Eka Supria Atmaja. Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja terpapar Covid-19 dari tamu yang ditemuinya. |

Bodetabek

Selamat Jalan Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja

Bupati Bekasi Eka Supria Atmaja terpapar Covid-19 dari tamu yang ditemuinya.

OLEH UJI SUKMA MEDIANTI 

Nasib malang menimpa almarhum Eka Supria Atmaja (48 tahun). Bupati Bekasi ini wafat saat dirawat di Rumah Sakit (RS) Siloam, Kecamatan Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang, Banten pada Ahad (11/7) sekitar pukul 21.35 WIB. Dia meninggal setelah 10 hari dirawat melawan Covid-19.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bekasi, Sri Enny Mainarti, menerangkan, atasannya tersebut sempat mendapatkan penanganan intensif satu hari pascapositif Covid-19 di RS Mitra Keluarga Jababeka pada Kamis (1/7). Hal itu karena kesehatannya menurun.

Dia melanjutkan, Eka juga tidak mendapat ruang ICU saat mengalami sesak napas pada Jumat (2/7). Pasalnya, ruang perawatan di seluruh RS di Kabupaten Bekasi penuh. Akhirnya, diputuskan almarhum sampai dilarikan ke luar provinsi untuk mendapatkan perawatan di RS Siloam.

"Karena ruang ICU kosong semua di sini. Sementara, beberapa syarat kalau untuk masuk obat-obat itu, harus di ICU tak bisa di ruang rawat biasa," kata Enny ditemui di rumah duka, Desa Waluya, Kecamatan Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat (Jabar), Senin (12/7).

Enny menuturkan, sejatinya peralatan medis di beberapa RS Kabupaten Bekasi semuanya memadai. Hanya saja, kondisi saat itu sudah penuh pasien Covid-19. “Kita coba cari, tapi semua penuh, kan gak mungkin orang yang di ICU kita keluarin dulu. Kan Pak Bupati gak begitu," ujarnya.

Dia menjelaskan, ketika SARS-CoV-2 memasuki tubuh pasien, sel-sel darah putih akan merespons dengan memproduksi sitokin. Menjelang wafat, kata Enny, Eka mengalami serangan jantung kedua. Istri Eka, Holilah, sambung dia, sempat masuk ke ruangan melihat detik-detik terakhir suaminya melawan ajal. "Saat RJP kedua, ibu bupati sudah melihat (kondisinya) ke dalam," jelas Enny.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemkab Bekasi (pemkabbekasi)

Dia menuturkan, sebelum meninggal, Eka sempat mengalami jantung berhenti. Almarhum pun sempat mendapatkan tindakan resusitasi jantung paru (RJP) sebanyak dua kali. Sayangnya, kondisinya semakin memburuh hingga harus mengembuskan napas terakhir.

 

"Memang kondisinya kritis ya. Ahad (11/7) malam pukul  21.25 WIB, serangan kedua di RJP lagi, tapi gagal (dan meninggal)," ucap Enny.

Jenazah Eka pun dimakamkan di pemakaman keluarga yang berada di kediamannya, Kampung Lemah Abang RT 01, RW 04, Desa Waluya, Kecamatan Cikarang Utara sekitar pukul 11.00 WIB. “Beliau dimakamkan di pemakaman keluarga, di kediaman beliau," kata Wakil Ketua DPD Golkar Kabupaten Bekasi, Arif Rahman Hakim, selaku kolega almarhum. Eka merupakan ketua DPD Partai Golkar Kabupaten Bekasi periode 2019-2024.

Pantauan di rumah duka, ratusan personel kepolisian dan Satpol PP berjaga untuk mencegah kerumunan. Kapolres Metro Bekasi, Kombes Hendra Gunawan, menjelaskan, pengamanan dilakukan karena saat ini sedang berlangsung PPKM Darurat.

Dia mengaku, memiliki kenangan baik dengan almarhum. "Kami turut berbela sungkawa sedalam-dalamnya. Almarhum sahabat sekaligus rekan kerja saya. Kami ingin di acara pemakaman beliau tetap dilakukan dengan protokol kesehatan," kata Hendra ditemui di area rumah duka.

Hendra memastikan, hanya pihak keluarga yang diperkenankan untuk berada di rumah duka. Hal itu dilakukan untuk memastikan terlaksananya penerapan protokol kesehatan. “Kita sekat orang-orang yang tidak berkepentingan untuk tidak hadir di acara ini. Jadi yang datang diharapkan hanya keluarga, kita harus paham saat ini PPKM Darurat," katanya.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Pemkab Bekasi (pemkabbekasi)

Terima tamu

Sri Enny Mainarti melanjutkan, hasil tracing menunjukkan, Eka diduga terpapar Covid-19 dari aktivitas menerima tamu di rumahnya. Almarhum selama ini tidak pernah beraktivitas di luar rumah rumah sebelum terpapar virus korona.  "Kalau kegiatan di luar gak ada. Kan mau PPKM (Darurat) juga waktu itu," terang Enny.

Sehingga, lanjut Enny, besar kemungkinan Eka tertular dari keluarganya yang tinggal di luar rumah dan berstatus orang tanpa gejala (OTG). "Kemungkinan lengahnya di tamu keluarga. Misal ada yang datang ke sini besoknya dia ternyata konfirmasi positif. Tamu keluarga OTG kemungkinan. Tracing kita seperti itu," ungkap Enny. 

Gerakan “Literasi Umat” merupakan ikhtiar untuk memudahkan masyarakat mengakses informasi. Gerakan bersama untuk menebarkan informasi yang sehat ke masyarakat luas. Oleh karena informasi yang sehat akan membentuk masyarakat yang sehat.

Donasi Literasi Umat