tetap. 

Keempat, permasalahan umat, merasakan kekurangan kader ulama, zuama, cendekiawan yang berkomitmen menggerakkan kepemimpinan umat melalui lembaga dan ormas yang berdampak pada terjadinya berbagai penyimpangan moral anak bangsa.   

Kelima, kurangnya SDM ahli dalam bidangnya untuk melakukan pendampingan guna menangkal kebangkrutan moral sehingga dalam pengamatan penulis di lapangan, hampir seluruh lapas di Indonesia sarat pelaku tindak pidana kriminal umum dan narkoba.

Masalah di atas terjadi karena banyak faktor. Maka, langkah strategis yang dapat dilakukan umat dan bangsa bersama MUI, pertama, MUI memiliki tanggung jawab moral mengawal perjalanan umat Islam dan bangsa Indonesia ke depan.

 
MUI memiliki tanggung jawab moral mengawal perjalanan umat Islam dan bangsa Indonesia ke depan.
 
 

Kedua, para ulama dan khususnya pengurus MUI berkomitmen berbenah diri agar memiliki ilmu pengetahuan dalam berbagai bidang keagamaan dan lainnya  secara mendalam sehingga dapat memberikan solusi dalam mengatasi kemiskinan, baik kemiskinan iman maupun kemiskinan ilmu pengetahuan yang berimplikasi pada kemiskinan struktural dan kultural.

Ketiga, dengan ilmu pengetahuan disertai ketakwaan, MUI menjadi tumpuan harapan umat dan bangsa dalam berbagai bidang kehidupan.

Keempat, MUI meningkatkan peran guna menyelesaikan persoalan internasional, khususnya yang menimpa umat Islam. Setidaknya, memberi masukan ke pemerintah agar meningkatkan keaktifannya menyelesaikan persoalan Palestina, Rohingya, dan lainnya.

Kelima, MUI tengah merumuskan pendidikan karakter bangsa dengan mengintegrasikan materi pendidikan Islam yang ideal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi, demi terbentuknya insan yang memiliki integritas, kapasitas, serta akseptabilitas.

 
MUI tengah merumuskan pendidikan karakter bangsa dengan mengintegrasikan materi pendidikan Islam yang ideal dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi.
 
 

Keenam, selama ini MUI berupaya "mengawal media massa" dengan memonitor dan melakukan bimbingan pada media daring Islam sehingga semakin berkualitas isinya. Jadi, umat dan bangsa terhindar dari berita fitnah, adu-domba, dan hoaks.

Ketujuh, guna meningkatkan kemandirian, MUI  bekerja sama dengan pemerintah dan lembaga sosial keagamaan lainnya menanggulangi Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional untuk kepentingan umat dan bangsa. 

Kedelapan, bersama majelis agama melakukan dialog kebangsaan untuk menjaga kerukunan umat beragama. MUI menyadari, Indonesia terdiri atas berbagai belakang penganut agama, etnis, suku.


×