Pesawat tempur T-50i Golden Eagle TNI AU melakukan formasi flypast seusai latihan Upacara Peringatan Detik-detik Proklamasi 17 Agustus saat melintasi Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, beberapa waktu lalu. | ANTARA FOTO
22 Jul 2021, 03:45 WIB

Enam Jet T-50 Segera Mendarat

KAI Korsel telah sepakat memasok 16 jet latih T-50 ke Indonesia.

JAKARTA -- Pemerintah Indonesia dikabarkan telah menerima kesepakatan pembelian enam jet latih T-50 buatan perusahaan pertahanan Korea Selatan, Korea Aerospace Industries Co (KAI). Nilai kesepakatan disinyalir mencapai 240 juta dolar AS atau setara Rp 3,4 triliun.

"Berdasarkan kesepakatan itu, KAI akan memasok enam jet latih canggih T-50 ke Angkatan Udara Indonesia pada 16 Desember 2021 hingga 30 Oktober 2024," kata perusahaan itu dalam regulatory filling yang dikutip dari situs Yonhap News Agency, Rabu (21/7).

Pada 2012 lalu, KAI mencapai kesepakatan senilai 400 juta dolar AS dengan pemerintah Indonesia untuk memasok 16 jet latih T-50. Golden Eagle T-50 sudah mendarat sejak akhir 2013 untuk menggantikan pesawat Hawk MK-53. Indonesia kini telah memiki empat elang emas yang bersarang di Skuadron Udara 15, Landasan Udara (Lanud) Iswahjudi.

Menurut laman tersebut, hingga Selasa (20/7), KAI telah mengekspor total 154 jet latih senilai 3,1 miliar dolar AS. Jumlah itu terdiri dari 70 jet latih lanjutan T-50 senilai 2,6 miliar dolar AS dan 84 jet latih dasar KT-1 senilai 700 juta dolar AS ke negara-negara seperti Indonesia, Irak, Thailand, Turki, Peru dan Filipina sejak didirikan pada 1999.

Terkait

Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Udara (Kadispenau) Marsma Indan Gilang Buldansyah menyambut kesepakatan terbaru tersebut. Indan menilai, pesawat itu akan menambah unit yang sudah dimiliki TNI AU. "Menambah yang sudah ada sebelumnya," kata Indan, Rabu (21/7).

photo
Petugas Lanud El Tari Kupang mengarahkan pesawat tempur TNI AU jenis T-50 Skuadron Lanud Iswahjudi untuk masuk ke hanggar Lanud El Tari di Kupang, NTT, Senin (28/1/2019). - (Antara Foto)

Indan mengatakan, pesawat dengan jenis yang sama sebelumnya sudah dioperasikan oleh Skuadron Udara 15 Wing III, Lanud Iswahjudi.  Pesawat baru tersebut nantinya pun akan memperkuat pertahanan di satuan tersebut. "Ini akan menambah kekuatan Skuadron Udara 15," kata Indan.

Kepala Biro Hubungan Masyarakat Sekretariat Jenderal Kemhan, Marsma TNI Penny Radjendra, menjelaskan, proses pengadaan enam unit pesawat jet latih T-50i merupakan kelanjutan kerja sama dengan perusahaan Korea Aerospace Industries (KAI). Kemhan memastikan, proses pengadaan tersebut telah melalui prosedur dan aturan yang berlaku.

"Ini merupakan kontrak pengadaan yang kedua dan kelanjutan kerja sama dengan perusahaan Korea Selatan tersebut," ujar Penny Radjendra, kepada Republika, Rabu (21/7).

Penny menerangkan, Kemhan RI telah melakukan kerja sama dengan KAI sudah cukup lama, yaitu sejak 2014. Kala itu, tepatnya pada awal 2014, Kemhan RI pertama kali menerima 16 unit pesawat latih tempur lead-in fighter training (LIFT) jenis T-50i Golden Eagle itu dari KAI Korea Selatan selaku produsen pesawat.

"Untuk memenuhi permintaan dan kebutuhan TNI AU, pada tahun 2021, Kementerian Pertahanan melanjutkan kerja sama tersebut dengan rencana penambahan enam unit pesawat Tempur T-50i dengan KAI," tegas Penny.

Proses pengadaan enam unit T-50i kali ini dia pastikan telah melalui prosedur dan aturan yang berlaku dengan melibatkan kementerian lembaga terkait. Pengadaan juga dilakukan dengan mengedepankan aspek efisiensi, efektivitas, transparansi, dan akuntabilitas sehingga objektivitas dalam setiap tahapan proses kontrak dapat dipertanggungjawabkan.

"Pengadaan enam unit pesawat T-150i dari KAI Korea Selatan ini juga dilaksanakan dengan tetap memperhatikan optimalisasi pemanfaatan komponen industri dalam negeri untuk mendukung penguatan industri strategis dalam negeri," kata dia.

Pengadaan Pesawat T-50i, ujar Penny, merupakan upaya Kemhan RI untuk memenuhi kebutuhan yang bersifat strategis bagi TNI AU. Kebutuhan strategis yang dimaksud ialah dalam rangka menyiapkan penerbang-penerbang tempur yang andal dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah NKRI dari Sabang sampai Merauke.

Menhan Prabowo Subianto baru-baru ini melawat ke sejumlah negara untuk membahas penguatan kerja sama dan alat utama sistem persenjataan (alutsista) Indonesia. Di antaranya, bertemu dengan Menteri Pertahanan Korsel, Suh Wook, pada pada Kamis (8/4/2021).

Pengamat militer dari Institute for Security and Strategic Studies (Isess) Khairul Fahmi menilai kunjungan Menhan Prabowo kali ini harus berbeda dengan sebelumnya. "Harapan kami, kunjungan ke beberapa negara ini tidak boleh berakhir hanya sekadar menambah panjang 'wishlist' alias daftar wacana belanja," kata dia, April lalu.

Pengembangan

Pesawat T-50 Golden Eagle merupakan pengembangan KAI Korea Selatan bekerja sama dengan perusahaan pertahanan AS, Lockheed Martin. Indonesia melalui PT Dirgantara Indonesia juga bekerja sama dengan KAI pada 2015 untuk memulai produksi pesawat ini.

photo
Pilot TNI AU mendaratkan pesawat tempur T-50i Golden Eagle di atas landasan saat mengikuti latihan bersandi Elang Gesit 2019 di Lanud Iswahjudi, Magetan, Jawa Timur, Selasa (19/3/2019). - (ANTARA FOTO/Siswowidodo)

Menurut laman resmi KAI, Program T-50 awalnya dimaksudkan untuk mengembangkan pesawat latih yang mampu melakukan penerbangan supersonik. Pesawat itu dibuat untuk melatih dan mempersiapkan pilot pesawat KF-16 dan F-15K menggantikan pesawat latih seperti T-38 dan A-37.  

Pesawat tersebut sudah dikembangkan sejak 1990, tapi baru mulai diproduksi massal oleh Korea Selatan pada 2003. Saat ini, pesawat tersebut dipakai sejumlah negara seperti Filipina, Irak, Indonesia, dan Korea Selatan.

Menurut laman Flug-revue.rotor.com, seri pesawat T-50 sangat mirip dengan KF-16 dalam hal konfigurasi. Pengalaman KAI yang sebelumnya memproduksi lisensi KF-16 menjadi titik awal pengembangan T-50.

Spesifikasi

Pesawat latih T-50 memiliki tempat duduk untuk dua pilot dalam pengaturan tandem. Jet ini telah diuji untuk menawarkan kanopi dengan perlindungan balistik terhadap benda seberat empat pon yang berdampak pada kecepatan 400 knot. Batas ketinggian T-50 adalah 14,6 ribu meter dan badan pesawat dirancang untuk bertahan selama 8.000 jam layanan.

T-50 dilengkapi tujuh tangki bahan bakar internal dengan kapasitas 2.655 liter. Lima di antaranya berada di badan pesawat dan dua lainnya di sayap. Bahan bakar tambahan 1.710 liter dapat dibawa dalam tiga tangki bahan bakar eksternal.

T-50 menggunakan lisensi mesin turbofan General Electric F404-102 tunggal yang diproduksi oleh Samsung Techwin, ditingkatkan dengan sistem FADEC yang dikembangkan bersama oleh General Electric dan KAI.

Mesin terdiri dari kipas tiga tahap, tujuh pengaturan tahap aksial, dan afterburner. Pesawat ini memiliki kecepatan maksimum Mach 1,5. Mesinnya menghasilkan daya dorong maksimum 78,7 kN (17.700 lbf) dengan afterburner. Mesin F414 dan EJ200 yang lebih bertenaga sebenarnya telah disarankan sebagai mesin baru untuk keluarga T-50. 


×