IKHWANUL KIRAM MASHURI | Daan Yahya | Republika
26 Jul 2021, 04:51 WIB

Bye Bye Paman Sam

Afghanistan kini memiliki peluang besar mencapai stabilitas.

 

OLEH IKHWANUL KIRAM MASHURI

Media di Timur Tengah, terutama berbahasa Arab, menyebut Taliban dengan harakah — Harakah Taliban, bukan jamaah, tanzim, hizb, atau partai, dan seterusnya. Harakah bermakna gerakan, yang berarti dinamis, berkembang, dan terus bergerak.

Pergerakan Taliban atau Harakah Taliban dapat dilihat saat Amerika Serikat dan negara asing lainnya dalam proses menarik semua personel militernya dari Afghanistan, yang tuntas pada akhir Agustus nanti. Mereka bergerak cepat.

Terkait

Kini, Taliban menguasai kembali lebih dari separuh wilayah Afghanistan. Termasuk jalur strategis penghubung antarkota besar dan perbatasan dengan negara tetangga. Selain gerak cepat, mereka juga tangguh.

Ketangguhan dibuktikan ketika mereka menghadapi dua negara adidaya terkuat militernya di dunia: Uni Soviet dan AS. Pada 1979, militer Uni Soviet mengintervensi Afghanistan untuk mendukung pemerintah Presiden Babrak Karmal yang komunis (Marxis-Leninis).

 
Kini, Taliban menguasai kembali lebih dari separuh wilayah Afghanistan. Termasuk jalur strategis penghubung antarkota besar dan perbatasan negara.
 
 

Intervensi ini dihadapi kelompok mujahidin dengan perang di gunung, lembah, dan padang pasir Afghanistan. Setelah 10 tahun, pada 1989 Uni Soviet menarik pasukannya. Perang ini menghabiskan dana sangat besar, bahkan dinilai salah satu faktor bubarnya Uni Soviet pada 1991.

Kemenangan kelompok mujahidin, yang kemudian menamakan diri Taliban, antara lain, didukung AS dan Pakistan. Tujuannya mencegah pengaruh Uni Soviet di Asia Tengah dalam Perang Dingin blok Uni Soviet dan AS.

Pada 1996, Taliban menguasai seluruh Afghanistan dan membentuk pemerintahan di Kabul. Namun, hanya berusia lima tahun. Pada Oktober 2001, militer NATO yang dipimpin AS, menyerang Afghanistan dan menggulingkan pemerintahan Taliban.

Mereka dituduh melindungi pemimpin Alqaidah, Usamah bin Ladin, yang mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York, 11 September 2001. Dalam sebulan serangan, pemimpin Taliban keluar dari Kabul. Namun, Taliban menyusun kekuatan lagi.

Taliban menyerang balik pasukan NATO maupun Pemerintah Afghanistan. Bahkan Presiden AS Donald Trump, pada akhir jabatannya, terpaksa menandatangani kesepakatan dengan Taliban, ‘tanpa melibatkan Afghanistan’. Trump menarik 2.400 personel pasukan AS hingga Agustus 2021, syaratnya Taliban tak menyerang pasukan asing.

AS tampaknya ingin menyingkirkan kutukan hampir 20 tahun, yang menewaskan lebih dari 3.500 tentara AS dan sekutunya, 66 ribu tentara Afghanistan, dan sekitar 47 ribu warga sipil. Perang ini juga membuat lebih dari 2,7 juta warga sipil mengungsi atau jadi imigran.

Perang ini menghabiskan satu triliun dolar di pihak AS. "Seratus persen kami kalah perang," kata veteran perang AS Jason Lilly kepada Reuters, Senin lalu.

 
Sistem pemerintahan yang dipaksakan Barat di Afghanistan gagal mengakar di masyarakat.
 
 

Sistem pemerintahan yang dipaksakan Barat di Afghanistan gagal mengakar di masyarakat. Karena itu, ketika pasukan AS berkemas meninggalkan Afghanistan, boleh jadi masyarakat di sana, terutama orang Taliban, dalam hati mengatakan, "Bye bye Paman Sam…!" Hal sama ketika mereka katakan kepada tentara Uni Soviet.

Lalu, apa yang terjadi ketika pasukan AS pada akhir Agustus nanti tuntas ditarik dari Afghanistan? Ada beberapa kemungkinan. Satu di antaranya, perang saudara. Bisa antara Taliban dan pemerintah yang berkuasa saat ini. Bisa juga antara Taliban dan suku-suku lain.

Ada 14 suku di Afghanistan dan Taliban dari suku Pashtun, sekitar 40 persen. Ada suku Tajuk sekira 25 persen, lalu Hazara dan Uzbek masing-masing 10 persen. Sisanya suku-suku kecil.

Oposisi utama Taliban mungkin di wilayah penyebaran minoritas yang takut dominasi Pashtun, terutama di utara dan tengah negara di mana orang Tajik, Uzbek, dan Hazara tersebar.

Kemungkinan lain, Afghanistan kembali  jadi sarang kelompok radikalis, teroris seperti Alqaidah, ISIS. Apalagi kalau Afghanistan terus dilanda ketidakstabilan. Namun, bukan berarti Taliban tak berpeluang mencapai kekuasaan dengan cara damai.

 
Hanya satu yang menjadi ganjalan: pengakuan komunitas internasional.
 
 

Kondisi sekarang sangat mendukung. Hanya satu yang menjadi ganjalan: pengakuan komunitas internasional. Ini bisa mereka selesaikan melalui partisipasi politik dalam pemerintahan.

Perjanjian dengan Washington memberinya simbol sebagai entitas politik. Bahkan posisi Taliban kini sangat kuat untuk bernegosiasi politik, setelah berhasil menguasai lebih dari setengah wilayah Afghanistan.

Jika partisipasi dalam pemerintahan yang mereka pilih lewat pemilu adil, mereka akan memperoleh kekuasaan dengan legitimasi kuat, baik dari rakyat Afghanistan maupun komunitas internasional.

Saat itulah, mereka bisa bergabung dengan lembaga internasional, dimulai dari Organisasi Kerja Sama Islam, lalu lembaga lainnya. Bantuan pun akan mengalir untuk membangun kembali Afghanistan yang hancur akibat perang selama beberapa dekade.

Di lain pihak, Pemerintah Afghanistan yang kini dipimpin Presiden Ashraf Ghani, bukannya tidak punya kartu truf, yaitu pengakuan dunia internasional. Ini bermakna guna mendapat dukungan internasional jika Taliban menolak perundingan.

Afghanistan kini memiliki peluang besar mencapai stabilitas. Syaratnya hanya satu, Taliban menyelesaikan segala persoalan di meja perundingan. Sudah bukan saatnya mencari solusi dengan lebih banyak pertumpahan darah.


×