Ahmad Syafii Maarif | Daan Yahya | Republika
13 Jul 2021, 03:45 WIB

Keluhan Tentang Penanganan Covid-19

Macam-macam keluhan dan kritik terhadap cara penanganan wabah Covid-19.

OLEH AHMAD SYAFII MAARIF

Berbagai keluhan dan kritik kepada pemerintah terhadap cara penanganan wabah Covid-19 disampaikan juga kepada saya. Padahal, saya tidak dalam posisi apa pun untuk menjawab atau menjelaskannya.

Macam-macam keluhan dan kritik itu: krisis oksigen karena berjubelnya pasien terpapar di rumah sakit, pembayaran BPJS yang tidak lancar, dan lain-lain.

Namun, sebagai warga sepuh, saya coba memberi jawaban berikut ini. “Banyak kritik yang dialamatkan kepada pemerintah yang dinilai kurang sigap menangani serangan Covid-19. Kritik itu sah maka pemerintah mesti menyikapinya dengan lapang dada dan jiwa besar. Akui banyak kekurangan dan kelemahan di sana sini.”

Terkait

“Namun, pemerintah telah bekerja keras dengan mengeluarkan dana negara puluhan bahkan ratusan triliun, perlu dihargai akan kesungguhannya melindungi rakyatnya yang sedang menderita dan dalam kesusahan. Jangan ada pikiran negatif ancaman wabah ini akan menjurus kepada krisis politik nasional yang pasti akan sangat berbahaya. Oleh sebab itu, mari kita bahu-membahu sambil berdoa mengibarkan bendera optimisme sekalipun di tengah tantangan berat ini.”

 
Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini
 
 

Saya berusaha menyikapi keluhan dan kritik itu dengan dasar prinsip berimbang dan adil, lalu diteruskan kepada dua menko yang bertanggung jawab dalam melawan pandemi ini. Dalam tempo singkat datanglah jawaban positif via WA dari keduanya.

Tentu semua ini melegakan. Artinya, pemerintah memperhatikan keluhan dan kritik itu. Salah seorang menko bahkan menghubungi saya lagi via telepon, menjelaskan lebih komprehensif tentang penanganan masalah wabah yang mematikan ini.

Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar. Harga obat jadi gila dan rumah sakit cari untung besar. Tentu, tidak semua rumah sakit.

Mereka tidak hirau, perbuatannya itu tunaadab dan tunamoral. Saya menghela napas panjang mendengar penjelasan pahit ini.

Tega-teganya mereka berpesta di atas penderitaan rakyat yang sebagian sudah sulit cari makan, apalagi berobat. Banyak rakyat kecil tidak punya kartu BPJS Kesehatan karena tak mampu membayar iuran bulanan, saking miskinnya.

 
Saya juga diberi tahu kabar buruk adanya pihak rumah sakit dan pedagang obat memanfaatkan situasi sulit dan penuh penderitaan ini untuk meraup untung besar. 
 
 

Namun, ada pula yang berpendapat BPJS haram, tidak syar’i. Entah kiai mana yang memberi fatwa liar ini. Rakyat jadi bingung oleh aneka isu yang ditiupkan orang tak bertanggung jawab.

Heboh berita kematian 63 pasien Covid-19 dalam sehari di sebuah rumah sakit di Yogyakarta, jadi perbincangan luas. Pihak rumah sakit mengatakan, kejadian nahas itu akibat pasokan oksigen yang kurang.

Namun, dari sumber menko, saya mendapat penjelasan, manajemen di rumah sakit tersebut bermasalah. Keterangan serupa datang dari seorang dokter yang lagi ambil program spesialis jantung. Saya tidak tahu persisnya.

Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.

Yang kita sebutkan di atas, raja tega rumah sakit dan pedagang obat yang seenaknya mencari keuntungan dalam kesempitan orang lain. Jika sifat-sifat buruk ini berkelanjutan dan meliputi radius luas, jangan bermimpi bangsa ini punya masa depan cerah.

 
Maka itu, semua pihak harus berimbang dan adil membaca suatu masalah. Tanpa sikap ini, kita bisa terjebak lingkaran setan yang merusak sendi-sendi hubungan sesama kita.
 
 

Siapa yang mau percaya kita, sedangkan kita sendiri biasa bermain lancung dan culas. Namun, kita menghargai keluhan beberapa rumah sakit tertentu disampaikan secara jujur. Contoh di bawah ini patut dicatat dan telah saya teruskan kepada pihak-pihak berwenang.

Ini bunyinya, dengan penyesuaian redaksi kalimat: “Ya buya…lelah sekali. Kami berjuang di garda akhir, tetapi masyarakat semua seolah tidak peduli. Nyawa sudah tidak ada harganya lagi.”

Ini peta di lapangan sebagai keluhan dokter yang pernah memimpin sebuah rumah sakit. Betapa rendah disiplin sebagian rakyat menghadapi wabah. Mereka tak mempertimbangkan berapa ratus dokter dan tenaga kesehatan wafat karena menangani wabah ini.

Mereka tidak peduli. Jika sudah terpapar baru sadar, negara lagi yang harus turun tangan.

Senapas dengan kutipan di atas, Dirut RS PKU Muhammadiyah Gamping, Yogyakarta, Dr Ahmad Faesol, Sp. Rd. menyampaikan pengalaman lapangannya via WA kepada saya, pada 6 Juli 2021 berikut ini.

“Terima kasih Buya Maarif, mudah- mudahan berhasil. Tapi yang urgen saat ini, pasokan oksigen di rumah sakit Buya, ini tiap hari harus senam jantung oksigennya kritis menjelang habis, kasihan pasien-pasien kita, jangan sampai ada tragedi seperti RS Sardjito, Buya, mohon support untuk pemenuhan oksigen, karena seiring peningkatan jumlah pasien Covid di RS, kebutuhan oksigennya meningkat tajam".

Seperti kita dengar, krisis oksigen ini berlaku di banyak rumah sakit. Namun, saat tulisan ini disiapkan, pasokan oksigen itu sudah mulai datang. Memang minggu-minggu awal Juli ini puncak serangan dahsyat Delta yang sangat menakutkan itu.

Akhirnya, menghadapi situasi sangat berat dan sulit ini, semua dimohon selalu berpikir jernih, berimbang, dan adil agar virus salah paham dan saling tuduh tak menjalar ke mana-mana. Sifat-sifat mulia harus diarusutamakan agar kohesi hubungan antarlembaga kesehatan apik dan menyenangkan dalam situasi yang begini mencekam. Semoga! 


×