Pekerja menyelesaikan pembangunan jalur ganda Bogor-Sukabumi di Kota Bogor, Jawa Barat, Senin (7/12/2020). Proyek pembangunan jalur rel ganda kereta api lintas Bogor-Sukabumi sepanjang 26,7 km di target selesai pada Agustus 2021. | Yulius Satria Wijaya/ANTARA FOTO

Bodetabek

Terkait Jalur Ganda, Dewan Minta Pemkot Tegur PT KAI

Kecelakaan kerja terjadi beberapa kali di lokasi proyek jalur ganda Bogor-Sukabumi.

BOGOR – Pembangunan proyek jalur ganda (double track) Bogor-Sukabumi kerap menimbulkan masalah. Kasus terbaru, ekskavator menabrak jalur pipa transimisi air baku 1.000 mililiter milik Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor pada Ahad (18/7). Hal itu menyebabkan sekitar 70 ribu pelanggan air bersih terganggu.

“Menyebabkan hampir seluruh warga Bogor tidak bisa menikmati air bersih dalam beberapa hari,” ujar Wakil Ketua II DPRD Kota Bogor, Dadang Iskandar Danubrata, di Kota Bogor, Jawa Barat, Rabu (21/7).

Dadang mencatat, proyek pemerintah pusat itu beberapa kali mengalami kecelakaan kerja. Di antaranya, tanah longsor di Jalan Raden Saleh, Kelurahan Empang, Kecamatan Bogor Selatan atau di KM 2+225, di Kelurahan Batutulis, Kecamatan Bogor Selatan atau KM 3+100, serta di Kelurahan Batutulis atau KM 3+300. Tiga titik longsor tersebut terjadi dalam sehari dengan waktu berbeda pada April 2021.

Kemudian, kata dia, kecelakaan kerja juga muncul lagi pada awal Juni lalu. Kala itu, alat berat milik kontraktor yang sedang mengangkat beton terguling hingga hampir menimpa rumah warga sekitar. Dadang menyebut, kecelakaan kerja di jalur Intake Ciherang Pondok-IPA Dekeng, merupakan yang paling parah dan berdampak langsung ke masyarakat.

“Saya mencatat sudah beberapa kali terjadi kecelakaan kerja, seperti crane terbalik, longsor, dan banjir di proyek double track. Dan yang sekarang terjadi kebocoran akibat pipa PDAM tertimpa material pengerjaan proyek,” kata politikus PDIP itu.

Dadang menganggap, masalah kecelakaan kerja sebenarnya bisa dihindari, jika kontraktor berhati-hati dalam bertugas. Menurut dia, perusahaan pemenang lelang itu wajib mengetahui titik sarana vital di Kota Bogor. Selain pipa air milik Perumda Tirta Pakuan, sambung dia, terdapat saluran kabel milik PT PLN dan Telkom, serta pipa PGN yang lokasinya berdekatan dengan proyek jalur ganda.

Dia pun menyarankan Pemerintah Kota Bogor membuat surat resmi ke PT Kereta Api Indonesia (KAI) berisi keluhan proyek jalur ganda. Tujuan surat itu, sambung dia, agar PT KAI menegur kontraktor, bahkan mengganti perusahaan jika diperlukan. Pasalnya, kejadian kecelakaan kerja yang merugikan warga Kota Bogor sudah terjadi berkali-kali.

“Sudah waktunya Pemkot Bogor membuat surat resmi, apalagi kalau sampai berulang-ulang untuk menghindari hal yang lebih buruk terjadi lagi,” kata Dadang.

Dia merasa ikut prihatin dengan pelanggan air bersih PDAM yang tidak mendapat pasokan air sama sekali akibat rusaknya pipa. Dadang pun mengingatkan kontraktor agar mengutamakan keselamatan kerja, baik untuk pegawai lapangan, masyarakat, dan lingkungan di sekitar proyek. “Juga untuk fasilitas-fasilitas vital yang kebetulan sudah ada di dalam proyek,” ucap Dadang.

Kepala Humas PT KAI Daop 1 Jakarta, Eva Chairunisa, berjanji untuk menyampaikan keluhan di lapangan kepada pihak terkait. Dia juga menjelaskan, pembangunan jalur ganda menjadi ranah Direktorat Jenderal Perkeretaapian (Kementerian Perhubungan). “Terkait hal tersebut akan kami sampaikan ke satuan kerja terkait ya,” ucap Eva.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Perumda Tirta Pakuan (perumdatirtapakuan)

Belum normal

Direktur Utama Perumda Tirta Pakuan Kota Bogor, Rino Indira Gusniawan, menjelaskan, proses perbaikan pipa yang rusak sudah selesai pada Selasa (20/7). Hanya saja, ia mengakui, proses pengaliran air ke rumah pelanggan masih belum sepenuhnya normal.

Menurut dia, petugas di lapangan harus membuang udara yang terjebak di dalam pipa melalui saluran  pembuangan (wash out) yang tersedia. Oleh karena itu, belum semua pelanggan sudah bisa menikmati layanan air bersih. “Di beberapa tempat pasokan air bersih masih terjadi gangguan,” kata Rino.

Seorang warga Perumahan Menteng Asri di Kecamatan Bogor Barat, Milka (35 tahun), menjelaskan, pasokan air di rumahnya sempat mengalir pada Selasa sekitar pukul 04.00 WIB. Sayangnya, sekitar pukul 06.00 WIB, air kembali mampat. Dia pun resah, sudah empat hari tiga malam, layanan air masih terganggu.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Perumda Tirta Pakuan (perumdatirtapakuan)

“Sekitar Subuh udah mengalir, tapi nggak deras. Sayangnya nggak ada imbauan jadi saya lupa nampung,” kata ibu dua anak ini.

Milka bercerita, ketika ada pemberitahuan gangguan pasokan air bersih pada Ahad, ia menampung air di tabung mesin cuci dan ember yang ada di rumahnya. Karena masih memiliki balita, ia merasa repot di rumahnya tidak mengalir air.

“Saya ngungsi ke rumah orang tua di Mawar, Kelurahan Kebon Kelapa. Di sana pakai sumur alhamdulillah masih ada air. Susah kalau punya balita// mah// kalau nggak ada air, buat bikin susu bersih-bersih,” ujar Milka. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat