ILUSTRASI Seperti dituturkan Muadz bin Jabal, Rasulullah SAW pernah hampir terlambat saat akan mengimami shalat subuh. | DOK EPA Karl-Josef Hildenbrand
18 Jul 2021, 04:41 WIB

Ketika Nabi Hampir Terlambat Subuh

Dalam penuturan itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW sempat datang agak terlambat ke Masjid Nabawi.

OLEH HASANUL RIZQA

Mu’adz bin Jabal merupakan seorang dari kalangan Anshar. Sahabat Nabi Muhammad SAW ini mengikuti baiat pada Perjanjian Aqabah II. Dengan demikian, dirinya termasuk orang-orang bergelar ash-shabiq al-awwalun, ‘golongan yang pertama memeluk Islam'.

Kecerdasannya cukup menonjol di antara generasi sahabat. Sosok berjulukan Abu Abdurrahman ini dikaruniai oleh Allah SWT kemudahan dalam memahami syariat. Mengenai dirinya, Rasulullah SAW bersabda, “Umatku yang paling tahu akan yang halal dan yang haram ialah Mu’adz bin Jabal.”

Mu’adz meriwayatkan sejumlah hadis dari Nabi SAW. Banyak pula kisah yang disandarkan pada keterangan darinya. Salah satunya bercerita tentang sebuah petuah yang pernah disampaikan al-Musthafa kepada kaum Muslimin pada suatu waktu bakda Subuh. Uniknya, dalam penuturan itu disebutkan bahwa Rasulullah SAW sempat datang agak terlambat ke Masjid Nabawi.

Terkait

Berikut adalah cerita yang dimaksud. Pada hari itu, muazin mengumandangkan azan seperti biasa sebagai tanda masuknya waktu Subuh. Kaum Muslimin pun mulai berdatangan ke Masjid Nabawi. Mereka hendak mengikuti shalat berjamaah yang dipimpin Nabi SAW.

Awalnya, para sahabat mengira tidak ada yang aneh pada Subuh itu. Namun, lama kelamaan mereka menyadari bahwa Rasulullah SAW tak kunjung tiba. Keterlambatan itu merupakan hal yang tidak biasa. Bagaimanapun, seluruh jamaah dengan sabar dan tenang menunggu beliau shalallahu ‘alaihi wasallam.

 
Awalnya, para sahabat mengira tidak ada yang aneh pada Subuh itu. Namun, lama kelamaan mereka menyadari bahwa Rasulullah SAW tak kunjung tiba.
 
 

 

Cukup lama juga waktu berlalu untuk menantikan kedatangan Nabi SAW. Hampir saja matahari terbit. Sejurus kemudian, jamaah melihat beliau memasuki masjid dengan bergegas. Langsung saja Rasulullah SAW memosisikan diri sebagai imam.

Shalat Subuh pun dimulai. Kali ini, beliau sengaja memperlekas shalatnya agar tidak masuk akhir waktu. Surah-surah yang dibacanya sesudah al-Fatihah pun pendek-pendek.

Setelah salam, Rasulullah SAW kemudian menghadap ke arah para sahabat. “Tetaplah kalian di tempat masing-masing,” kata beliau.

Maka tidak ada jamaah yang meninggalkan Masjid Nabawi. Sesudah itu, Nabi SAW berkata lagi, “Aku akan menyampaikan kepada kalian, mengapa aku terlambat mengimami shalat Subuh ini.”

“Semalam,” tutur beliau, “aku terbangun, dan kukerjakan shalat. Setelah itu, aku terserang kantuk yang amat berat. Kedua mataku tak kuat untuk tetap terjaga sehingga kutertidur.

Dalam keadaan demikian, tiba-tiba aku merasa berada di hadapan Allah. Dia menyapaku, dan aku membalas salam-Nya. Sesudah itu, Dia berkata, ‘Tahukah engkau apa yang sedang diperbincangkan para malaikat tentang kalian (umat Islam)?’

Aku menjawab, tidak tahu mengenai perbincangan para malaikat. Dia mengulang lagi pertanyaan itu hingga tiga kali. Setiap itu pula, kujawab dengan kata-kata yang sama.

Aku kemudian melihat Dia meletakkan tangan-Nya di antara dua bahuku hingga aku merasakan dingin jari-jari-Nya. Setelah itu, tiba-tiba segalanya tampak jelas dan aku mengetahui jawaban yang Dia tanyakan.

Kemudian, Dia kembali menyapaku dan bertanya dengan pertanyaan yang sama, ‘Apa yang diperbincangkan para malaikat tentang kalian?’

‘Mereka berbincang tentang kafarat, amalan-amalan penghapus dosa,’ jawabku.

‘Apakah kafarat tersebut?’

‘Melangkahkan kaki menuju masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah. Kemudian, tetap berdiam setelah shalat untuk berzikir kepada-Mu. Kemudian, tetap menyempurnakan wudhu walaupun cuaca sedang sulit (sangat dingin atau terik).’

‘Apakah ada lagi hal lain yang dibicarakan para malaikat tentang umat Islam?’ tanyaku lagi.

‘Tentang amalan yang bisa mengangkat derajat manusia.’

‘Amalan apa sajakah itu?’ tanyaku kemudian.

‘Menyantuni orang miskin, berkata dengan lemah lembut kepada orang lain, dan mengerjakan shalat malam saat kebanyakan orang sedang terlelap.’

Allah Ta’ala kemudian menyuruhku, ‘Mintalah kepada-Ku!’, maka aku pun berdoa, ‘Allahumma inni as`aluka fi’la al-khairat watarka al-munkarat, wahubba al-masakin, wa antaghfiralii watarhamnii, wa idza aradta fitnatan biqaumin fatawaffanii ghaira maftunin, wa as`aluka hubbaka wahubba man yuhibbuka, wahubba ‘amalin yuqarribunii ila hubbika'.”

(Artinya: ‘Ya Allah! Aku mohon kepada Engkau segala perbuatan baik, kekuatan meninggalkan kemungkaran, mencintai orang-orang miskin, dan agar Engkau senantiasa mengampuni dan merahmatiku. Jika Engkau menghendaki suatu cobaan pada suatu kaum, jagalah diriku agar tidak terkena fitnah. Aku memohon Engkau memberikan kemampuan untukku mencintai-Mu, mencintai orang-orang yang mencintai-Mu, serta amal-amal yang mendekatkan diriku pada kecintaan-Mu.’)

Setelah menjelaskan pengalamannya itu, Rasulullah SAW berpesan kepada seluruh sahabatnya, “Ini adalah kebenaran. Maka pelajarilah dan ajarkanlah kepada orang lain!”

Berdasarkan hadis di atas, yang diperoleh dari riwayat Mu’adz bin Jabal, dapat dipetik banyak hikmah. Pertama-tama, Nabi SAW menunjukkan amalan apa saja yang bisa menghapus dosa-dosa. Ketiga perbuatan yang dimaksud ialah berangkat menuju masjid untuk shalat berjamaah, iktikaf sesudah shalat dengan berzikir, dan menjaga wudhu.

Beliau pun memberi tahu tentang amalan-amalan yang dengannya derajat seorang Mukmin diangkat oleh Allah SWT. Ketiga amalan itu adalah menyantuni orang miskin, berinteraksi sosial dengan tutur kata yang baik, dan mendirikan shalat malam atau shalat tahajud saat kebanyakan orang sedang tidur.


×