Prof KH Didin Hafidhuddin | Daan Yahya | Republika
17 Jul 2021, 03:45 WIB

Semangat Berkurban dalam Masa Pandemi

Berkurban berarti mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok.

OLEH PROF KH DIDIN HAFIDHUDDIN 

Pada Sabtu, 17 Juli 2021, bertepatan dengan tanggal 7 Dzulhijjah 1442 H. Beberapa hari lagi kita akan berada pada hari raya Idul Adha 1442 H, hari raya yang besar dan agung, yaitu 10 Dzulhijjah, dengan hari tasyriknya sampai dengan tanggal 13 Dzulhijjah.

Walaupun sekarang kita sedang berada pada puncak-puncaknya pandemi Covid-19 yang, antara lain, ditandai dengan banyaknya saudara-saudara kita yang meninggal dunia dan yang sakit terpapar karena Covid-19 ini, sebagai Muslim, kita tetap harus menyambut hari raya Idul Adha ini dengan rasa syukur kepada Allah SWT sambil terus mengumandangkan kalimat takbir, tahmid, dan tahlil; memuji keagungan dan kebesaran-Nya, dan mensyukuri segala nikmat dan karunia-Nya.

Setelah selesai Shalat Idul Adha (baik yang di rumah maupun yang di masjid), umat Islam yang mampu dianjurkan untuk menyembelih hewan kurban dengan protokol kesehatan yang ketat agar tidak menjadi klaster baru penyebaran Covid-19. Menurut edaran yang berisikan tausiyah MUI Nomor: Kep-1440/DP-MUI/VII/2021 bahwa ibadah kurban adalah jenis ibadah yang memiliki dimensi sosial sehingga perlu dioptimalkan untuk dapat membantu penanggulangan Covid-19 dengan menguatkan imunitas melalui penyediaan gizi bagi masyarakat, terutama yang terdampak Covid-19.

Terkait

Untuk itu, pelaksanaannya harus dipastikan sesuai syariah dan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.

 
Pelaksanaannya harus dipastikan sesuai syariah dan menerapkan protokol kesehatan untuk mencegah terjadinya penularan Covid-19.
 
 

Tentang urgensi dan keutamaan ibadah kurban ini, Rasulullah SAW menyatakan dalam sebuah hadis riwayat Ibn Majah: “Barang siapa mempunyai keleluasaan rezeki untuk berkurban, tapi dia tidak mau berkurban, maka janganlah mendekati mushala (tempa shalat) kami.”

Mengapa ajaran Islam sangat menekankan arti pentingnya untuk memelihara dan menguatkan semangat berkurban? Baik berkurban dalam arti udhiyyah (menyembelih hewan kurban) maupun berkurban dalam pengertian luas, yaitu mendahulukan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan kelompok, apalagi pada saat menghadapi musibah yang sangat dahsyat seperti sekarang ini, yaitu pandemi Covid-19.

Pertama, sebagai bukti dari syukur kita kepada Allah atas segala nikmat yang telah dilimpahkan kepada kita dan bukti kasih sayang kita kepada sesama manusia.  Rasulullah SAW bersabda: “Seutama-utamanya perbuatan setelah iman adalah mencintai sesama manusia.

Kedua, semangat berkurban mendahulukan kepentingan orang lain, apalagi yang sangat menderita, di atas kepentingan sendiri disebut dengan itsar (إتثار) yang merupakan sifat utama para sahabat Nabi (Muhajirin dan Anshar) seperti digambarkan dalam surat al-Hasyr [59] ayat 8-10:

(Juga) bagi para fuqara yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-(Nya) dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar (8) Dan orang-orang yang telah menempati Kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri. Sekalipun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu). Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung (9)

Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: "Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang (10).” (QS al-Hasyr [59]: 8-10).

Dengan semangat tersebut, lahirlah masyarakat yang sangat kuat kesatuan persatuannya, sangat tinggi soliditasnya, saling berbagi, saling menolong satu dengan yang lainnya. Rasulullah SAW bersabda: “Engkau lihat orang-orang mukmin dalam keadaan saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi, seperti satu tubuh. Apabila sala satu anggauta tubuhnya sakit, anggota tubuh lainnya akan merasakan panas dingin (demam).” (HR Bukhari).

Ketiga, semangat berkurban dan semangat berbagi kepada sesama akan mengundang rahmat pertolongan Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS at-Taubah [9] ayat 71 dan 72:

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana (71)

Allah menjanjikan kepada orang-orang yang mukmin lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di Surga `Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar (72).” (QS at-Taubah [9]: 71-72).

Keempat, semangat berbagi kepada yang membutuhkan akan mengikis habis sifat hasad dan dengki kepada sesama. Hasad adalah sifat yang buruk sekaligus sifat yang akan menghancurkan, bahkan menghancurkan amal perbuatan baik yang kita lakukan. Rasulullah SAW bersabda yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah: “Dengki itu bisa menghancurkan kebaikan, sebagaimana api melumat kayu bakar, sedekah itu dapat menghapuskan dosa dan kesalahan, sebagaimana air dapat memadamkan api, shalat itu adalah cahaya orang mukmin, dan puasa adalah perisai dari api neraka.” (HR Ibnu Majah).

Kelima, semangat berbagi dan memberi dari sebagian harta yang kita miliki akan menjaga harta itu sendiri, sekaligus menyembuhkan berbagai penyakit yang diderita. Rasulullah SAW bersabda: “Bersihkanlah hartamu dengan zakat, dan obatilah sakit kalian dengan bersedekah, dan tolaklah olehmu bencana-bencana itu dengan doa." (HR Khatib dari Ibnu Mas’ud).

Sebagaimana sama-sama kita rasakan bahwa musibah pandemi Covid-19 sangat berdampak bukan saja pada masalah kesehatan, melainkan juga masalah ekonomi, masalah pendidikan, masalah agama, dan bahkan juga lifestyle  kita dalam kehidupan.

Dalam bidang ekonomi, kita mengetahui semakin banyak orang yang jatuh menjadi fakir dan miskin, demikian pula semakin banyak orang yang menganggur terkena PHK. Rasulullah SAW telah mengingatkan dalam sabdanya: “Hampir saja kefakiran menyebabkan orang menjadi kufur/kafir//.” Rasulullah juga sering berdoa: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran dan kekufuran.”

 
Kaum Muslimin secara bersama-sama diperintahkan untuk ikut terlibat aktif dalam membantu dan menolong orang-orang yang fakir dan miskin.
 
 

Oleh karena itu, kaum Muslimin secara bersama-sama diperintahkan untuk ikut terlibat aktif dalam membantu dan menolong orang-orang yang fakir dan miskin dan juga orang-orang yang menderita sakit serta orang-orang yang mendapatkan masalah sebagai dampak dari pandemi Covid-19.

Kita tidak boleh berdiam diri dan tidak boleh hanya mementingkan sendiri karena menolong orang-orang yang membutuhkan pertolongan bagian utama dari ajaran Islam dan bagian utama dari keimanan. Allah SWT berfirman dalam QS al-Ma’un [107] ayat 1-7:

Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? (01) Itulah orang yang menghardik anak yatim (02) Dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin (03) Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat (04) (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya (05) Orang-orang yang berbuat riya (06) Dan enggan (menolong dengan) barang berguna (07).” (QS al-Ma’un [107]: 1-7).

Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda: "Wahai Anas, tidak dikatakan beriman kepadaku orang yang tidur kekenyangan, sedangkan tetangganya mengalami kelaparan, dan dia biarkan padahal ia mengetahuinya." (HR ad-Daelamiey dan Thabrani dari Anas).

Semoga Allah SWT selalu menjaga dan memberikan pertolongan kepada kita semuanya, terutama dalam menghadapi musibah yang sangat dahsyat ini. Kita berserah diri hanya kepada Allah, beribadah hanya kepada-Nya, dan memohon pertolongan hanya kepada-Nya.

Wallahu a’lam bi ash-shawab.


×