Menjelahah dunia maya (ilustrasi) | Pexels/Kerde Severin

Inovasi

Ketika Berita Buruk Menjadi Candu

Imbangi pencarian kita dengan menelusuri informasi yang dapat membangkitkan semangat.

Melalui masa-masa pandemi di tengah kemajuan dunia digital bukanlah hal yang mudah. Karena, meski teknologi digital memberikan alternatif dalam kemudahan beraktivitas, ada pula efek buruk yang dapat ditimbulkan.

Salah satunya, adalah doomscrolling. Kegiatan doomscrolling adalah tindakan menghabiskan terlalu banyak waktu di layar gawai untuk terus-menerus mencari berbagai kabar buruk.

Peningkatan konsumsi berita yang didominasi oleh berita negatif ini, dapat mengakibatkan respons psikofisiologis yang berbahaya pada beberapa orang. Di masa pandemi, kebiasaan yang juga dikenal sebagai doomsurfing ini, berfokus pada aktivitas dalam menelusuri informasi soal total jumlah korban Covid-19.

Termasuk, berbagai kejadian yang dialami oleh pasien Covid-19 dan sejumlah informasi "menyeramkan" lainya. Dilansir dari BBC,  Jumat (16/7), psikolog dari Fordham University, Dean McKay mengatakan, sebagian masyarakat saat ini melakukan doomscrolling karena merasa nyaman dan tenang setelah mendapat informasi-informasi tersebut.

Awalnya, aktivitas ini bermula saat seseorang membutuhkan informasi soal kejadian tertentu. Tapi kemudian, aktivitas yang terkadang dilakukan sesaat sebelum tidur itu berlanjut hingga larut malam karena terjebak oleh siklus berita yang tak pernah berakhir.

Senada, Direktur Media Psychology Research Center, Pamela Rutledge mengatakan, doomscrolling timbul dari dorongan untuk mencoba mendapat jawaban atas suatu hal yang ditakuti. "Ini adalah langkah dalam menentukan apakah informasi baru itu merupakan sebuah ancaman. Secara biologis, kita memang terdorong untuk memperhatikan hal tersebut," ujarnya.

Kebiasaan ini juga didorong oleh judul berita dan cerita yang provokatif, sehingga pembaca jadi tertarik oleh rasa ketakutan dan urgensi. Masyarakat kemudian tertarik untuk mengetahui informasi itu dengan harapan dapat menyikapinya dengan langkah preventif dalam melindungi diri dan keluarga.

Berdiet Informasi

photo
Doomscrolling (ilustrasi) - (Pexels/CottonBro)

Sayangnya, aktivitas ini kemudian terus melebar dan menambah screentime para pengguna smartphone. Biasanya, karena penelusuran tak hanya berhenti dengan hanya membaca satu atau berita.

Terkadang masyarakat juga menyempatkan diri untuk membaca kolom komentar terkait berita tersebut. McKay menilai, lewat kolom komentar, biasanya pembaca ingin mengetahui apakah perasaanya usai membaca berita juga dirasakan oleh pembaca lainya.

“Lewat kolom komentar, pembaca ingin mengetahui apa rasa emosionalnya telah terwakilkan, entah itu soal keputusasaan, kemarahan atau respons lainya,” katanya.

Oleh karena itu, McKay menilai, doomscrolling bisa disikapi sebagai sikap waspada dan bisa jadi cara untuk pengumpulan informasi dan penentuan strategi dalam kondisi tertentu. Tapi, jika pembaca terus terjebak untuk melakukan hal ini secara berlebihan, maka perilaku ini mirip dengan generalised anxiety disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum.

Artinya, doomscrolling yang berlebihan bisa mempengaruhi psikologi dan kinerja otak karena menimbukan ketegangan otot, kelelahan dan depresi. Bagi yang sudah kecanduan doomscrolling dan ingin menghentikanya, Rutledge menilai, kesadaran akan bahanya melakukan doomscrolling, bisa merupakan salah satu cara yang paling efektif.

Sederhananya, cara ini sama seperti cara yang dilakukan oleh seseorang yang tengah diet dan membuat catatan makanan atau food logs. Karena, seseorang yang tengah menjalani diet akan menentukan porsi dan jenis makanan yang dikonsumsi dalam sehari.

Strategi ini juga bisa dilakukan untuk mengurangi kebiasaan doomscrolling. "Catat berapa durasi doomscrolling yang selama ini dilakukan. Kemudian, ambil langkah untuk mengubahnya," kata dia.

Ruthledge juga menyarankan untuk melakukan pengaturan waktu penggunaan smartphone dan menentukan kapan waktunya untuk berhenti menggunakan gawai. Beberapa gawai pun telah dilengkapi dengan screen time monitoring untuk membantu melakukan hal ini.

Selain itu, dampak negatif dari doomscrolling juga bisa ditekan dengan melakukan hopescrolling atau menggali informasi positif dan menyenangkan. Dalam konteks pandemi, kebiasaan doomscrolling bisa diimbangi dengan mendalami informasi positif seperti soal pasien yang sembuh dan vaksin yang dapat menekan penyebaran Covid-19.

Jika perlu, blok atau mute beberapa akun media sosial yang terlalu sering membagikan informasi negatif. Dengan begitu, setiap membuka media sosial, maka pengguna akan lebih banyak menikmati konten-konten positif dan menimbulkan perasaan yang lebih baik saat tengah berselancar di dunia maya. 

 

 

Pandemi Covid-19 telah mengubah cara kita hidup dan bekerja secara dramatis, dengan individu menghabiskan rata-rata 4,2 jam per hari di smartphone.

KELLY MCCAIN, Pemimpin proyek untuk Membentuk Masa Depan Kesehatan dan Perawatan Kesehatan di Forum Ekonomi Dunia (WEF)

 

Bagaimana Berhenti?

·       Pastikan ketika kita berada di kamar, kita tidak lagi membaca berita atau mencari-cari informasi di gawai. Membaca buku bisa jadi salah satu alternatif yang baik.

·       Susun berbagai rencana yang bisa kita lakukan, sebagai aktivitas pengganti bermain gawai. Ada berbagai kegiatan yang bisa kita lakukan, antara lain membuat kue, menyirami tanaman, atau sekadar belajar keterampilan baru.

·       Lakukan detoksifikasi dari berbagai aplikasi berita yang melakukan push notification agar kita tidak merasa terlalu disodori berbagai informasi secara simultan setiap hari.

·       Tentukan berapa jam dalam satu hari, kita ingin menggunakan perangkat elektronik. Kemudian, pastikan kita konsisten dengan jadwal yang telah ditentukan.

·       Agar tak selalu ingin mengecek gawai, usahakan kita memiliki kebiasaan lain yang bisa kita lakukan bersama orang-orang sekitar yang ada di dunia nyata.

 

Doomscrolling dan Kualitas Hidup

photo
Perbincangan di dunia maya (ilustrasi) - (Pexels/Christian Dina)

Meski baru populer di masa pandemi, tapi kegiatan yang sau ini sebenarnya sudah banyak terjadi jauh sebelum wabah Covid-19 melanda. Dikutip dari weforum.org, Dr Ariane Ling, selaku asisten profesor klinis psikiatri dan psikolog klinis di Pusat Keluarga Militer Steven A Cohen di New York University Langone Health mengungkapkan, selama pandemi ia menyaksikan keputusasaan melanda.

Tetapi, banyak pula perkembangan dan pembelajaran baru di antara para pasien yang ia rawat. “Salah satu pertanyaan yang selalu saya tanyakan adalah, 'Jika Anda tidak menggunakan ponsel Anda, apa yang akan Anda lakukan?' Begitu mereka menyadari berapa banyak waktu yang mereka habiskan untuk ponsel mereka, hal itu akan memicu keinginan untuk belajar hal-hal baru,” ujar Ling.

Menurutnya, tak ada yang salah jika kita ingin terus mengetahui berbagai perkembangan dunia. Luangkan waktu atau beri diri kita izin untuk melakukannya mungkin setengah jam di pagi hari, beberapa waktu di siang hari, dan kemudian di malam hari.

Doomscrolling di malam hari, sebenarnya tidak dianjurkan, karena posisi psikologis biasanya sudah lelah. Hal ini biasa dapat memicu mood yang buruk atau kegelisahan yang berlebihan,” ujar Ling.

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat