Raja Yordania Abdullah II berpidato di sidang PBB beberapa waktu lalu. | AP/Richard Drew

Internasional

12 Jul 2021, 03:45 WIB

Abdullah II dan Herzoq Bertelepon

Raja Yordania menyebut pentingnya solusi dua negara untuk Palestina dan Israel.

AMMAN – Raja Yordania Abdullah II menerima panggilan telepon dari Presiden Israel Isaac Herzog pada Sabtu (10/7). Mereka membahas upaya perdamaian Timur Tengah.

Menurut laporan kantor berita Yordania, Petra, pada kesempatan itu, Raja Abdullah II menyorot isu Israel-Palestina. Dia menekankan pentingnya bekerja menuju perdamaian adil dan komprehensif berdasarkan solusi dua negara. Ia mengatakan kepada Herzog bahwa jalan menuju perdamaian abadi di kawasan adalah pembentukan negara Palestina yang merdeka.

Sementara Herzog, yang baru dilantik sebagai presiden pada Rabu (7/7), menekankan pentingnya hubungan strategis Israel-Yordania. “Saya memberi tahu Yang Mulia (Raja Abdullah) bahwa saya bermaksud untuk memperkuat hubungan kami,” katanya lewat akun Twitter pribadinya.

Menurut keterangan yang dirilis kantor Herzog, dia ingin meningkatkan hubungan ekonomi dan pariwisata dengan Yordania. Keterangan tersebut pun mengutip kepuasaan Raja Abdullah karena hubungan diplomatik Israel-Yordania telah kembali ke jalur yang benar.  

Pada Sabtu lalu, kedua negara mengumumkan bahwa Israel akan menjual 50 juta meter kubik air ke Yordania. Kesepakatan penjualan air dengan jumlah sebesar itu belum pernah terjadi sebelumnya. Yordania adalah salah satu negara yang paling kekurangan air di dunia. Para ahli menyebut negara itu bergulat dengan salah satu kekeringan paling parah dalam sejarahnya.

Yordania dan Israel terlibat dalam perang 1948 dan 1967. Dua perang itu berdampak besar terhadap kehidupan warga Palestina dan pendudukan Israel atas wilayah tersebut. Yordania-Israel mencapai perjanjian damai pada 1994.

Bahas bilateral

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan melakukan pertemuan tertutup dengan Palestina Mahmoud Abbas di Paviliun Vahdettin di Istanbul, Sabtu. Direktorat Komunikasi Turki menyatakan pertemuan itu membahas perkembangan regional dan langkah-langkah untuk memperkuat hubungan bilateral.

Erdogan dan Abbas mengadakan pertemuan empat mata yang berlangsung selama satu jam 15 menit. Dikutip dari Anadolu Agency, tidak akan mungkin untuk membangun perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan itu selama kebijakan Israel berlanjut.

Erdogan menegaskan, Turki tidak dan tidak akan tinggal diam terhadap penindasan Israel terhadap Palestina. Dia juga menyuarakan kepuasan atas jalannya hubungan bilateral yang positif dengan Palestina.

Lynk: Ini Kejahatan Perang

Pakar hak asasi manusia (HAM) di PBB,  Michael Lynk, menyerukan agar permukiman Israel di wilayah Palestina yang diduduki diklasifikasikan sebagai kejahatan perang. Pelapor khusus PBB tentang HAM di wilayah pendudukan Palestina ini mendesak masyarakat internasional untuk menuntut pertanggungjawaban atas praktik yang telah lama dianggap ilegal tersebut.

Lynk memberikan laporan terbarunya kepada Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, terkait situasi wilayah Palestina yang diduduki. Lynk mengatakan, permukiman Israel tersebut merupakan pelanggaran mutlak terhadap penanaman pemukim.

"Dalam laporan saya, saya menyimpulkan bahwa permukiman Israel merupakan kejahatan perang,” kata Lynk, dilansir Aljazirah, Ahad (11/7).

Lynk mengatakan, permukiman tersebut melanggar larangan mutlak pada penguasa pendudukan pendudukan yang memindahkan sebagian penduduk sipilnya ke wilayah pendudukan. Maka permukiman itu memenuhi definisi kejahatan perang di bawah Statuta Roma yang mendirikan Pengadilan Kriminal Internasional (ICC). 

Sumber : Reuters


×