Warga menerjang banjir di jalan di Zhengzhou, Provinsi Henan, Selasa (20/7/2021). | Chinatopix via AP

Internasional

23 Jul 2021, 03:45 WIB

Banjir Cina dan Jerman Bawa Pesan

Bencana membawa pesan perlunya perubahan signifikan untuk menghadapi bencana serupa di masa depan.

BEIJING -- Militer Cina meledakkan sebuah dam atau bendungan untuk melepaskan air yang mengancam Provinsi Henan yang berpenduduk padat. Peledakan dam dilakukan Selasa (20/7) malam, di Kota Luoyang, Henan.

Saat berita ini ditulis, sekurangnya 25 orang meninggal terdampak banjir ini. Banjir menggenangi Ibu Kota Henan, yaitu Zhengzhou. Warga terjebak dalam sistem kereta bawah tanah yang direndam banjir. Banjir juga menahan warga lain di kediaman, sekolah, dan kantor mereka tanpa bisa keluar.

Sekurangnya 10 rangkaian kereta yang mengangkut sekitar 10 ribu penumpang tertahan. Majalah bisnis Caixin menyebutkan, tiga rangkaian kereta itu bahkan tertahan hingga lebih dari 40 jam.

Sebuah video yang diunggah di Twitter oleh The Paper menunjukkan, penumpang dalam kereta bawah tanah berdiri dengan keadaan terendam air berlumpur hingga sebatas dada. Air mendadak masuk ke terowongan kereta bawah tanah.

Listrik yang padam menghentikan mesin ventilator di rumah sakit bernama First Affiliated Hospital, milik Zhengzhou University. Staf rumah sakit terpaksa menggunakan kantong udara yang dipompa tangan untuk membantu pasien bernapas. Sekitar 600 pasien dialihkan ke rumah sakit lain.

Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres pada Rabu (21/7) mengirim surat kepada Presiden Cina Xi Jinping. Guterres menyampaikan belasungkawa yang tulus atas hilangnya nyawa dan kerusakan yang tragis.

Banjir mematikan juga terjadi di Jerman dan Belgia. Sebanyak 160 orang di Jerman dan 31 orang di Belgia tewas dalam banjir. Ini menjadi pengingat yang kejam bahwa perubahan iklim mendorong cuaca ekstrem di berbagai belahan bumi.

Pakar mengatakan, bencana alam ini membawa pesan perlunya perubahan signifikan yang harus dilakukan untuk menghadapi bencana serupa di masa depan. "Pemerintah harus menyadari infrastruktur yang mereka bangun di masa lalu atau bahkan sekarang, rentan terhadap peristiwa cuaca ekstrem," kata profesor di Lee Kuan Yew School of Public Policy Eduardo Araral, Kamis (22/7).

photo
Foto udara yang dilansir kantor berita Xinhua menunjukkan petugas pemadam kebakaran berupaya menyedot air dari jalan underpass di Zhengzhou, Henan, Rabu (21/7/2021). - (Ma Xiaoran/Xinhua via AP)

Penelitian yang dirilis di jurnal ilmiah Geophysical Research Letters pada 30 Juni lalu mengungkapkan, tampaknya perubahan iklim meningkatkan jumlah badai besar dan bergerak pelan di Eropa. Badai tersebut bertahan lebih lama di suatu wilayah dan menyebabkan banjir yang terlihat di Jerman dan Belgia.

Perubahan iklim mengakibatkan atmosfer menghangat sehingga dapat menahan kelembaman lebih lama. Artinya, ketika hujan awan pecah maka lebih banyak air hujan yang diturunkan. Berdasarkan simulasi komputer para peneliti memprediksi pada akhir abad ini badai akan 14 kali lebih sering terjadi.

Walaupun banjir yang terjadi di barat dan selatan Jerman terjadi ribuan kilometer dari Henan, tapi kedua bencana itu dapat memperlihatkan rentannya daerah padat penduduk pada bencana banjir dan bencana alam lainnya.

"Anda membutuhkan perhitungan teknis, memperkuat tanggul dan penghalang banjir, kami juga harus mengubah ulang tata kota," kata pakar dari Potsdam Institute for Climate Impact Research Fred Hattermann.

Ia mengatakan, fokus pada 'langkah-langkah penghijau' harus ditingkatkan. Semisal membangun polder untuk mencegah air bergerak terlalu cepat. Polder adalah sebidang tanah rendah, dikelilingi tanggul, sehingga tidak ada kontak air dari daerah luar selain yang dialirkan melalui perangkat manual.

"Namun ketika terjadi hujan yang benar-benar lebat, semua itu tidak akan membantu, sehingga kami perlu belajar hidup dengan itu," katanya.

Kebijakan seperti memperkuat tanggul, membangun rumah, jalanan, dan infrastruktur kota yang tahan perubahan iklim akan memakan biaya miliaran dolar AS. Namun rekaman video orang-orang yang berjuang hidup di dalam subway terendam di Zhengzhou atau tangisan warga kota-kota Jerman di tengah puing rumah mereka menegaskan uang tidak berarti.

"Ini mengejutkan dan harus saya katakan, menakutkan, seperti kota hantu, tidak ada siapa-siapa, hanya puing-puing dan tidak dapat dibayangkan ini terjadi di Jerman," kata sopir Palang Merah John Butschkowski yang terlibat proses penyelamatan di Jerman.

Ilmuwan perubahan iklim dan cuaca di  Singapore University of Social Sciences, Koh Tieh-Yong, mengatakan harus ada asesmen terhadap sungai dan sistem perairan di wilayah-wilayah rentan pada perubahan iklim, seperti perkotaan dan ladang.

photo
Mobil-mobil hanyut tersapu banjir di Erftstadt, Jerman, Jumat (17/7/2021). - (EPA-EFE/SASCHA STEINBACH)

"Banjir biasanya terjadi akibat dua faktor kombinasi, satu hujan lebih lebat dari biasanya dan dua ketidakcukupan kapasitas sungai untuk memecah air hujan yang terkumpul," katanya.

Bencana di Cina dan Eropa terjadi di periode hujan lebat yang tidak sewajarnya. Jumlah air hujan yang mengguyur Cina selama tiga hari setara dengan hujan yang harusnya turun selama satu tahun.

Setelah mengalami bencana banjir parah dalam beberapa dekade terakhir, pinggir sungai-sungai besar di Jerman, seperti Rhine dan Elbe, sudah diperkuat. Tetapi cuaca ekstrem pekan lalu membuat aliran air di anak sungai seperti Ahr dan Swist menjadi menakutkan.

Para ilmuwan memperkirakan tidak adanya bendungan besar atau tempat evakuasi air yang cukup di kota-kota besar di Cina yang mengubah daya tampung Sungai Kuning. Salah satu faktor yang menyebabkan bencana banjir. 

@republikaonline

Banjir Besar di Cina, Penumpang MRT Nyaris Tenggelam dalam Kereta. ##banjir ##cina ##mrt ##kereta ♬ suara asli - Republika

Sumber : Reuters/Associated Press


×